| orientasi studi islam di indonesia |
Pendidikan
Islam di Indonesia tidak pernah lepas dari semangat penyebaran Islam
yang dilakukan secara intensif oleh para pendahulu dalam kerangka
perpaduan antara konteks keindonesiaan dengan keislaman. Tak heran, jika
pada awalnya pendidikan Islam tampak sangat tradisional dalam bentuk halaqah-halaqah. Namun seiring dengan kemajuan zaman, modernisasi pendidikan Islam mulai tampak dengan diambilnya bentuk madrasah[i]
sebagai salah satu pendidikan Islam, selain pesantren. Semuanya ini
dilakukan untuk memenuhi target atau tujuan pendidikan Islam yang
berorientasi individual dan kemasyarakatan.
Secara
umum, ada dua pandangan teoretis mengenai tujuan pendidikan Islam.
Pandangan teoretis yang pertama berorientasi kemasyarakatan, yaitu
pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam
menciptakan masyarakat yang baik, baik untuk sistem pemerintahan
demokratis, oligarkis, maupun monarkis. Pendidikan bertujuan
mempersiapkan manusia yang bisa berperan dan menyesuaikan diri dalam
masyarakatnya masing-masing. Berdasarkan hal ini, tujuan dan terget
pendidikan dengan sendirinya diambil dari dan diupayakan untuk
memperkuat kepercayaan, sikap ilmu pengetahuan, dan sejumlah keahlian
yang sudah diterima dan sangat berguna bagi masyarakat. Konsekuensinya,
karena kepercayaan, sikap, ilmu pengetahuan, dan keahlian yang
bermanfaat dan diterima oleh sebuah masyarakat itu senantiasa berubah,
mereka berpendapat bahwa pendidikan dalam masyarakat tersebut harus bisa
mempersiapkan peserta didiknya untuk menghadapi segala bentuk perubahan
yang ada.
Pandangan
teoretis yang kedua lebih berorientasi kepada individu, yang lebih
memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat belajar.
Pandangan ini terdiri dari dua aliran. Aliran pertama,
berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta
didik agar bisa meraih kebahagiaan yang optimal melalui pencapaian
kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan ekonomi, jauh lebih berhasil dari
yang pernah dicapai oleh orang tua mereka. Dengan demikian, pendidikan
adalah jenjang mobilitas sosial ekonomi suatu masyarakat tertentu.
Aliran kedua lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan jiwa peserta didik.
Studi Islam di Timur dan Barat
Pendidikan
Islam di Indonesia dihadapkan pada tantangan semakin berkembangnya
model-model pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai lapisan
masyarakat. Dari tingkat yang paling dasar (Madrasah Ibtidaiyah/MI)
hingga perguruan tinggi (UIN, IAIN, STAIN, PTAI), pencarian yang ideal
tentang studi Islam terus dilakukan, terutama untuk mewujudkan cita-cita
pendidikan Islam yang adiluhung. Bagaimana pun harus diakui bahwa model
pendidikan Islam di Indonesia masih jauh dari memuaskan, terutama jika
dilihat dari sistem pengelolaan, kualitas kurikulum, hingga pada
kualitas lulusannya.
Yang
tak kalah seriusnya adalah tantangan globalisasi yang memungkinkan
sebuah lembaga pendidikan mesti memiliki kualifikasi tertentu yang
bertaraf internasional. Sebagaimana diketahui, orientasi pendidikan
Islam di Indonesia masih belum begitu jelas, terutama dalam menentukan
pola, arah, dan capaian tertentu yang diinginkan, sehingga pendidikan
Islam kita dapat diakui secara internasional. Tantangan pendidikan Islam
yang sudah diharuskan memiliki kualifikasi internasional, tidak lepas
dari pandangan tentang studi Islam, yang selama ini diperdebatkan antara
studi Islam di Timur dan Barat.
Secara
garis besar terdapat dua bentuk pendekatan dalam kajian Islam di Barat;
teologis dan sejarah agama-agama. Pendekatan kajian teologis, yang
bersumber dari tradisi dalam kajian tentang Kristen di Eropa,
menyodorkan pemahaman normatif mengenai agama-agama. Karena itu,
kajian-kajian diukur dari kesesuaiannya dengan dan manfaatnya bagi
keimanan. Tetapi dengan terjadinya marjinalisasi agama dalam masyarakat
Eropa atau Barat pada umumnya, kajian teologis yang normatif ini semakin
cenderung ditinggalkan para pengkaji agama-agama.
Sedangkan
pendekatan sejarah agama-agama berangkat dari pemahaman tentang
fenomena historis dan empiris sebagai manifestasi dan pengalaman
masyarakat-masyarakat agama. Penggambaran dan analisis dalam kajian
bentuk kedua ini tidak atau kurang mempertimbangkan klaim-klaim keimanan
dan kebenaran sebagaimana dihayati para pemeluk agama itu sendiri. Dan,
sesuai dengan perkembangan keilmuwan di Barat yang sejak abad ke-19
semakin fenomenologis dan positivis, maka pendekatan sejarah agama ini
menjadi paradigma dominan dalam kajian-kajian agama, termasuk Islam di
Barat.
Dalam
konteks inilah, pertumbuhan minat untuk memahami Islam lebih sebagai
"tradisi keagamaan yang hidup", yang historis, ketimbang "kumpulan
tatanan doktrin" yang terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits, menemukan
momentumnya yang kuat dalam pertumbuhan kajian-kajian Islam di beberapa
universitas besar dan terkemuka di Amerika Serikat. Tradisi ini tentu
saja pertama kali tumbuh di Eropa, yang selanjutnya dikembangkan di
Amerika oleh sarjana semacam D.B. Macdonald (1863-1943) dan H.A. R.
Gibb. Keduanya memperingatkan "bahaya" mengkaji hanya "Islam normatif",
sebagaimana dirumuskan para ulama, dengan mengabaikan Islam yang hidup
di tengah-tengah masyarakat umum. Gagasan ini mendapatkan lahan yang subur di universitas-universitas Amerika. Dan, sejak 1950-an sejumlah universitas mulai mengembangkan pusat-pusat "studi kawasan" (area studies)
Islam, yang pada dasarnya mencakup berbagai disiplin yang berbeda,
tetapi memperoleh pendidikan khusus dalam bahasa-bahasa, kebudayaan dan
masyarakat Muslim di wilayah tertentu.
Dengan
kata lain, studi Islam di Barat melihat Islam sebagai doktrin dan
peradaban, dan bukan sebagai agama transenden yang diyakini sebagaimana
kaum Muslimin melihatnya, tetap merupakan ciri yang tak mungkin dihapus.
Oleh karena Islam diletakkan semata-mata sebagai obyek studi ilmiah,
maka Islam diperlakukan sama sebagaimana obek-obyek studi ilmiah
lainnya. Ia dapat dikritik secara bebas dan terbuka. Hal ini dapat
dimengerti karena apa yang mereka kehendaki adalah pemahaman, dan
bukannya usaha mendukung Islam sebagai sebuah agama dan jalan hidup.
Penempatan Islam sebagai obyek studi semacam ini, memungkinkan lahirnya
pemahaman yang murni "ilmiah" tanpa komitmen apa pun terhdap Islam.
Penggunaan berbagai metode ilmiah mutakhir yang berkembang dalam
ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, memungkinkan lahirnya karya-karya
studi Islam yang dari segi ilmiah cukup mengagumkan, walaupun bukan
tanpa cacat sama sekali.
Studi
Islam kontemporer di Barat, yang berusaha keras menampilkan citra yang
lebih adil dan penuh penghargaan terhadap Islam sebagai agama dan
peradaban, dengan mengandalkan berbagai pendekatan dan metode yang lebih
canggih dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, bahkan tidak jarang
dipelopori oleh sarjan-sarjana Muslim sendiri. Ini nampaknya menarik
banyak perhatian dari generasi baru pengkaji Islam negeri ini.
Departemen Agama bahkan memberikan dorongan lebih besar kepada
dosen-dosen IAIN untuk melanjutkan studi tingkat pascasarjana ke Barat,
sambil juga tetap meneruskan tradisi pengiriman dosen-dosennya ke Timur
Tengah dan negeri-negeri muslim lainnya seperti Turki dan Asia Selatan.
Sementara
di tempat lain, studi Islam di Timur Tengah sangat menekankan
pendekatan normatif dan ideologis terhadap Islam. Kajian Islam di Timur
bertitik tolak dari penerimaan terhadap Islam sebagai agama wahyu yang
bersifat transenden. Islam tidaklah dijadikan semata-mata sebagai obyek
studi ilmiah yang secara leluasa ditundukkan pada prinsip-prinsip yang
berlaku di dunia keilmuwan, tetapi diletakkan secara terhormat sesuai
dengan kedudukannya sebagai doktrin yang kebenarannya diyakini tanpa
keraguan. Dengan demikian, sikap ilmiah yang terbentuk adalah komitmen
dan penghargaan. Usaha-usaha studi ilmiah ditujukan untuk memperluas
pemahaman, memperdalam keyakinan dan menarik maslahatnya bagi
kepentingan umat. Orentasi studi di Timur lebih menekankan pada aspek
doktrin disertai dengan pendekatan yang cenderung normatif. Keterkaitan
pada usaha untuk memelihara kesinambungan tradisi dan menjamin
stabilitas serta keseragaman bentuk pemahaman, sampai batas-batas
tertentu, menimbulkan kecenderungan untuk menekankan upaya penghafalan
daripada mengembangkan kritisisme. Meskipun kecenderungan ini tidak
dominan, namun pengaruh kebangkitan fundamentalisme di Timur Tengah
telah mempengaruhi orientasi pendidikannya yang lebih normatif.
Dua
orientasi studi Islam yang dikembangkan di lingkungan Perguruan Tinggi
Agama Islam (PTAI), masih dijalankan sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Namun demikian, jika dilihat dari perkembangan yang terjadi di UIN,
IAIN, dan STAIN menunjukkan kecenderungan orientasi studi ke Barat. Hal
ini dapat dilihat dari semakin besarnya jumlah mahasiswa yang dikirim ke
universitas-universitas Barat, semacam McGill University, Leiden
University, Ohio Institute, dll. Pasca generasi Harun Nasution dan Mukti
Ali menunjukkan meningkatnya gelombang pengiriman mahasiswa ke Amerika
Serikat, Kanada, Australia, Belanda, Jerman, dan Perancis.
Tak
heran jika dekade 80-an dan 90-an terjadi perubahan besar dalam
paradigma Islam di kampus-kampus agama (PTAI). Kecenderungan pertama,
terjadinya pergeseran dari kajian-kajian Islam yang lebih bersifat
normatif kepada yang lebih historis, sosiologis, dan empiris. Pendekatan
normatif dalam kajian Islam menghasilkan pandangan serba idealistik
terhadap Islam, yang pada gilirannya membuat kaum Muslimin melupakan
atau meniscayakan realitas dan, karena itu, sering mengakibatkan mereka
terjebak dalam "kepuasan batin" yang semu. Sebaliknya pendekatan
historis dan sosiologis membuka mata mahasiswa di lingkungan PTAI
tentang realitas-realitas yang dihadapi Islam dan kaum Muslimin dalam
perkembanagn dan perubahan masyarakat.
Kecenderungan kedua,
orientasi keilmuwan yang lebih luas. Jika pada masa sebelumnya
orientasi keilmuwan cenderung ke Timur Tengah, khususnya Universitas
Al-Azhar, dalam dua dasawarsa terakhir kelihatan semakin luas dan
beragam. Dalam konteks ini, model pendekatan Barat terhadap Islam mulai
banyak bermunculan; yang pada pokoknya cenderung lebih bersifat historis
dan sosiologis. Pendekatan seperti ini mulai menemukan momentumnya
dengan kembalinya sejumlah tamatan universitas Barat untuk mengajar di
UIN, IAIN, STAIN, dll. Mereka kembali secara bergelombang, dimulai
dengan generasi Mukti Ali dan Harun Nasution dan kemudian disusul
kelompok tamatan McGill University. Gelombag selanjutnya adalah mereka
yang dikirim belajar ke beberapa universitas Amerika pada masa Menteri
Agama, Munawir Sjadzali.
Kendatipun
orientasi studi Islam di Indonesia lebih cenderung ke Barat, studi di
Timur Tengah tetap memiliki nilai penting, terutama dalam memahami aspek
doktrinal, yang menjadi basis ilmu pengetahuan dalam Islam. Dengan
demikian, orientasi studi islam di Timur dan Barat tetap signifikan
dalam rangka pengembangan pendidikan Islam di lingkungan PTAI seluruh
Indonesia.
Membuka Kelas Internasional
UIN dan IAIN yang
kurikulumnya merupakan rujukan bagi sekolah tinggi dan institut yang
tersebar di seluruh Indonesia masih belum mampu menghadirkan kurikulum
yang berisi elemen-elemen yang membentuk pandangan hidup Islam, yang di
dalamnya metafisika dan epistemologi Islam dikonseptualisasikan dan
dituangkan dalam mata kuliah wajib bagi semua fakultas sehingga menjadi
asas bagi semua disiplin ilmu. Pembagian fakultas ushuluddin, syariah,
tarbiyah, adab, dan dakwah masih memerlukan pengembangan lebih lanjut
sehingga mencerminkan makna al-jami'ah atau kulliyah yang
berarti universal. Kurikulumnya perlu diorientasikan agar dapat
menghasilkan sarjana-sarjana yang tidak hanya memiliki otoritas di
bidangnya, tetapi juga otoritas dalam ilmu-ilmu keislaman di tingkat
nasional dan internasional.
Jika
di UIN, IAIN dan perguruan tinggi Islam lainnya ditanamkan konsep
pandangan hidup Islam dengan pandangan metafisika yang sistematis, para
mahasiswa akan dengan mudah mengidentifikasi isu-isu itu sebagai konsep
metafisika dan epistemologi yang bukan berasal dari pandangan hidup dan
tradisi pemikiran Islam. Karena itulah, kini, mulai diupayakan
pengembangan pendidikan Islam yang mengarah pada tuntutan perbaikan mutu
penyelenggaran, manajemen, kurikulum dengan standar internasional.
Salah satunya adalah dengan membuka kelas internasional (pendidikan
Islam), yang diharapkan dapat bersaing di tingkat global.
Inilah
yang sedang diupayakan oleh Departemen Agama dengan membuka
fakultas/jurusan baru yang memiliki kualifikasi internasional. Di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syariaf Hidayatullah Jakarta, telah
dibuka Fakultas Dirasat Islamiyah (setara dengan S-1) yang berorientasi
pada studi Islam di Timur Tengah dan Kelas Interdispliner (setara dengan
S-2) yang berorientasi pada studi Islam di Barat. Di tempat lain, yakni
IAIN Sunan Kalijaga dan STAIN Malang juga membuka fakultas/jurusan baru
yang memiliki kualifikasi internasional.
Dirasat Islamiyah
Fakultas
Dirasat Islamiyah (Program Internasional) bertujuan menyiapkan lulusan
yang ahli dan profesional di bidang studi Islam dan bahasa Arab.
Fakultas ini didirikan atas kesepakatan kerjasama antara IAIN/UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dengan Universitas al-Azhar, Kairo Mesir, yang
ditandatangai 17 September 1999. Fakultas ini mempunyai beberapa
keistimewaan:
1. Bertaraf internasional dengan standar mutu sama seperti Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.
2. Menyelenggarakan
program studi Islam komprehensif (syariah, aqidah, dan bahasa Arab)
yang diperlukan bagi pembinaan kader-kader mujtahid.3. Memakai
bahasa Arab sebagai bahasa pengantar resmi perkuliahan dan memberikan
peluang bagi para lulusannya untuk mampu membaca langsung literatur
utama studi keislaman.
4. Mempersiapkan
alumni sebagai kader ulama berwawasan keislaman moderat yang mampu
menghadapi tantangan globalisasi, terutama dari sudut keislaman.
Fakultas Dirasat Islamiyah memiliki staf pengajar dari Mesir dan India, terutama untuk memenuhi standar yang
mirip dengan Universitas al-Azhar. Sayangnya, staf pengajar yang
didatangkan dari luar negeri relatif sangat sedikit, dan tidak memenuhi
standar jumlah mahasiswa. Yakni, ada 2 staf pengajar dari Mesir, dan 1
staf pengajar dari India. Sementara, staf pengajar yang lain diisi oleh
para lulusan Timur Tengah, seperti Mesir, Sudan, Yaman, dan Arab Saudi.
Mata kuliah yang diajarkan misalnya, adab wa naqd, ushul al-adabiyah, tafsir, ulum al-tafsir, hadits, ulum al-hadits, tauhid, tayarat fiqriyah, balaghah, fiqh al-ibadah, fiqh al-lughah, ma'ajim, ashwat, lahjat,
yang pada awalnya menggunakan sistem paket, namun sekarang ini sudah
menggunakan sistem SKS, sama seperti mahasiswa UIN lainnya. Gelar yang
diperoleh pun sama seperti sarjana UIN atau IAIN lainnya, yakni SSI,
bukan Lc, seperti kebanyakan alumnus Universitas al-Azhar. Model
penyampaian materi/perkuliahan tak ubahnya sistem lama, yakni model
ceramah, apalagi staf pengajar dari Timur Tengah, yang cenderung
menggunakan model ceramah, sehingga tidak mengundang partisipasi aktif
mahasiswa dalam berdiskusi dan mempertajam materi. Praktis, hanya
sedikit sekali staf pengajar yang menggunakan metode diskusi
Gambaran
ini menunjukkan betapa penyelenggaraam kelas internasional yang
berorientasi pada studi Timur Tengah belum maksimal dan bisa dikatakan
tidak memenuhi standar internasional, yang memiliki kualifikasi yang
mumpuni, dengan tidak seriusnya para pengelola dalam menyelenggarakan
pendidikan Islam berkualifikasi internasional.
Interdisciplinary Islamic Studies
Seyyed
Hossein Nasr telah menegaskan bahwa kekacauan yang mewarnai kurikulum
pendidikan modern di kebanyakan negara Islam sekarang ini, dalam banyak
hal, disebabkan oleh hilangnya visi hierarkis terhadap pengetahuan
seperti yang dijumpai dalam pendidikan Islam tradisional. Dalam tradisi
intelektual Islam, ada suatu hierarki dan kesalinghubungan antar-beragai
disiplin ilmu yang memungkinkan realisasi kesatuan (keesaan) dalam
kemajemukan, bukan hanya dalam wilayah iman dan pengalaman keagamaan,
tetapi juga dalam dunia pengetahuan. Ditemukannya tingkatan dan hubungan
yang tepat antar-berbagai disiplin ilmu merupakan obsesi para tokoh
intelektual Islam terkemuka, dari teolog hingga filosof, dari sufi
hingga sejarawan, yang banyak di antara mereka mencurahkan energi
intelektualnya pada masalah klasifikasi ilmu. Subjek inipun merupakan
kunci bagi sistem pendidikan Islam untuk mencegah para pendidik Muslim
kontemporer melepaskan mata objektif atas kekacauan dan kerancuan yang
berkecamuk dalam kurikulum pendidikan saat ini, dengan peniruan buta
terhadap model-model yang tetap hidup dalam sistem madrasah.
Dalam
konteks inilah, Departemen Agama RI bekerjasama dengan McGill
University Kanada, sejak September 2003, membuka program studi Islam
Antar Disiplin (Interdisciplinary Islamic Studies) untuk S-2 di
Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Program studi ini bertujuan menghasilkan sarjana-sarjana
yang menguasai pengetahuan Islam yang luas dan dalam, dengan berbekal
pada pendekatan interdisiplin dan inklusif. Lulusan program ini
diharapkan mampu untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah
sosial dan agama di dalam masyarakat.
Mata kuliah yang diajarkan dibagi dalam tiga tingkatan: (1) Mata Kuliah Dasar, yang meliputi; Qur'an
and Hadits in Modern Cenotext, Contemporary Islamic Thought and
Movement, Islam in Southeast Asia, dan Methods and Theories in the Study
of Islam, (2) Mata Kuliah Kosentrasi terdiri dari; Political Science, Contemporary Philosophy, Social Theories, dan Interdisciplinary Seminar, dan (3) Mata Kuliah Penunjang.
Di PPs UIN Jakarta program studi Interdisciplinary Islamic Studies lebih ditekankan pada kajian Islam yang menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial (social sciences), sementara di PPs IAIN Yogyakarta berfokus pada aksi sosial (social work).
Program studi ini bertujuan melahirkan sarjana Islam dlam bidang
pemikiran Islam yang memiliki penguasaan teoritik-metodologis dan
kemampuan analitis-kritis-implementatif dalam kajian kerja sosial untuk
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang pluralis, akual, dan
transformatif.
Mata kuliah yang diajarkan dibagi dalam dua tingkatan; (1) Mata Kuliah dasar, yang terdiri dari: Qur'an
and Hadits: theory and Methodology, Approaches to Islamic Studies,
Islamic Thought and Civilization, Islamic Thought about the Role of
Citizen in Social Life, dan Contemporary Islamic Movements, (2) Mata Kuliah Interdiscipliner terdiri dari: Anthropology
of Community Empowerment, Human Behaviour and Social Environment,
Social Welfare Policies and Services, Popular Education and
Communication, Methodology of Social Work Research and Gender
Analysis, Independence Studies in Social Work, Theories of democracy on
Globalization and Civil Soceity, dan Islam and Gender.
Staf
Pengajar, selain dari UIN/IAIN dan Universitas lain di Indonesia, juga
didatangkan dari McGill University, seperti Bassam Tibi dan Van Der
Meijk. Selain dari McGill, dosen-dosen tamu dari negara lain yang sedang
berkunjung ke Indonesia,
juga akan mengajar dan membimbing program studi ini. Bahasa yang
digunakan dalam seminar (perkuliahan) maupun penulisan tesis adalah
bahasa Inggris. Karena itu, sebelum mengikuti program ini, calon
mahasiswa mengikuti kursus bahasa Inggris selama enam bulan
(Januari-Juni). Skor TOEFL calon peserta sebelum mengikuti Kursus
Intensif minimal adalah 475. Sedangkan untuk dapat masuk dan mengikuti
program studi, di akhir Kursus Intensif harus mencapai 6,5 (EILTS) atau
550 (TOEFL) dan akan mendapatkan beasiswa selama empat (4) semester atau
dua (2) tahun. Mereka
yang skornya tidak mencapai batas minimal tersebut tidak dapat
mengikuti program studi ini. Selain itu, mahasiswa diberi kesempatan
untuk berkunjung ke McGill University pada musim panas (summer season).
Secara akademik, program studi Interdisciplinary Islamic Studies tampak
sangat menantang bagi proses pencarian pendidikan tinggi Islam, yang
memiliki kualifikasi internasional, namun pada umumnya, seperti juga
dialami mereka yang studi Islam di Barat, kemampuan doktrinal Islam
tidak cukup memadai (Islam normatif), berbeda dengan studi Islam di
Timur Tengah yang biasanya sangat mumpuni dalam penguasaan sumber-sumber
Islam yang paling dasar, terutama dengan penguasaan bahasa Arabnya
dalam menggali khazanah intelektual Islam yang otentik.
Penutup
Di
sinilah kita bisa melihat belum adanya perpaduan antara studi Islam di
Timur Tengah yang kaya akan penguasaan khazanah Islam dengan studi Islam
di Barat yang kaya metodologi. Prototype Fakultas Dirasat
Islamiyah yang benar-benar ingin meniru Universitas al-Azhar, ternyata
masih jauh dari harapan dengan terbatasnya pengelolaan, manajemen,
kurikulum, dan staf pengajar, sehingga untuk dapat memenuhi kualifikasi
yang sama seperti Universitas al-Azhar pun belum bisa dilakukan. Alih-alih, ingin mengembangkan yang lebih baik dari Universitas al-Azhar, jelas masih sangat kesulitan.
Program studi Interdisciplinary Islamic Studies yang
tampaknya ingin memindahkan McGill University di Indonesia masih
terjebak pada pendekatan Barat yang empiris, historis, dan sosiologis.
Padahal, studi Islam juga memerlukan penguasaan sumber-sumber Islam yang
paling otentik, yang tentu saja dapat dilakukan dengan penguasaan
bahasa Arab yang mumpuni. Bukan saja aspek metodologi yang penting dalam
setiap pendidikan Islam, tetapi penguasaan dasar keislaman perlu terus
diupayakan secara meyakinkan.
Jika
model keduanya dapat digabung dan dipadukan menjadi satu model
pendidikan Islam di lingkungan PTAI, kiranya dapat menjawab kekurangan
masing-masing orientasi, yakni menguasa khazanah intelektual Islam yang
paling dasar dan otentik, juga menguasai metodologi yang dapat digunakan
untuk memecah masalah yang dihadapi di tengah-tengah masyarakat. Apakah
orientasi "studi Islam yang normatif dan historis dapat dipadukan?”
Tentu saja, sangat bisa demi suksesnya pendidikan Islam di Indonesia,
yang dapat disejajarkan dengan pendidikan Islam di Timur Tengah dan
Barat.[]
|
Selasa, 22 Maret 2011
ORIENTASI STUDI ISLAM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar