Pendidikan Islam: Pengertian Tarbiyah,
Ta'lim dan Ta'dib
Oleh: Bukhari Umar
Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan
bahwa menurut Kamus Bahasa Arab, lafal al-Tarbiyah berasal dan
tiga kata, yaitu:
Pertama: raba yarbu yang
berarti bertambah dan bertumbuh. Makna ini dapat dilihat dan firman
Allah:
َمَا آَتَيْتُمْ ومِنْ رِبًا
لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ
“Dan suatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar
dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi
Allah “. (QS Al-Rum: 39).
Kedua: rabiya yarba dengan
wazan (bentuk) khafiya yakhfa yang berarti: menjadi besar.
Atas dasar makna inilah Ibn aI-’Arabi mengatakan:
فَمَنْ يَكُ سَائِلاً عَنِّى
فَإِنىِّ بِمَكَّةَ مَنْزِلِى وَبِهَا رُبِيْتُ
"Jika orang bertanya tentang diriku, maka Mekah adalah
tempat tinggalku dan di situlah aku dibesarkan".
Ketiga: rabba yarubbu dengan
wazan (bentuk) madda yamuddu yang berarti memperbaiki,
menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara. Makna ini antara lain
ditunjukkan oleh perkataan Hasan bin Tsabit, sebagaimana yang ditulis oleh Ibn
al-Manzhur dalam “lisan al-‘Arab:
وَلاَنْت أَحْسَنُ إِذْ بَذَرْتَ
لَنَا يَوْمَ
الخْرُوُْجُ بِسَاحَةِ الْقَصْرِ
مِنْ ذُرَّيَةِ بَيْضَآءِ
صَافِيَةٍ مِمَّا تَرَبَّبَ جَائِرَةُ
الْبَحْرِ
"Sesungguhnya
ketika engkau tampak pada hari ke luar di halaman istina, engkau lebih baik
daripada sebutir mutiara putih bersih yang dipelihara oleh kumpulan air di
laut’ ".
Kata Ibn al-Manzhur. “Rababtul
amra-arubbuhu rabban wa rababan, berarti aku memperbaiki dan
mengokohkan perkara itu (Al-Nahlawi, 1989: 31).
Kata “tarbiyah” merupakan
masdar dan rabba, yurabbiy, tarbiyat dengan wazan fa‘ala,
yufa‘ilu, taf'ilan”. Kata ini ditemukan dalam Alquran
Surat Al-Isra’/17:24 yang terjemahannya: “Dan rendahkanlah dirimu
terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu
kecil “.
Dalam terjemahan ayat di atas,
kata tarbiyah digunakan untuk mengungkapkan pekerjaan orang
tua yang mengasuh anaknya sewaktu kecil. Pengasuhan itu meliputi pekerjaan:
memberi makanan, minuman. pengobatan, memandikan, menidurkan dan kebutuhan
lainnya sebagai bayi. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih sayang.
Beberapa pengkaji telah menyusun
definisi pendidikan dari ketiga asal kata ini: Imam al-Baidawi (wafat: 685),dalam
tafsirnya “Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta ‘wil “, mengatakan
makna asal al-Rabb adalah al-Tarbiyah yaitu:
menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit hingga sempurna. Kemudian kata itu
dijadikan sifat Allah Swt. sebagaimubalaghah (penekanan).
Dalam buku mufradat, al-Raghib
al-Ashfahani (wafat: 502 H), menyatakan bahwa makna asal al-Rab adalahal-Tarbiyah, yaitu:
memelihara sesuatu sedikit demi sedikit hingga sempurna (Al-Ashfahani,
1992:336).
Dari ketiga asal kata di atas dapat
disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat
unsur:
(1). Menjaga dan memelihara fitrah
anak menjelang balig.
(2). Mengembangkan seluruh potensi
dan kesiapan yang bermacam-macam
(3). Mengarahkan seluruh fitrah dan
potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya.
(4). Proses ini
dilaksanakan secara bertahap.
B. Pengertian Ta'lim
Pengertian ta’lim sebagai
suatu istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan oleh
para ahli, antara lain dapat dilihat sebagai berikut:
(1). Abdul Fatah Jalal mengemukakan
bahwa Ta'lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman.
pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadi
penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri manusia dari segala
kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang
memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala
yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. (Jalal, 1977: 17)
Berdasarkan pengertian ini dipahami
bahwa dari segi peserta didik yang menjadi sasarannya, lingkup term al-ta'lim lebih
universal dibandingkan dengan lingkup term al-tarbiyah karena
al-ta‘lim mencakup fase bayi. anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa.
Sedangkan al-tarbiyah khusus diperuntukan untuk pendidikan dan
pengajaran fase bayi dan anak-anak.
(2). Muhammad Rasyid Rida memberikan
definisi ta'lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu
pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu,
(Rida, 1373 H: 262). Penta’rifan itu herpijak dari firman
Allah Swt. surat Al-Baqarah ayat 31 tentang ‘allama Tuhan
kepada Nabi Adam as. sedangkan proses transmisi itu dilakukan
secara bertahap sebagaimana Nabi Adam menyaksikan dan menganalisis asma yang
diajarkan oleh Allah kepadanya. (Al Atas, 1988: 66).
(3). Syekh Muhammad al-Naquib
al-Attas memberikan makna al-ta'lim dengan pengajaran tanpa
pengenalan secara mendasar. Namun apabila al-ta‘lim disinonimkan
dengan al-tarbiyah, al-ta'lim mempunyai makna pengenalan
tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem, (Alatas, 1988: 66).
Dalam pandangan Naquib, ada konotasi
tertentu yang dapat membedakan antara term al-tarbiyah darial-ta‘lim, yaitu
ruang lingkup al-ta'lim lebih universal daripada ruang
lingkup al-tarbiyah sebab, al-tarbiyah tidak
mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial. Lagi
pula, makna al-tarbiyah lebih spesifik karena ditujukan pada
objek-objek pemilikan yang berkaitan dengan jenis relasional, mengingat
pemilikan yang sebenarnya hanyalah Allah. Akibatnya, sasarannya tidak hanya
berlaku bagi umat manusia tetapi tercakup juga spesies-spesies yang lain.
(4). Muhammad Athiyah al-Abrasy
mengemukakan pengertian al-ta'lim yang berbeda dari pendapat-pendapat
di atas. Beliau menyatakan bahwa al-ta'lim lebih khusus
daripada al-tarbiyah karena al-ta'lim hanya
merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu kepada aspek-aspek tertentu
saja, sedangkan al-tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan.
(Al-Abrasyi, t.th, :7).
Al-ta'lim merupakan
bagian kecil dari al-tarbiyah al-aqliyah yang bertujuan
memperoleh pengetahuan dan keahlian berpikir, yang sifatnya mengacu pada domain
kognitif. Hal ini dapat dipahami dari pemakaian kata‘allama dalam
surat Al-Baqarah, 2:31. Kata ‘allama dikaitkan dengan
kata ‘aradha yang berimplikasikan bahwa proses pengajaran Adam
tersebut pada akhirnya diakhiri dengan tahap evaluasi. Konotasi konteks kalimat
itu mengacu pada evaluasi domain kognitif, yaitu penyebutan nama-nama benda
yang diajarkan, belum pada tingkat domain yang lain. Hal ini memberi isyarat
bahwa al-ta'lim sebagai masdar dari ‘allama hanya
bersifat khusus dibanding dengan al-tarbiyah.
C. Pengertian Ta ‘dib
Muhammad Nadi al-Badri, sebagaimana
dikutip oleh Ramayulis, mengemukakan bahwa pada zaman klasik, orang hanya
mengenal kata ta‘dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan.
Pengertian seperti ini terus terpakai sepanjang masa kejayaan Islam, hingga
semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia waktu itu
disebut adab, baik yang berhubungan langsung dengan Islam
seperti: fiqh, tafsir, tauhid, ilmu bahasa Arab dan sebagainya maupun yang
tidak berhubungan langsung seperti ilmu fisika, filasafat, astronomi,
kedokteran, farmasi dan lain-lain. Semua buku yang memuat ilmu tersebut
dinamai kutub al-adab. Dengan demikian terkenallah al-Adabal-Kabir dan al-Adab
al-Shaghir yang ditulis oleh Ibn al-Muqaffa (w. 760 M). Seorang
pendidik pada waktu itu disebutMu‘addib. (Ramayulis, 1991: 6).
Ta‘dib adalah
pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia
tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan
penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan
pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan
keberadaannya. (Attas: 66). Pengertian ini berdasarkan Hadis Nabi Saw.:
أَدَّبَنِى رَبِّى فَأَحْسَنَ
تَأْدِيْبِى
"Tuhanku telah mendidikku dan telah membaguskan
pendidikanku".
Dalam struktur telaah
konseptualnya, ta‘dib sudah mencakup unsur-unsur
pengetahuan (‘ilm), pengajaran(ta'lim), dan
pengasuhan yang baik (tarbiyah). (Attas: 74-75). Dengan
demikian, ta'dib lebih lengkap sebagai term yang
mendeskripsikan proses pendidikan Islam yang sesungguhnya. Dengan proses ini
diharapkan lahir insan-insan yang memiliki integritas kepribadian yang utuh dan
lengkap.
Daftar Bacaan:
Al-Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-prinsip
dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, Terjemahan
Herry Noor Ali, Judul Asli “Ushul al-Tarbiyat al-Islamiyah wa Asalibuha”,
Bandung: Diponegoro, 1989
Al-Ashfahaniy, Al-Raghib, al-Mufradat
Alfāz al-Qur’ān, Beirut, ad-Dar asy-Syamiyah, tth.
Abd al-Fatah Jalal, Min
al-Ushul al-Tarbawiyyah fi al-Islam, Mesir:
Dar al-Kutub al-Mushriyyah, 1977
Dar al-Kutub al-Mushriyyah, 1977
Rida, Muhammad Rasyid, Tafsir
al-Quran al-Hakim; Tafsir al-Manar, Juz VII, Beirut, Dar al-Fikr, tt.
Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah, al-Tarbiyyah
al-Islāmiyah wa Falāsifatuhā, Mishr: Isa al-Babiy al-halabiy wa
Syurakah, t.th.
Al-Attas, Muhammad
Naquib, Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung: Mizan,
1992
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
Kalam Mulia, 1994
Pengertian
ta’lim, ta’dib, tarbiyah, Tadris dan Tahdzib Ta’lim,
secara
bahasa berarti pengajaran (masdar dari ‘alama-yu’alimu-ta’liman), secara
istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian,
pengetahuan dan ketrampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan
proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga
diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap
menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya (
ketrampilan). Mengacu pada
definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir
hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’ seperti yang
digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78, “dan Allah mengeluarkan dari perut
ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.
At-Ta’lim dalam al-qur’an menggunkan bentuk fi’il (kata kerja) dan isim (kata benda), dalam fi’il madliy disebutkan sebanyak 25 ayat dari 15 surat, Fi’il mudlari 16 kali dalam 8 surat.
Kata-kata at-Ta’lim dalam bentuk fi’l madliy (kata kerja lampau) adalah ‘allama ( ) dengan berbagai variasinya, antara lain:
1. QS. Al-Baqarah : 31
Al-Maraghi menjelaskan kata ‘allama dengan alhamahu (memberi Ilham), maksudnya Allah memberi Ilham kepada Nabi Adam a.s. untuk mengetahui jenis-jenis yang telah diciptakan beserta zat, sifat, dan nama-namanya.
2. Q.S. Ar-Rahman : 1-4
Kata Allama’ mengandung arti memberitahukan, menjelaskan, memberi pemahaman.
3. QS. Al-‘Alaq : 4-5
Ash-Shawi, Al-Maraghi, dan Al-Juzi menafsirkan makna ‘allama, dengan makna memberitahukan atau menyampaikan ilmu menulis dengan kalam, menjadikan kalam sebagai alat untuk saling memahami di antara manusia.
At-Ta’lim dalam al-qur’an menggunkan bentuk fi’il (kata kerja) dan isim (kata benda), dalam fi’il madliy disebutkan sebanyak 25 ayat dari 15 surat, Fi’il mudlari 16 kali dalam 8 surat.
Kata-kata at-Ta’lim dalam bentuk fi’l madliy (kata kerja lampau) adalah ‘allama ( ) dengan berbagai variasinya, antara lain:
1. QS. Al-Baqarah : 31
Al-Maraghi menjelaskan kata ‘allama dengan alhamahu (memberi Ilham), maksudnya Allah memberi Ilham kepada Nabi Adam a.s. untuk mengetahui jenis-jenis yang telah diciptakan beserta zat, sifat, dan nama-namanya.
2. Q.S. Ar-Rahman : 1-4
Kata Allama’ mengandung arti memberitahukan, menjelaskan, memberi pemahaman.
3. QS. Al-‘Alaq : 4-5
Ash-Shawi, Al-Maraghi, dan Al-Juzi menafsirkan makna ‘allama, dengan makna memberitahukan atau menyampaikan ilmu menulis dengan kalam, menjadikan kalam sebagai alat untuk saling memahami di antara manusia.
At-Ta’lim Dalam
Hadits
Menurut Al-Asqalani, kata ta’lim nabi kepada umatnya, lai-laki dan perempuan dengan cara tidak mengunakan pendapatnya dan juga qiyas.
Secara struktur, kata hum dalam hadits menunjukan makna ta’lim bersifat umum,bagi siapa saja dan tingkatan usia.
Menurut Al-Asqalani, kata ta’lim nabi kepada umatnya, lai-laki dan perempuan dengan cara tidak mengunakan pendapatnya dan juga qiyas.
Secara struktur, kata hum dalam hadits menunjukan makna ta’lim bersifat umum,bagi siapa saja dan tingkatan usia.
Ta’dib
merupakan bentuk masdar dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban, yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar.
Menurut Sayed Muhammad An-Nuquib Al-Attas, kata ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan-Nya. Definisi ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah). Oleh sebab itu menurut Sayed An-Nuquib Al Attas, tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sekaligus. Karena ta’dib adalah istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukkan dalam arti Islam.
merupakan bentuk masdar dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban, yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar.
Menurut Sayed Muhammad An-Nuquib Al-Attas, kata ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan-Nya. Definisi ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah). Oleh sebab itu menurut Sayed An-Nuquib Al Attas, tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sekaligus. Karena ta’dib adalah istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukkan dalam arti Islam.
Tarbiyah
merupkan bentuk masdar dari kata robba-yurabbi-tarbiyyatan, yang berarti pendidikan. Sedangkan menurut istilah merupakan tindakan mangasuh, mendididk dan memelihara.
Muhammad Jamaludi al- Qosimi memberikan pengertian bahwa tarbiyah merupakan proses penyampian sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Sedangkan Al-Asfahani mengartikan tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuatu secara setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan.
Menurut pengertian di atas, tarbiyah diperuntukkan khusus bagi manusia yang mempunyai potensi rohani, sedangkan pengertian tarbiyah yang dikaitkan dengan alam raya mempunyai arti pemeliharaan dan memenuhi segala yang dibutuhkan serta menjaga sebab-sebab eksistensinya.
merupkan bentuk masdar dari kata robba-yurabbi-tarbiyyatan, yang berarti pendidikan. Sedangkan menurut istilah merupakan tindakan mangasuh, mendididk dan memelihara.
Muhammad Jamaludi al- Qosimi memberikan pengertian bahwa tarbiyah merupakan proses penyampian sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Sedangkan Al-Asfahani mengartikan tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuatu secara setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan.
Menurut pengertian di atas, tarbiyah diperuntukkan khusus bagi manusia yang mempunyai potensi rohani, sedangkan pengertian tarbiyah yang dikaitkan dengan alam raya mempunyai arti pemeliharaan dan memenuhi segala yang dibutuhkan serta menjaga sebab-sebab eksistensinya.
At-Tarbiyat dalam
Al-Quran :
1. Arbabun, terdapat dalm QS. Yusuf : 39. Al-Juzi mengatakan bahwa arbabun dalam ayat tersebut artinya berhala, baik kecil maupun besar.
2. Arbaban, terdapat dalam QS. Ali Imran : 64. Ath-Thabari, Al-Juzi, Al-Maraghi bahwa yang dimaksud arbaban pada ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi yang menjadikan pendeta-pendetanya (seperti ulama dalam bidang agama)
3. Ribbiyuna, terdapat dalam Q.S. Ali Imran : 146 “ sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhannya, baik dari kelompok ahli fiqih, para ulama, para pengajar maupun pelajar/siswa”.
4. Rabiyan, , terdapat dalam Q.S. Ar-Ra’du : 17 “tinggi diatas air /mengambang diatas air”.
5. Rabiyyata, , terdapat dalam Q.S. Al-Haqqat : 10, “Kerasnya adzab/siksa Allah SWT”.
6. Rabwatan, , terdapat dalam Q.S. Mu’minun : 50, “tempat/tanah yang tinggi”.
7. Rabbat, , terdapat dalam Q.S. Fushilat : 39 dan Q.S. Al-Hajj : 5, “ memenuhi atau mengembang /meniggi, bertambah”.
8. Riba/ ar-riba, terdapat dalam QS. Ali Imran : 130, dan QS. Al-Baqarah : 257. kata riba/ ar-riba adalah az-ziyadah (bertambah atau berkembang).
9. Yarbu, , terdapat dalam Q.S. Ar-Rum : 39, “bersih atau berlipat ganda/bertambah”.
10. Yurbi, , terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah :276 “bertambah, berkembang, dan berlipat ganda”.
11. Arba, terdapat dalam QS. Al-Nahl : 92. arba berarti aktsara (lebih banyak). Keduanya menunjukkan arti yang tidak berbeda.
1. Arbabun, terdapat dalm QS. Yusuf : 39. Al-Juzi mengatakan bahwa arbabun dalam ayat tersebut artinya berhala, baik kecil maupun besar.
2. Arbaban, terdapat dalam QS. Ali Imran : 64. Ath-Thabari, Al-Juzi, Al-Maraghi bahwa yang dimaksud arbaban pada ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi yang menjadikan pendeta-pendetanya (seperti ulama dalam bidang agama)
3. Ribbiyuna, terdapat dalam Q.S. Ali Imran : 146 “ sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhannya, baik dari kelompok ahli fiqih, para ulama, para pengajar maupun pelajar/siswa”.
4. Rabiyan, , terdapat dalam Q.S. Ar-Ra’du : 17 “tinggi diatas air /mengambang diatas air”.
5. Rabiyyata, , terdapat dalam Q.S. Al-Haqqat : 10, “Kerasnya adzab/siksa Allah SWT”.
6. Rabwatan, , terdapat dalam Q.S. Mu’minun : 50, “tempat/tanah yang tinggi”.
7. Rabbat, , terdapat dalam Q.S. Fushilat : 39 dan Q.S. Al-Hajj : 5, “ memenuhi atau mengembang /meniggi, bertambah”.
8. Riba/ ar-riba, terdapat dalam QS. Ali Imran : 130, dan QS. Al-Baqarah : 257. kata riba/ ar-riba adalah az-ziyadah (bertambah atau berkembang).
9. Yarbu, , terdapat dalam Q.S. Ar-Rum : 39, “bersih atau berlipat ganda/bertambah”.
10. Yurbi, , terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah :276 “bertambah, berkembang, dan berlipat ganda”.
11. Arba, terdapat dalam QS. Al-Nahl : 92. arba berarti aktsara (lebih banyak). Keduanya menunjukkan arti yang tidak berbeda.
At-Tarbiyat dalam
Al-Hadits
Kosakata yang ada dalam hadits baik dalam bentuk fi’l maupun dalam bentuk ism. Kata-kata tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tarubbu (menjaga, memelihara, dan mengurus).
2. Yurabbi (memelihara dari sejak kecil sampai besar)
3. Yurabbani ( kata Yurabbani, bermakna yasudani yang berarti memimpin).
4. Yurabbi (mendidik dengan unsur ta’lim di dalamnya).
5. Rabba (pemilik,menyempurnakan, penambah, mengamalkan)
6. Rabbi (Hadits Abu Hurairah Ra, “ Janganlah seorang buadk berkata “Rabbi” kepad tuanya).
7. Rabbuha (Rabb berarti pemilik, sedang rabbuha berarti hilangnya unta hingga ditemukan oleh pemiliknya).
8. Rabaib (kambing yang diurus di rumah bukan diluar).
9. Rabbaniyyin (mereka yang mendidik murid-murid dari mulai ilmu yang kecil/ mudah sebelum yang sulit). Juga, disebutkan orang yang pandai, beramal, dan pengajar. Dengan demikian, Rabbani (insan pendidik yang mendidik manusia dari masalah mudah ke masalah yang sulit).
Analisis perbandingan antara konsep ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah
Istilah ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah dapatlah diambil suatu analisa. Jika ditinjau dari segi penekanannya terdapat titik perbedaan antara satu dengan lainnya, namun apabila dilihat dari unsur kandungannya, terdapat keterkaitan yang saling mengikat satu sama lain, yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak.
Dalam ta’lim, titik tekannya adalah penyampain ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada anak. Oleh karena itu ta’lim di sini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan yang di butuhkan seseorang dalam hidupnya dan pedoman perilaku yang baik.
Sedangkan pada tarbiyah, titik tekannya difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya (punya potensi) dan tumbuh kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang
secara sempurna. Yaitu pengembangan ilmu dalam diri manusia dan pemupukan akhlak yakni pengalaman ilmu yang benar dalam mendidik pribadi.
Adapun ta’dib, titik tekannya adalah pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik.
Denga pemaparan ketiga konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai satu tujuan dalam dunia pendidikan yaitu menghantarkan anak didik menjadi yang “seutuhnya”, perfect man, sehingga mampu mengarungi kehidupan ini dengan baik. waAllahu ‘alam
At-Tadris
At-tadris adalah upaya menyiapkan murid ( mutadarris ) agar dapat membaca, mempelajari dan mengkaji sendiri, yang dilakukan dengan cara mudarris membacakan, menyebutkan berulang-ulang dan bergiliran, menjelaskan, mengungkap dan mendiskusikan makna yang terkandung di dalamnya sehingga mutadarris mengetahui, mengingat, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan mencari ridla Allah (definisi secara luas dan formal).
1. QS. Al-An’am : 105
Al-Maraghi menjelaskan kata darasta dengan makna yang umum, yaitu membaca berulang-ulang dan terus-menerus melakukannya sehingga sampai pada tujuan. Al-Khawrizmi, Ath-Thabari, dan Ash-Shuyuti mengartikan kalimat darasta dengan makna, “engkau membaca dan mempelajari”.
C. At-Tadris dalam Hadits
Al-Juzairi memaknai tadarrusu dengan membaca dan menjamin agar tidak lupa, berlatih dan menjamin sesuatu.
At-Tahdzib
At-tahdzib adalah pembinaan akhlak yang dilakukan seorang muhadzdzib (guru) terhadap mutahadzdzib (murid) untuk membersihkan, memperbaiki prilaku dan hati nurani dengan sesegera mungkin karena adanya suatu penyimpangan atau kekhawatiran akan adanya penyimpangan, sehingga tahdzib itu dapat mewujudkan insan muslim yang berhati nurani yang bersih, berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran Allah(definisi secara luas dan formal).
Kosakata yang ada dalam hadits baik dalam bentuk fi’l maupun dalam bentuk ism. Kata-kata tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tarubbu (menjaga, memelihara, dan mengurus).
2. Yurabbi (memelihara dari sejak kecil sampai besar)
3. Yurabbani ( kata Yurabbani, bermakna yasudani yang berarti memimpin).
4. Yurabbi (mendidik dengan unsur ta’lim di dalamnya).
5. Rabba (pemilik,menyempurnakan, penambah, mengamalkan)
6. Rabbi (Hadits Abu Hurairah Ra, “ Janganlah seorang buadk berkata “Rabbi” kepad tuanya).
7. Rabbuha (Rabb berarti pemilik, sedang rabbuha berarti hilangnya unta hingga ditemukan oleh pemiliknya).
8. Rabaib (kambing yang diurus di rumah bukan diluar).
9. Rabbaniyyin (mereka yang mendidik murid-murid dari mulai ilmu yang kecil/ mudah sebelum yang sulit). Juga, disebutkan orang yang pandai, beramal, dan pengajar. Dengan demikian, Rabbani (insan pendidik yang mendidik manusia dari masalah mudah ke masalah yang sulit).
Analisis perbandingan antara konsep ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah
Istilah ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah dapatlah diambil suatu analisa. Jika ditinjau dari segi penekanannya terdapat titik perbedaan antara satu dengan lainnya, namun apabila dilihat dari unsur kandungannya, terdapat keterkaitan yang saling mengikat satu sama lain, yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak.
Dalam ta’lim, titik tekannya adalah penyampain ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada anak. Oleh karena itu ta’lim di sini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan yang di butuhkan seseorang dalam hidupnya dan pedoman perilaku yang baik.
Sedangkan pada tarbiyah, titik tekannya difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya (punya potensi) dan tumbuh kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang
secara sempurna. Yaitu pengembangan ilmu dalam diri manusia dan pemupukan akhlak yakni pengalaman ilmu yang benar dalam mendidik pribadi.
Adapun ta’dib, titik tekannya adalah pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik.
Denga pemaparan ketiga konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai satu tujuan dalam dunia pendidikan yaitu menghantarkan anak didik menjadi yang “seutuhnya”, perfect man, sehingga mampu mengarungi kehidupan ini dengan baik. waAllahu ‘alam
At-Tadris
At-tadris adalah upaya menyiapkan murid ( mutadarris ) agar dapat membaca, mempelajari dan mengkaji sendiri, yang dilakukan dengan cara mudarris membacakan, menyebutkan berulang-ulang dan bergiliran, menjelaskan, mengungkap dan mendiskusikan makna yang terkandung di dalamnya sehingga mutadarris mengetahui, mengingat, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan mencari ridla Allah (definisi secara luas dan formal).
1. QS. Al-An’am : 105
Al-Maraghi menjelaskan kata darasta dengan makna yang umum, yaitu membaca berulang-ulang dan terus-menerus melakukannya sehingga sampai pada tujuan. Al-Khawrizmi, Ath-Thabari, dan Ash-Shuyuti mengartikan kalimat darasta dengan makna, “engkau membaca dan mempelajari”.
C. At-Tadris dalam Hadits
Al-Juzairi memaknai tadarrusu dengan membaca dan menjamin agar tidak lupa, berlatih dan menjamin sesuatu.
At-Tahdzib
At-tahdzib adalah pembinaan akhlak yang dilakukan seorang muhadzdzib (guru) terhadap mutahadzdzib (murid) untuk membersihkan, memperbaiki prilaku dan hati nurani dengan sesegera mungkin karena adanya suatu penyimpangan atau kekhawatiran akan adanya penyimpangan, sehingga tahdzib itu dapat mewujudkan insan muslim yang berhati nurani yang bersih, berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran Allah(definisi secara luas dan formal).
KESIMPULAN
Berbagai konsepsi-kosepsi tentang pendidikan islam ini ternyata memiliki
keunikan makna yang terkandung dalam Al-qur’an dan Al-Hadits, karena Al-qur’an
bagaikan cahaya yang terpancar dalam setiap sudut mutiara yang menunjukan kekayaan
makna lafad-lafadz dalam ayat-ayat al-qur’an.
kata at-tarbiyat, at-ta’lim, at-tadris, at-tahdzib, maupun at-ta’dib
menunjukkan satu konsep pendidikan dalam Islam. Kelima istilah ini saling
melengkapi dan tercakup dalam tujuan pendidikan islam yang tidak bisa
dipisah-pisahkan. Terjadi pada diri manusia dalam arti yang umum dan
mengisyaratkan adanya komponen-komponen pokok dalam pendidikan, adanya isyarat
bagi guru untuk meningkatkan diri, prosesnya bertahap dan berkelanjutan,
menuntut adab-adab tertentu dan metode yang mudah diterima dan dilakukan dengan
baik dan bijak, adanya tujuan perolehan pengetahuan/ pembinaan akal, perubahan
ke arah yang lebih baik, melahirkan amal shalih, akhlak yang baik/ pendidikan
jiwa, mewujudkan insan muslim sempurna, untuk taat beribadah memperoleh ridla
Allah s.w.t.
Istilah At-tarbiyah lebih tepat digunakan sebagai kata yang mewakili pendidikan
islam, hal ini memiliki landasdan filosofis : Q.S. Ali Imran ; 79, perintah
untuk menjadi insan rabbani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar