PEUGAH YANG NA,. PEUBUET LAGEI NA,. PEUTROEK ATA NA,. BEKNA HABA PEUSUNA,. BEUNA TAINGAT WATEI NA,.

Selasa, 18 Desember 2012

SRIWIJAYA






Hikayat sebagai sumber sejarah
Salah satu sumber sejarah adalah hikayat atau cerita, sekalipun harus di pisahkan lebih dahulu mana yang fakta dan mana yang khayal. Penyaringan isi hikayat untuk menjadi sumber sejarah adalah tugas dari pada ahli sejarah. Para pengarang hikayat kebiasaan nya selalu membubuhi hikayatnya itu dengan ramuan-ramuan khayal agar menarik para pembacanya.
Diantara hikayat-hikayat yang selalu di perhitungkan oleh ahli-ahli sejarah adalah hikayat raja-raja Pasai, hikayat Aceh, hikayat putro gumbak meuh, hikayat Malemdagang, hikayat Nun Parisi, hikayat Pocut Muhammad, hikayat Putro Perkison, dan hikayat Putro Nurul A’la.
Dari hikayat-hikayat tersebut di pelajari dan diteliti untuk menjadi bahan sejarah.

Penyerangan Sriwijaya
Hikayat menceritakan bahwa setelah angkatan perang dan rakyat perlak dapat memtahkan penyerangan tentara sriwijaya terhadap kerajaan Islam perlak dan seluruh wilayh negara telah bebas dari bahaya penjajahan, maka kerajaan Islam Perlak di bangun kembali.
Sultan Alaidin Makdum Mahmud Syah yang berusaha membangun kembali kerajaan Islam Perlak dari kehancuran akibat peperangan lama dengan kerajaan Sriwijaya yang menyerbu, mencurahkan harapan kepada tiga orang anaknya, yaitu Mansur Syah, Abdullah Syah dan Putri Nur Sa’adah. Ketiga anaknya itu didik dan dilatih agar mereka menjadi ulama, pemimpin yang sanggup memimpin negaranya.
Setelah sultan Alaidin Makdumsyah meninggal dunia, maka putera mahkota Mansur Syah diangkat menjadi sultan kerajaan Perlak, sementara adiknya ditunjuk menjadi putera mahkota atau wakil sultan dan adik puteri dipersuamikan dengan Pang Angkasah yang telah diangkat menjadi panghlima angkatan perang kerajaan Islam perlak.
Setelah pada tanggal 2 Rabi’ul awal 470 H. (1076 M), sultan alaidin Makdum Mansur Syah meninggal dunia, maka adiknya banta Abdullah syah dilantik menjadi raja denagn gelar Sultan Alaidin Makdum  Abdullah Syah (470-501 H. sama dengan 1078-1108 M.)
Abdullah Syah yang sejk belum menjadi sultan telah memperisterikan seorang gadis cantik turunan Arab Quraish Bani Alawi yang bernama Syarifah Azizah, belum mempunyai anak seorang pun, juga setelah beliau menjadi Sultan Perlak, sekalipun kedua nya hidupnya sangat romantis dalam istana kerajaan.
Degan usaha sultan Abdullah dan di Bantu oleh adik iparnya pang angkasah, kerjaan Islam Perlak telah terbina kembali, bahkan telah maju dan lebih baik dari pada sebelum terjadi penyerangan tentara sriwijaya. Sungguhpun demikian Abdullah syah dan isterinya Syarifah Azizah tetap gelisah karena belum mempunyai keturunan.

Nazar makbul
Untuk mendapat keturunan, Sultan Abdullah meminta nasehat pada  para ulama dan ahli nujum. Mereka menasehatkan agar sultan Abdullah bernazar untuk mendapat seorang putera dan akan di mandikan dalam laut, maka tidak berapa lama kemudian tuan puteri Azizah berbadan dua.
Menurut hikayat, sultan dengan penuh hikmat mengadakan kenduri selamatan, dalam kenduri dimana hadir para ulama, ahli nujum dan para pembesar serta para fakir miskin dan anak yatim. Keduri selamatan tersebut membawa duka cita kepada Sultan Abdullah dan permaisurinya puteri Azizah, karena setelah para ulama atau ahli nujum melihat dalam kitab, ternyata bahwa putera yang akan lahir itu, akan ditelan oleh ikan hiu besar waktu memandikannya di laut untuk melepaskan nazar.
Ikan hiu tersebut akn membawa putera yang akan lahir itu ke seluruh pulau yang bernama pulau jawa. Selanjutnya kitab menyatakan bahw adiknya yang akan lahir seorang puteri akan membebasakan abangnya dan akan di bawa kembali ke Perlak untuk di angakat kembali menjadi sultan.
Demikianlah, setelah cukup bulan, Syarifah Azizah melahirkan seorang putera di istana Negara yang terletak di  dekat sungai Perlak pada sebuah tanah tinggi yang benama bukit Digeuto, sehingga kemudian istana itu disebut juga istana Bukit Digeuto. Anak yang baru lahir itu, setelah didengar pendapat atau nasehat para ulama atau ahli nujum dinamakan Banta Ahmad Syah.
Adalah wajar kalau hikayat mensifati kalau banta ahmad adalah cantik rupawan, kulitnya putih kuning, wajah nya membujur telur dihiasi sebuah hidung mancung dan dua mata laksana bintang timur. Pendeknya cukup menjadi syarat bagi seorang yang akan menjadi sultan Kerajaan Islam Perlak.




Tenaga Istana
Atas nasehat para menteri kerjaan dan cerdik pandai dalam negeri, untuk menyelamatkan Banta Ahmad dari terkaman ikan hiu besar, Sultan Abdullah menyuruh gali sebuah laut buatan dimana nanti akan dimndikan puteranya Banta Ahmad.
Ribuan tenaga rakyat dikerahkan untuk membuat sebuah anak laut yang menjadi syarat bagi tempaqt mandi putera mahkota dalam melepaskan nazarnya. Menurut cerita hikayat, bahwa kolam besar atau anak laut itu pajangnya seribu depa kira-kira 1500 meter dan lebarnya 200 depa kira-kira 300 meter dan airnya cukup dalam dan galiannya juga cukup dalam untuk mendapatkan mata air sehingga air dari anak laut itu terpancar sendiri dari perut bumi.
Di sebelah selatan anak laut itu, terdapat sebuah bukit dan di atas bukit itu dibangun sebuah Meuligoe untuk Banta Ahmad dan adiknya yang akan lahir kemudian. Bukit itu dinamakan Bukit Meuligoe (bukit istana).
Sesuai dengan yang terbaca dalam kitab oleh ulama atau ahli nujum, maka dua tahun kemudian setelah lahir banta Ahamad seorang puteri, sesuai dengan ramalan ahli nujum.Dalam suatu upacara khidmad bayi puteri yang amat rupawan dinamakaqn Putroe Nurul A‘La. Setelah puteri lahir barulah akan dilepas nazar abangnya banta Ahmad yaitu akan  dimandikan dalam laut, dalam hal ini  anak laut buatan yang terletak di kaki bukit Meuligoe.
Waktu Banta Ahmad yang sudah bisa berjalan, bahkan cepat berlari, dibimbing oleh para ulama atau ahli nujum ke telaga besar itu, sebatang pohon kayu besar tiba-tiba tumbang menghalangi perjlanan banta Ahmad ke arah telaga. Dengan tumbangnya kayu besar itu, para ulama atau ahli nujum berpendapat bahwa Allah tidak merelakan pelepasan nazar Banta Ahmad di anak laut, tetapi harus di laut yang sebenarnya, tidak ada jalan lain, Banta Ahmad harus dimandikan di laut Perlak.
Menurut cerita hikayat bahwa setelah Banta ditelan hiu besar, dan setelah puteri Nurul A’la menjadi gadis remaja dan merantau mencari abangnya, maka setelah itu semua, meuligoe yang terletak di atas bukit terjun ke dalam telaga galian, dan lambat laun telaga galian iu menjadi paya yang luas yang berisi kembang teratai dan aneka ragam ikan. Anak laut itu terkenal dengan paya meuligoe (telaga istana). Kampong yang dekat tempat itu, yang terletak sebelah selatan Bandar Khalifah, sampai sekarang bernama Gampong Paya Meuligoe (kampong telaga istana).

Banta Ahmad Ditelan Hiu
Upacara pemandian Banta Ahamad di laut akan segera dilakukan, sesuai dengan ayahandanya sultan Abdullah. Laut Perlak di tempat mana akan dimandikan banta Ahmad telah dipagar dengan pohon bakau yang dipancang dalam ke dasar pasir lautan. Jejerannya sangat rapat, sehingga perhitungan para ahli pertahanan pantai tidak mungkin dilanggar oleh ikan hiu sebesar apapun.
Dengan keyakinan bahwa Banta Ahmad akan selamat dari terkaman ikan hiu, maka dengan adat istiadat yang lazim, putera mahkota Perlak itu di mandikan. Tiba-tiba seekor hiu besar, yang entah bagaimana dapat melintas pgar bakau yang kuat itu, menerkam banta Ahmad dan di telannya sehingga tidak kelihatan lagi; kemudian dengan melabrak pagar bakau itu ia terus berenang ke laut lepas sehingga hilang di mata.
Kejadian itu dalam lukisan hikayat sangat indah dan saangat mengharukan; sedu-sedan memenuhi angkasa kerajan islam perlak. Ayahnya tabah menghadapi percobaan itu, dengan keyakinan bahwa petunjuk kitab yang dibaca para ualama atau ahli nujum akan menjadi kenyataan; puteri Nurul A’la akan membebaskan abangnya setelah dia menjadi gadis remaja.
Tetapi ibunya sangat beduka cita dengan kehilangan putera tercintanya itu. Duka cita dan rindu-dendam yang melaut itu, kadang-kdang dicurahkan dalam pantu-pantun waktu dia membuaikan adik Bata Ahmad Puteri Nurul A’la.

Terdampar di pulau jawa
 Menurut cerita hikayat bahwa setelah tujuh hari dalam pelayaran,maka ikan hiu yang menelan banta ahmad terdampar di pulau Jawa. Seorang panglima laut menemkan ikan hiu besar telah mati di pantai. Dia membelah perut ikan hiu dan keluarlah seorang  anak yang rupawan. Anak laki-laki itu dibawa pulang dan diserahklan kepada isterinya ang terkenal dengan nama Nenek Kebayan, sedangkan panglima laut tersebut bernama Raden Mas Andi Dolang.
Alangkah bahagianya kedua suami istri tersebut, karena mereka tiada mempunyai seorang anak pun.berita panglima laut mendapat seorang anak tersiar luas di perkampungan nelayan, dan penduduk itu sangat gembira dengan kedatangan putera  yang masih kecil, karena menurut kepercayaan mereka bahwa putera yang keluar dalam perut hiu adalah keramat dan akan membawa bahagia penduduk kampung itu.
Setelah Banta Ahmad berusia 17 tahun, penduduk kampung itu bersepakat untuk mengngkat bangsawan muda yang tidak dikenal asal usulnya itu menjadi kepala mereka; mejadi raja kecil diperkampungan nelayan itu. Banta Ahamad sendiri menyadari siapa dirinya. Cincin hikmat yqang dipakaikan ibunya pada jari manisnya akan menceritakan kepada Banta Ahmad segala-galanya. Banta Ahmad tidak merasa bahagia dengan pengangkatan tersebut. Dia masih ingat pada orang tuanya, ayah dan bundanya dan adiknya puteri Nurul A’la.
Menurut cerita hikayat tersebut, Banta Ahamad terdampar di pulau Jawa pada pada masa kerajaan Erlangga.

Nurul A’la dan Nur Qadimah
Pada waktu Banta Ahmad berusia 17 tahun dan telah di angkat menjadi raja kecil di sebuah perkampungan pantai pulau Jawa, adiknya yang telah berusia 15 tahun mulai mengadakan persiapan untuk mncari jejak abangnya. Nurul A’la pada waktu itu telah menjadi seorang gadis yang berpengetahuan luas, hafal Al-Qur’an, pandai berbagai macam ilmu agama dan ilmu hikmat, bahkan juga pandai ilmu rahasia alam.
Dalam persiapan-persiapan keberangakatannya ke pulau jawa, puteri Nurul A’la di bantu oleh sepupunya yaitu puteri Nurul Qadimah. Puteri dari adik ayahnya yang bernama puteri Nur Sa’dah yang bergelar Sri Kemalaratna. Ia isteri dari pang Angkasah, panglima  angkatan perang kerajaan Perlak.
Sebagai mana Nurul A’la, maka Nurul Qadimah juga mendapat pendidikan di pusat pendidikan Islam (Dayah Cot Kala), sehingga menjadi pandai dan alim. Setelah segala sesuatu siap sedia, maka dengan sebuah armada yang terdiri tujuh buah kapal, puteri berangkat ke pulau Jawa dengan dilepaskan oleh ayah dan bundanya serta rakyat Perlak yang sama-sama membaca doa selamat.


Perang Berkecamuk
Setelah beberapa hari berlayar, armada sampailah di perairan kepulauan Jawa. Kedatangannya yang tiba-tiba, menimbulkan kecurigaan di daratan, sehingga dengan buru-buru Banta Ahmad mempersiapkan tentaranya untuk menghadapi tentara penyerang.
Terjadilah perang di laut dan di darat, banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak. Puteri ragu, apakah betul yang di pantai sana adalah pasukan abangnya, sementara Banta Ahmad tidak menyangka sama sekali bahwa yang di laut sana adalah armada adiknya.
Sebuah surat dikirimkan dengan perantaraan « bedil hikmat » yang dilakukan puteri Nurul Qaadimah, yang isinya menyatakan bahwa armada di laut adalah armada Nurul A’la yang mencari abangnya Banta Ahamad, dan apakah yang di darat itu benar pasukan Banta Ahmad.
Setelah menerima surat tersebut, Banta Ahmad memberhentikan penyerangan dan dia menyongsong adiknya dengan perahu kelaut. Terjadilah pertemuan yang sangat mengharukan.  Untuk beberapa saat, puteri dan armadanya tingal di pulau Jawa, sambil menunggu saat yang baik untuk kembali ke Perlak bersama abangnya yang dicari.

Prabu Tapa mencintai  Nurul
 Sementara Nurul A’la dan Nur Qadimah bersyukur dan bersuka ria, Karena telah menjumpai abangnya; sementara Banta Ahmad sedang mamberi pengertian pada ayah dan ibu angkatnya serta rakyat di sana agar dia dibolehkan kembali ke Perlak, maka di kaki gunung lawu, di pedalaman pulau Jawa, seorang pertapa melihat dalam kaca hikmah seorang puteri yang cantik sekaali sedang beristirahat di pantai. Nama pertapa itu, yaitu Prabu Tapa yang menurut hikayat adalah turunan raja-raja Majapahit.
Prabu tapa segera jatuh cinta kepada puteri jelita yang dilihat dalam kaca hikmatnya , yang mungkin dia dating dari negeri kayangan. Malam itu prabu turun dari lereng gunung Lawu menuju ke pantai dimana puteri yang menyebabkan dia mabuk kepayang berada.
Alangkah terkejutnya prabu waktu dilihatnya sebuah armada sedang berlabuh di pantai, dan lebih terkejutnya lagi diketahui bahwa putri jelita adalah panglima armada itu. Waktu melihat sang Prabu Tapa yang turunan raja-raja Majapahit, orang-orang jawa di pantai itu bersujut mamberi hormat, halmana tidak disenangi oleh Nurul A’la.
Setelah terjadi proses yang berliku-liku terjadilah dialog yang tegang dan kadang-kadang romantis antara prabu dan Puteri Nurul A’la. Terjadilah perang kata-kata yang indah sakti. Nurul menolak cinta sang prabu, dengan alasan karena prabu tapa belum masuk Islam. Setelah terjadi pedebatan yang begitu lama, Prabu Tapa bersedia masuk Islam, Nurul menapih lagi karena ia tidak cinta pada sang prabu yang telah agak tua itu. Tetapi, sekali ini dengan alasan bahwa Prabu Tapa harus maminang ia kepada ayah bundanya di Perlak. Karena demikian adat-istiadat kami kata Nurul A’la pasti.
Syarat ini pun diterima oleh Prabu Tapa dan disepakatilah bahwa pangeran Prabu Tapa akan berangkat ke Perlak bersama aramada Nurul A’la.

Banta Ahmad Pulang
Setelah beberpa hari berlayar, maka armada berlabuh di pantai Perlak, dan semua bahteranya di tanbatkan di sana, sementara puteri Nurul A’la,puteri NurQadimah, Banta Ahmad, Prabu Tapa dan lain-lain anggota turun ke darat, istirahat di perkampungan nelayan karena besoknya armada Nurul A’la akan memasuki Sungai Perlak, dimana di pelabuhan Bandar Khalifah akan disambut dengan upacara Negara dan upacara adat.
“Tuan ku belum boleh meminang kami karma akan di tolak oleh orang tua kami” demikian ujar putrid Nurul A’la waktu prabu tapa menyatakan bahwa dia akan meminangnya.
 “Tuanku harus belajar ilmu ilmu islam sampai menjadi alim, dan setelh itu tuan ku baru boleh meminang kami
Syarat terakhir yang di buat putri di terim baik oleh Prabu, dan kemudian di kuala Perlak dia di kirim ke pusat pendidilan islam dayah cikbrik mungkin yang di maksud adalah Dayah Cot Kala. Menurut cerita orang tua-tua perelak kanmpung nelayan di kuala perlak di namakan Kampong Blang bahtera karena dahulunya di sana di tambat bahtera-bahtera armada NurulA’la
Penyambuta terhadap kembalinya aramada NurulA’la di Bandar Khalifah sangat hebat, bermacam upacara kerajaan di adakan.
Setelah tahun 501H (1108) M Sultan Aliadin Makhdum Abdullah Syah mangkat maka di nobatkan puteranya Banta Ahmad menjadi raja Perlak dengan gelar Sultan Alaidin Makhdum Ahmad syah (501-527 H =1108-1134 M) Ahmad menjadikan adiknya Putri NurulA’la menjadi Putri mahkota merangkap jadi wakilnya yang bertindak sebagai “Wazir”. Makhdum Sulaiman di angkat menjadi khatib (sektaris kerajaan) ;Syeh Sulaiman Arabi jadi ketua majelis ; Syeh Ismail sebaai mufti kerajaan ; Putri Nurqadimah menjadi ketua Baitu mal dan perkasa Alamsyah menjadi panglima angkatan perang
Meurut hikayat bahwa dalam masa pemerintahan kerajaan tersebut telah mencapai kemajuan yang pesat. Pusat pendidikan  yang bernama “dayah “ di dirian dii setiap pelosok negeri, pertanian meningkat terutama tanaman lada tambah meluas sebagai bahan ekpor yang terpenting perternakan di kembang luaskan perdagangan sangat ramai dan Bandar khalifah menjadi pusat kegiatan yang terpenting di selat malaka kemakmuran dan kesejah traan jadi merata.
Cinta Tidak Berbalas
Sementara Nurul ‘A’la sibuk dengan urusan kepemerintahan, Prabu Tapa tekun dengan belajar dan cintanya kepada Nurul A’la tambah mendalam, sedangkan putri jelita yang dicintainya itu hampir-hampir melupakan sang Prabu; mungkin karena sibuknya dan yang lebih mungkin lagi karena memang putrid tidak mencintai bangsawan dari kerajaan Majapahit itu.
Setelah sepuluh tahun belajar , Prabu Tapa telah menjadi alim dan mengetahui berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam; Tauhid, Fiqh, Tasauf, Filsafat dan berbagai macam ilmu lainnya.
Karena merasa telah memenuhi segala syarat maka beliau akan meminang putri dengan resmi dan menyebabkan Putri Nurul amat gelisah, surat yang dikirim sang Prabu tidak dibalas. Namun demikian sang Prabu menunggu dengan sabar.
Putri Nurul A’la yang rupanya telah mempunyai kekasih hati yaitu seorang dari Peureulak sendiri yang bernama Kamaruzzaman, dia mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghindari kemungkinan Prabu Tapa menculiknya. Sebuah tempat persembunyian yang sangat rahasia dibangun di sebuah tempat jauh dipedalaman, yaitu di kaki bukit Dayang-dayang Teupin Tualang Reubah. Sultan Ahmad yang memihak adiknya, juga telah mengadakan segala persiapan yang diperlukan untuk menghadapi kemungkinan kalau-kalau Prabu Tapa akan mengamuk dengan ilmu saktinya yang mengkin sekali akan mendapat bantuan dari Jawa.
Sebelum terjadi sesuatu pada hari Senin tanggal 12 Muharram 527 H (1134 M) Sultan Ahmadsyah meninggal dunia. kemangkatan abanganya sangat menggelisahkan putrid, sehingga dengan diam-diam terpaksa ia melarikan diri ketempat persembunyiannya di dekat Peunaron (perbatasan Aceh Tengah).
Menghilangnya putri membuat Prabu hilang kesabarannya dan hilang pula keseimbangan dalam dirinya sehingga mengamuk seperti orang gila yang kemasukan syaitan, akhirnya ia wafat sebagai akibat dari kengamukannya itu. Akhirnya berakhir pula kisah cintanya yang tidak berbalas.
Setelah mangkat Sultah Ahmadsyah diangkat menjadi Sultan Peureulak adalah putranya yang bernama Mahmudsyah II (527-552 H = 1134- 1158 M) kemudian setelah wafat Prabu Tapa Putri Nurul A’la kembali dari persembunyian dan kembali ke istana Bandar Khalifah serta mengadakan kembali hubungan dengan Pangeran Kamaruzzaman yang bertempat tinggal di kota Seumanah Dalam. Selagi cinta kasih semakin menyubur antara keduanya, Sultan Mahmusyah memberikan tugas kepada Pangeran Kamaruzzaman untuk menimba ilmu pengetahuan di Mekkah dan Madinah sehingga cinta kasih yang dibina terputus dan tiga tahun kemudian Putri Nurul A’la meningal dunia dengan membawa cinta kasihnya kepada Kamaruzzaman ke dalam kubur. 



Kesimpulan
Dalam hal ini Prof. Ali Hasymi menganalisa sejarah tersebut, bahwa mungkin sekali waktu tentra Sriwijaya menyeran Perlak mereka telah menawan sejumlah orang-orang besar dari kerajaan Perlak dan di bawa lari ke negerinya Palembang, dan Banta Abdullah diambil oleh pengarang hikayat sebagai perlambang dari hal tersebut.Nurul a’la menncai abangnya, tetapi sesat keperairan pulau Jawa. Disana Armadanya berobah menjadi Armada Dakwah dan dapat mengislamkan sejumlah orang penting di kerajaan majapahit. Prabu Tapa sebagai perlambang orang penting tersebut. Untuk melanjutkan studinya, orang tersebut berangkat ke perlak untuk belajar tentang Islam bersama Nurul A’la.
Setelah mendapat ilmu yang cukup mereka kembali lagi ke pulau Jawa, dan mengembangkan dakwah Islamiyah disana. Di antara keturunan di sana dikenal dengan Wali Sembilan (wali Songo).















DAFTAR PUSTAKA

Ali Hasymi, masuk dan perkembangan Islam Di Indonesiai(Kumpulan Prasaran Pada Seminar di Aceh), al-Ma’arif,1989
Matroji, S. Pd,  Sejarah SMP jilid I, Jakarta: Erlangga, 2004
T.H. Thalhas, Tafsir Pasee, Jakarta: Balee Kajian Tafsir pasee, 2001

Tidak ada komentar:

Read more: http://www.bloggerafif.com/2011/03/membuat-recent-comment-pada-blog.html#ixzz1M3tmAphZ