Hikayat sebagai sumber
sejarah
Salah satu sumber sejarah adalah hikayat atau cerita, sekalipun
harus di pisahkan lebih dahulu mana yang fakta dan mana yang khayal.
Penyaringan isi hikayat untuk menjadi sumber sejarah adalah tugas dari pada
ahli sejarah. Para pengarang hikayat kebiasaan
nya selalu membubuhi hikayatnya itu dengan ramuan-ramuan khayal agar menarik
para pembacanya.
Diantara hikayat-hikayat yang selalu di perhitungkan oleh ahli-ahli
sejarah adalah hikayat raja-raja Pasai, hikayat Aceh, hikayat putro gumbak meuh,
hikayat Malemdagang, hikayat Nun Parisi, hikayat Pocut Muhammad, hikayat Putro
Perkison, dan hikayat Putro Nurul A’la.
Dari hikayat-hikayat tersebut di pelajari dan diteliti untuk menjadi
bahan sejarah.
Penyerangan Sriwijaya
Hikayat menceritakan bahwa setelah angkatan perang dan rakyat perlak
dapat memtahkan penyerangan tentara sriwijaya terhadap kerajaan Islam perlak
dan seluruh wilayh negara telah bebas dari bahaya penjajahan, maka kerajaan Islam
Perlak di bangun kembali.
Sultan Alaidin Makdum Mahmud Syah yang berusaha membangun kembali
kerajaan Islam Perlak dari kehancuran akibat peperangan lama dengan kerajaan Sriwijaya
yang menyerbu, mencurahkan harapan kepada tiga orang anaknya, yaitu Mansur
Syah, Abdullah Syah dan Putri Nur Sa’adah. Ketiga anaknya itu didik dan dilatih
agar mereka menjadi ulama, pemimpin yang sanggup memimpin negaranya.
Setelah sultan Alaidin Makdumsyah meninggal dunia, maka putera
mahkota Mansur Syah diangkat menjadi sultan kerajaan Perlak, sementara adiknya
ditunjuk menjadi putera mahkota atau wakil sultan dan adik puteri dipersuamikan
dengan Pang Angkasah yang telah diangkat menjadi panghlima angkatan perang
kerajaan Islam perlak.
Setelah pada tanggal 2 Rabi’ul awal 470 H. (1076 M), sultan alaidin
Makdum Mansur Syah meninggal dunia, maka adiknya banta Abdullah syah dilantik
menjadi raja denagn gelar Sultan Alaidin Makdum
Abdullah Syah (470-501 H. sama dengan 1078-1108 M.)
Abdullah Syah yang sejk belum menjadi sultan telah memperisterikan
seorang gadis cantik turunan Arab Quraish Bani Alawi yang bernama Syarifah
Azizah, belum mempunyai anak seorang pun, juga setelah beliau menjadi Sultan
Perlak, sekalipun kedua nya hidupnya sangat romantis dalam istana kerajaan.
Degan usaha sultan Abdullah dan di Bantu oleh adik iparnya pang
angkasah, kerjaan Islam Perlak telah terbina kembali, bahkan telah maju dan
lebih baik dari pada sebelum terjadi penyerangan tentara sriwijaya. Sungguhpun
demikian Abdullah syah dan isterinya Syarifah Azizah tetap gelisah karena belum
mempunyai keturunan.
Nazar makbul
Untuk mendapat keturunan, Sultan Abdullah meminta nasehat pada para ulama dan ahli nujum. Mereka
menasehatkan agar sultan Abdullah bernazar untuk mendapat seorang putera dan
akan di mandikan dalam laut, maka tidak berapa lama kemudian tuan puteri Azizah
berbadan dua.
Menurut hikayat, sultan dengan penuh hikmat mengadakan kenduri
selamatan, dalam kenduri dimana hadir para ulama, ahli nujum dan para pembesar
serta para fakir miskin dan anak yatim. Keduri selamatan tersebut membawa duka
cita kepada Sultan Abdullah dan permaisurinya puteri Azizah, karena setelah
para ulama atau ahli nujum melihat dalam kitab, ternyata bahwa putera yang akan
lahir itu, akan ditelan oleh ikan hiu besar waktu memandikannya di laut untuk
melepaskan nazar.
Ikan hiu tersebut akn membawa putera yang akan lahir itu ke seluruh
pulau yang bernama pulau jawa. Selanjutnya kitab menyatakan bahw adiknya yang
akan lahir seorang puteri akan membebasakan abangnya dan akan di bawa kembali
ke Perlak untuk di angakat kembali menjadi sultan.
Demikianlah, setelah cukup bulan, Syarifah Azizah melahirkan seorang
putera di istana Negara yang terletak di
dekat sungai Perlak pada sebuah tanah tinggi yang benama bukit Digeuto,
sehingga kemudian istana itu disebut juga istana Bukit Digeuto. Anak yang baru
lahir itu, setelah didengar pendapat atau nasehat para ulama atau ahli nujum
dinamakan Banta Ahmad Syah.
Adalah wajar kalau hikayat mensifati kalau banta ahmad adalah cantik
rupawan, kulitnya putih kuning, wajah nya membujur telur dihiasi sebuah hidung
mancung dan dua mata laksana bintang timur. Pendeknya cukup menjadi syarat bagi
seorang yang akan menjadi sultan Kerajaan Islam Perlak.
Tenaga Istana
Atas nasehat para menteri kerjaan dan cerdik pandai dalam negeri,
untuk menyelamatkan Banta Ahmad dari terkaman ikan hiu besar, Sultan Abdullah
menyuruh gali sebuah laut buatan dimana nanti akan dimndikan puteranya Banta Ahmad.
Ribuan tenaga rakyat dikerahkan untuk membuat sebuah anak laut yang
menjadi syarat bagi tempaqt mandi putera mahkota dalam melepaskan nazarnya.
Menurut cerita hikayat, bahwa kolam besar atau anak laut itu pajangnya seribu
depa kira-kira 1500 meter dan lebarnya 200 depa kira-kira 300 meter dan airnya
cukup dalam dan galiannya juga cukup dalam untuk mendapatkan mata air sehingga
air dari anak laut itu terpancar sendiri dari perut bumi.
Di sebelah selatan anak laut itu, terdapat sebuah bukit dan di atas
bukit itu dibangun sebuah Meuligoe untuk Banta Ahmad dan adiknya yang akan
lahir kemudian. Bukit itu dinamakan Bukit Meuligoe (bukit istana).
Sesuai dengan yang terbaca dalam kitab oleh ulama atau ahli nujum,
maka dua tahun kemudian setelah lahir banta Ahamad seorang puteri, sesuai
dengan ramalan ahli nujum.Dalam suatu upacara khidmad bayi puteri yang amat
rupawan dinamakaqn Putroe Nurul A‘La. Setelah puteri lahir barulah akan dilepas
nazar abangnya banta Ahmad yaitu akan
dimandikan dalam laut, dalam hal ini
anak laut buatan yang terletak di kaki bukit Meuligoe.
Waktu Banta Ahmad yang sudah bisa berjalan, bahkan cepat berlari,
dibimbing oleh para ulama atau ahli nujum ke telaga besar itu, sebatang pohon
kayu besar tiba-tiba tumbang menghalangi perjlanan banta Ahmad ke arah telaga. Dengan
tumbangnya kayu besar itu, para ulama atau ahli nujum berpendapat bahwa Allah
tidak merelakan pelepasan nazar Banta Ahmad di anak laut, tetapi harus di laut
yang sebenarnya, tidak ada jalan lain, Banta Ahmad harus dimandikan di laut Perlak.
Menurut cerita hikayat bahwa setelah Banta ditelan hiu besar, dan
setelah puteri Nurul A’la menjadi gadis remaja dan merantau mencari abangnya,
maka setelah itu semua, meuligoe yang terletak di atas bukit terjun ke dalam
telaga galian, dan lambat laun telaga galian iu menjadi paya yang luas yang
berisi kembang teratai dan aneka ragam ikan. Anak laut itu terkenal dengan paya
meuligoe (telaga istana). Kampong yang dekat tempat itu, yang terletak sebelah
selatan Bandar Khalifah, sampai sekarang bernama Gampong Paya Meuligoe (kampong
telaga istana).
Banta Ahmad Ditelan Hiu
Upacara pemandian Banta Ahamad di laut akan segera dilakukan, sesuai
dengan ayahandanya sultan Abdullah. Laut Perlak di tempat mana akan dimandikan
banta Ahmad telah dipagar dengan pohon bakau yang dipancang dalam ke dasar pasir
lautan. Jejerannya sangat rapat, sehingga perhitungan para ahli pertahanan
pantai tidak mungkin dilanggar oleh ikan hiu sebesar apapun.
Dengan keyakinan bahwa Banta Ahmad akan selamat dari terkaman ikan
hiu, maka dengan adat istiadat yang lazim, putera mahkota Perlak itu di
mandikan. Tiba-tiba seekor hiu besar, yang entah bagaimana dapat melintas pgar
bakau yang kuat itu, menerkam banta Ahmad dan di telannya sehingga tidak
kelihatan lagi; kemudian dengan melabrak pagar bakau itu ia terus berenang ke
laut lepas sehingga hilang di mata.
Kejadian itu dalam lukisan hikayat sangat indah dan saangat
mengharukan; sedu-sedan memenuhi angkasa kerajan islam perlak. Ayahnya tabah
menghadapi percobaan itu, dengan keyakinan bahwa petunjuk kitab yang dibaca
para ualama atau ahli nujum akan menjadi kenyataan; puteri Nurul A’la akan
membebaskan abangnya setelah dia menjadi gadis remaja.
Tetapi ibunya sangat beduka cita dengan kehilangan putera
tercintanya itu. Duka cita dan rindu-dendam yang melaut itu, kadang-kdang
dicurahkan dalam pantu-pantun waktu dia membuaikan adik Bata Ahmad Puteri Nurul
A’la.
Terdampar di pulau jawa
Menurut cerita
hikayat bahwa setelah tujuh hari dalam pelayaran,maka ikan hiu yang menelan
banta ahmad terdampar di pulau Jawa. Seorang panglima laut menemkan ikan hiu
besar telah mati di pantai. Dia membelah perut ikan hiu dan keluarlah seorang anak yang rupawan. Anak laki-laki itu dibawa
pulang dan diserahklan kepada isterinya ang terkenal dengan nama Nenek Kebayan,
sedangkan panglima laut tersebut bernama Raden Mas Andi Dolang.
Alangkah bahagianya kedua suami istri tersebut, karena mereka tiada
mempunyai seorang anak pun.berita panglima laut mendapat seorang anak tersiar
luas di perkampungan nelayan, dan penduduk itu sangat gembira dengan kedatangan
putera yang masih kecil, karena menurut
kepercayaan mereka bahwa putera yang keluar dalam perut hiu adalah keramat dan
akan membawa bahagia penduduk kampung itu.
Setelah Banta Ahmad berusia 17 tahun, penduduk kampung itu
bersepakat untuk mengngkat bangsawan muda yang tidak dikenal asal usulnya itu
menjadi kepala mereka; mejadi raja kecil diperkampungan nelayan itu. Banta Ahamad sendiri menyadari siapa
dirinya. Cincin hikmat yqang dipakaikan ibunya pada jari manisnya akan
menceritakan kepada Banta Ahmad segala-galanya. Banta Ahmad tidak merasa
bahagia dengan pengangkatan tersebut. Dia masih ingat pada orang tuanya, ayah
dan bundanya dan adiknya puteri Nurul A’la.
Menurut cerita hikayat tersebut, Banta Ahamad terdampar
di pulau Jawa pada pada masa kerajaan Erlangga.
Nurul A’la dan Nur Qadimah
Pada waktu Banta Ahmad berusia 17 tahun dan telah
di angkat menjadi raja kecil di sebuah perkampungan pantai pulau Jawa, adiknya
yang telah berusia 15 tahun mulai mengadakan persiapan untuk mncari jejak
abangnya. Nurul A’la pada waktu itu telah menjadi seorang gadis yang berpengetahuan
luas, hafal Al-Qur’an, pandai berbagai macam ilmu agama dan ilmu hikmat, bahkan
juga pandai ilmu rahasia alam.
Dalam persiapan-persiapan keberangakatannya ke
pulau jawa, puteri Nurul A’la di bantu oleh sepupunya yaitu puteri Nurul
Qadimah. Puteri dari adik ayahnya yang bernama puteri Nur Sa’dah yang bergelar
Sri Kemalaratna. Ia isteri dari pang Angkasah, panglima angkatan perang kerajaan Perlak.
Sebagai mana Nurul A’la, maka Nurul Qadimah juga
mendapat pendidikan di pusat pendidikan Islam (Dayah Cot Kala), sehingga
menjadi pandai dan alim. Setelah segala sesuatu siap sedia, maka dengan sebuah
armada yang terdiri tujuh buah kapal, puteri berangkat ke pulau Jawa dengan
dilepaskan oleh ayah dan bundanya serta rakyat Perlak yang sama-sama membaca
doa selamat.
Perang Berkecamuk
Setelah beberapa hari berlayar, armada sampailah
di perairan kepulauan Jawa. Kedatangannya yang tiba-tiba, menimbulkan
kecurigaan di daratan, sehingga dengan buru-buru Banta Ahmad mempersiapkan
tentaranya untuk menghadapi tentara penyerang.
Terjadilah perang di laut dan di darat, banyak
korban yang jatuh di kedua belah pihak. Puteri ragu, apakah betul yang di
pantai sana adalah pasukan abangnya, sementara Banta Ahmad tidak menyangka sama
sekali bahwa yang di laut sana adalah armada adiknya.
Sebuah surat dikirimkan dengan perantaraan
« bedil hikmat » yang dilakukan puteri Nurul Qaadimah, yang isinya
menyatakan bahwa armada di laut adalah armada Nurul A’la yang mencari abangnya
Banta Ahamad, dan apakah yang di darat itu benar pasukan Banta Ahmad.
Setelah menerima surat
tersebut, Banta Ahmad memberhentikan penyerangan dan dia menyongsong adiknya
dengan perahu kelaut. Terjadilah pertemuan yang sangat mengharukan. Untuk beberapa saat, puteri dan armadanya
tingal di pulau Jawa, sambil menunggu saat yang baik untuk kembali ke Perlak
bersama abangnya yang dicari.
Prabu Tapa mencintai Nurul
Sementara Nurul A’la dan Nur
Qadimah bersyukur dan bersuka ria, Karena telah menjumpai abangnya; sementara
Banta Ahmad sedang mamberi pengertian pada ayah dan ibu angkatnya serta rakyat
di sana agar dia dibolehkan kembali ke Perlak, maka di kaki gunung lawu, di
pedalaman pulau Jawa, seorang pertapa melihat dalam kaca hikmah seorang puteri
yang cantik sekaali sedang beristirahat di pantai. Nama pertapa itu, yaitu
Prabu Tapa yang menurut hikayat adalah turunan raja-raja Majapahit.
Prabu tapa segera jatuh cinta kepada puteri jelita yang dilihat
dalam kaca hikmatnya , yang mungkin dia dating dari negeri kayangan. Malam itu
prabu turun dari lereng gunung Lawu menuju ke pantai dimana puteri yang
menyebabkan dia mabuk kepayang berada.
Alangkah terkejutnya prabu waktu dilihatnya sebuah armada sedang
berlabuh di pantai, dan lebih terkejutnya lagi diketahui bahwa putri jelita
adalah panglima armada itu. Waktu melihat sang Prabu Tapa yang turunan
raja-raja Majapahit, orang-orang jawa di pantai itu bersujut mamberi hormat,
halmana tidak disenangi oleh Nurul A’la.
Setelah terjadi proses yang berliku-liku terjadilah dialog yang
tegang dan kadang-kadang romantis antara prabu dan Puteri Nurul A’la.
Terjadilah perang kata-kata yang indah sakti. Nurul menolak cinta sang prabu,
dengan alasan karena prabu tapa belum masuk Islam. Setelah terjadi pedebatan
yang begitu lama, Prabu Tapa bersedia masuk Islam, Nurul menapih lagi karena ia
tidak cinta pada sang prabu yang telah agak tua itu. Tetapi, sekali ini dengan
alasan bahwa Prabu Tapa harus maminang ia kepada ayah bundanya di Perlak.
Karena demikian adat-istiadat kami kata Nurul A’la pasti.
Syarat ini pun diterima oleh Prabu Tapa dan disepakatilah bahwa
pangeran Prabu Tapa akan berangkat ke Perlak bersama aramada Nurul A’la.
Banta Ahmad Pulang
Setelah beberpa hari berlayar, maka armada berlabuh di pantai
Perlak, dan semua bahteranya di tanbatkan di sana, sementara puteri Nurul
A’la,puteri NurQadimah, Banta Ahmad, Prabu Tapa dan lain-lain anggota turun ke
darat, istirahat di perkampungan nelayan karena besoknya armada Nurul A’la akan
memasuki Sungai Perlak, dimana di pelabuhan Bandar Khalifah akan disambut
dengan upacara Negara dan upacara adat.
“Tuan ku belum boleh meminang kami karma akan di tolak oleh orang
tua kami” demikian ujar putrid Nurul A’la waktu prabu tapa menyatakan bahwa dia
akan meminangnya.
“Tuanku harus belajar ilmu
ilmu islam sampai menjadi alim, dan setelh itu tuan ku baru boleh meminang kami
Syarat terakhir yang di buat putri di terim baik oleh Prabu, dan
kemudian di kuala Perlak dia di kirim ke pusat pendidilan islam dayah cikbrik
mungkin yang di maksud adalah Dayah Cot Kala. Menurut cerita orang tua-tua perelak
kanmpung nelayan di kuala perlak di namakan Kampong Blang bahtera karena
dahulunya di sana
di tambat bahtera-bahtera armada NurulA’la
Penyambuta terhadap kembalinya aramada NurulA’la di Bandar Khalifah sangat
hebat, bermacam upacara kerajaan di adakan.
Setelah tahun 501H (1108) M Sultan Aliadin Makhdum Abdullah Syah
mangkat maka di nobatkan puteranya Banta Ahmad menjadi raja Perlak dengan gelar
Sultan Alaidin Makhdum Ahmad syah (501-527 H =1108-1134 M) Ahmad menjadikan
adiknya Putri NurulA’la menjadi Putri mahkota merangkap jadi wakilnya yang
bertindak sebagai “Wazir”. Makhdum Sulaiman di angkat menjadi khatib (sektaris
kerajaan) ;Syeh Sulaiman Arabi jadi ketua majelis ; Syeh Ismail sebaai mufti
kerajaan ; Putri Nurqadimah menjadi ketua Baitu mal dan perkasa Alamsyah
menjadi panglima angkatan perang
Meurut hikayat bahwa dalam masa pemerintahan kerajaan tersebut telah
mencapai kemajuan yang pesat. Pusat pendidikan yang bernama “dayah “ di dirian dii setiap
pelosok negeri, pertanian meningkat terutama tanaman lada tambah meluas sebagai
bahan ekpor yang terpenting perternakan di kembang luaskan perdagangan sangat
ramai dan Bandar khalifah menjadi pusat kegiatan yang terpenting di selat
malaka kemakmuran dan kesejah traan jadi merata.
Cinta Tidak Berbalas
Sementara Nurul ‘A’la sibuk dengan urusan kepemerintahan, Prabu Tapa
tekun dengan belajar dan cintanya kepada Nurul A’la tambah mendalam, sedangkan
putri jelita yang dicintainya itu hampir-hampir melupakan sang Prabu; mungkin
karena sibuknya dan yang lebih mungkin lagi karena memang putrid tidak
mencintai bangsawan dari kerajaan Majapahit itu.
Setelah sepuluh tahun belajar , Prabu Tapa telah menjadi alim dan
mengetahui berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam; Tauhid, Fiqh, Tasauf,
Filsafat dan berbagai macam ilmu lainnya.
Karena merasa telah memenuhi segala syarat maka beliau akan meminang
putri dengan resmi dan menyebabkan Putri Nurul amat gelisah, surat yang dikirim sang Prabu tidak dibalas.
Namun demikian sang Prabu menunggu dengan sabar.
Putri Nurul A’la yang rupanya telah mempunyai kekasih hati yaitu
seorang dari Peureulak sendiri yang bernama Kamaruzzaman, dia mempersiapkan
segala sesuatu yang diperlukan untuk menghindari kemungkinan Prabu Tapa
menculiknya. Sebuah tempat persembunyian yang sangat rahasia dibangun di sebuah
tempat jauh dipedalaman, yaitu di kaki bukit Dayang-dayang Teupin Tualang
Reubah. Sultan Ahmad yang memihak adiknya, juga telah mengadakan segala
persiapan yang diperlukan untuk menghadapi kemungkinan kalau-kalau Prabu Tapa
akan mengamuk dengan ilmu saktinya yang mengkin sekali akan mendapat bantuan
dari Jawa.
Sebelum terjadi sesuatu pada hari Senin tanggal 12 Muharram 527 H
(1134 M) Sultan Ahmadsyah meninggal dunia. kemangkatan abanganya sangat
menggelisahkan putrid, sehingga dengan diam-diam terpaksa ia melarikan diri
ketempat persembunyiannya di dekat Peunaron (perbatasan Aceh Tengah).
Menghilangnya putri membuat Prabu hilang kesabarannya dan hilang
pula keseimbangan dalam dirinya sehingga mengamuk seperti orang gila yang
kemasukan syaitan, akhirnya ia wafat sebagai akibat dari kengamukannya itu.
Akhirnya berakhir pula kisah cintanya yang tidak berbalas.
Setelah mangkat Sultah Ahmadsyah diangkat menjadi Sultan Peureulak
adalah putranya yang bernama Mahmudsyah II (527-552 H = 1134- 1158 M) kemudian
setelah wafat Prabu Tapa Putri Nurul A’la kembali dari persembunyian dan
kembali ke istana Bandar Khalifah serta mengadakan kembali hubungan dengan
Pangeran Kamaruzzaman yang bertempat tinggal di kota Seumanah Dalam. Selagi cinta kasih semakin
menyubur antara keduanya, Sultan Mahmusyah memberikan tugas kepada Pangeran Kamaruzzaman
untuk menimba ilmu pengetahuan di Mekkah dan Madinah sehingga cinta kasih yang
dibina terputus dan tiga tahun kemudian Putri Nurul A’la meningal dunia dengan
membawa cinta kasihnya kepada Kamaruzzaman ke dalam kubur.
Kesimpulan
Dalam hal ini Prof. Ali Hasymi menganalisa sejarah tersebut, bahwa
mungkin sekali waktu tentra Sriwijaya menyeran Perlak mereka telah menawan
sejumlah orang-orang besar dari kerajaan Perlak dan di bawa lari ke negerinya
Palembang, dan Banta Abdullah diambil oleh pengarang hikayat sebagai perlambang
dari hal tersebut.Nurul a’la menncai abangnya, tetapi sesat keperairan pulau
Jawa. Disana Armadanya berobah menjadi Armada Dakwah dan dapat mengislamkan
sejumlah orang penting di kerajaan majapahit. Prabu Tapa sebagai perlambang
orang penting tersebut. Untuk melanjutkan studinya, orang tersebut berangkat ke
perlak untuk belajar tentang Islam bersama Nurul A’la.
Setelah mendapat ilmu yang cukup mereka kembali lagi ke pulau Jawa,
dan mengembangkan dakwah Islamiyah disana. Di antara keturunan di sana dikenal dengan Wali
Sembilan (wali Songo).
DAFTAR PUSTAKA
Ali Hasymi, masuk dan
perkembangan Islam Di Indonesiai(Kumpulan Prasaran Pada Seminar di Aceh),
al-Ma’arif,1989
Matroji, S. Pd, Sejarah SMP jilid I, Jakarta: Erlangga, 2004
T.H. Thalhas, Tafsir Pasee, Jakarta: Balee Kajian
Tafsir pasee, 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar