Sabtu, 23 April 2011

GENERASI MUDA

Peranan Pemimpin Dan Generasi Muda Terutama Perempuan Dalam Pembangunan Bangsa Topik: PEMIMPIN DAN PEREMPUAN Artikel: PERANAN PEMIMPIN DAN GENERASI MUDA TERUTAMA PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN BANGSA Sebuah pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Indonesia pernah terkungkung dalam cengkeraman penjajahan Belanda selama lebih kurang 3 ½ abad lamanya, ditambah lagi 3 ½ tahun dalam penjajahan Jepang. Jika lantas kemudian Indonesia dapat meraih kemerdekaannya, ini merupakan hasil dari pengorbanan yang sangat besar dari seluruh komponen bangsa Indonesia. Kemudian, perjuangan yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia tentunya tidak hanya sekedar merebut kemerdekaan, kalau sudah merdeka lantas berhenti berjuang. Kita harus mengingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Akan tetapi kemerdekaan itu menuntut kebijakan- kebijakan dan kreativitas yang akan mengisinya dengan sesuatu yang disebut Pembangunan Nasional, yang ditujukan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur serta masyarakat yang madani berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan Nasional untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur brdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tersebut tidak akan pernah tercapai jika tidak didukung sepenuhnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Negara Republik Indonesia menganut asas demokrasi yang bersumber kepada nilai- nilai kehidupan yang berakar dalam budaya bangsa Indonesia. Perwujudan dari asas demokrasi itu diartikan sebagai paham kedaulatan rakyat, yang bersumber kepada nilai kebersamaan, kekeluargaan dan kegotongroyongan. Demokrasi ini juga memberikan penghargaan yang tinggi terhadap nilai- nilai musyawarah yang mencerminkan kesungguhan dan tekad dari bangsa Indonesia untuk berdiri diatas kebenaran dan keadilan. Dalam beberapa kurun waktu bangsa Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Selama 32 tahun berkuasa pemerintahan Orde Baru sejak tahun 1996 sampai 1998 begitu banyak penyimpangan- penyimpangan yang sangat tidak manusiawi telah terjadi di bumi Indonesia. Nilai- nilai kesanggupan dan kerelaan untuk berkorban dengan penuh keikhlasan dan kejujuran dalam mengisi kemerdekaan demi kepentingan bangsa dan negara telah digantikan oleh kerelaan berkorban hanya untuk mengisi kesenangan dan kemakmuran pribadi pihak- pihak tertentu. Terjadinya Kolusi Korupsi Nepotisme pada masa pemerintahan Orde Baru merupakan bukti nyata pengingkaran terhadap sikap keikhlasan dan kejujuran. Tidak hanya itu Indonesia mengalami krisis multi dimensi yang demikian pelik, mulai dari krisis moral, krisis ekonomi, krisis kepercayaan, hingga krisis kepemimpinan. Tumbanganya pemerintahan Orde Baru pada 21 Mei 1998 masih segar dalam ingatan kita bahwa pemerintahan yang tidak bersih dan mengabaikan rasa keadilan tidak akan mendapat dukungan dan kepercayaan dari rakyat. Benarlah apa yang dikatakan pujangga Mesir Syauqy Beyq : Suatu bangsa yang kokoh bertahan. Selama akhlak mewarnai kehidupan. Apabila akhlak sirna dalam pergaulan. Bangsa itu hancur berantakan. Jatuh pemerintahan Orde Baru, di Indonesia terjadi pergantian pemimpin negara sebanyak tiga kali. Namun selama lima tahun bencana, musibah , malapetaka jauh lebih dahsyat dibanding pada kekuasaan- kekuasaan sebelumnya. Betapa dahsyat apa yang telah terjadi di Ambon, Poso, Timor Timur, Papua, Aceh, Sambas, Sampit dan mungkin di daerah- daerah yang lain, lebih kejam daripada penjajah Jepang, Belanda, Orde lama, dan Orde Baru digabung jadi satu. Ratusan ribu kaum pengungsi diusir dari tanah tumpah darahnya sendiri. Bangsa ini seolah kehilangan kepribadian. Apakah cuma abu- abu derita, arang hitam yang mencoret muka yang bisa ditinggalkan untuk kami generasi muda? Kita merindukan pemerintahan yang bersih, kuat dan berwibawa.Seluruh bangsa Indonesia mengharapkan suatu kondisi pemerintahan yang melaksanakan asas- asas moral dan budi pekerti kemanusiaan yang luhur seperti yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945. Aparatur pemerintahan hendaknya memiliki kejujuran, keikhlasan, dan semangat pengabdian untuk melaksanakan amanat. Hal itu dilakukan bukan untuk mendapatkan imbalan, melainkan karena keyakinan dan kebenaran, serta menghormati hak dan kewajiban orang lain. Disamping itu, peran serta generasi muda juga sangat dituntut dalam kehidupan politik nasional dan kegiatan internasional harus terus ditingkatkan melalui keikutsertaannya dalam organisasi kemasyarakatan lainnya sebagai upaya pendidikan politik sehingga proses kaderisasi dapat berlangsung secara wajar dan berkesinambungan. Kepeloporan pemuda dalam pembangunan bangsa dan negara harus diupayakan agar pemuda memiliki jiwa kejuangan, keperintisan dan kepekaan terhadap lingkungan. Hal ini dibarengi pula oleh sikap mandiri, disiplin, dan memiliki sifat yang bertanggungjawab, inovatif, ulet, tangguh, jujur, berani dan rela berkorban dengan dilandasi oleh semangat cinta tanah air. Fakta menunjukkan bahwa jumlah perempuan di negara kita jauh lebih besar dibanding dengan jumlah laki- laki. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Umat Islam Menyongsong Abad ke-21 menuliskan bahwa perempuan berada diantara dua zaman kejahiliahan, yaitu abad ke- 14 dimana kemerdekaan perempuan dipasung, bahkan keluar rumahpun dianggap suatu aib dan sekarang di abad 20-an perempuan bebas sebebas- bebasnya hingga terkesan merendahkan martabatnya sendiri. Perempuan merasa bangga bila dapat menunjukkan lekuk tubuhnya dengan pakaian yang seksi, perempuan merasa senang bila dapat menjadi aktris atau supermodel, dan segala bentuk kebebasan yang cenderung menjatyuhkan dirinya tanpa ia sadari. Selanjutnya bagi bangsa Indonesia yang presentasi penduduk perempuannya lebih besar dibanding laki- laki, sudah barang tentu perempuan menjadi bagian yang sangat penting bagi bangsa dan negara ini. Sehingga boleh dikatakan laki- laki dan perempuan di negara kita bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Laki- laki tanpa perempuan bagai malam tanpa bintang, bagai purnama diliputi awan kelam, bagai gulai tanpa garam. Mana mungkin sempurna laki- laki tanpa perempuan. Hal ini menunjukkan urgensi IMTAQ DAN IPTEK terlihat penting bagi perempuan sebab sekarang yang penting bukanlah perbedaan gender akan tetapi SDM yang berkualitas. Perempuan Indonesia pada saat ini diharapkan sebagai sosok yang berpendidikan, berkualitas moral dan akhlak yang tinggi dan mulia.Perempuan merupakan suatu cerminan didalam sebuah negara, ia merupakan suatu tonggak yang sangat kokoh. Rasulullah SAW mendudukkan perempuan ke tingkat yang mulia sehingga diharapkan karyanya mensejahterakan bangsa dan negara : Perempuan adalah tiang negara. Apabila baik baiklah negara, apabila buruk maka hancurlah negara. Oleh karena itu, sejauh mana perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berperan aktif, apakah sebagai pekerja sosial, tokoh pendidikan, atau bahkan penegak hukum, tokoh politik, dan jajaran pemerintahan, sejauh itulah perempuan memiliki eksistensi sebagai pilar- pilar negara sehingga keberadaannya dianggap penting di setiap segi kehidupan bangsa dan negara. Albert Einstein sang penemu teori relativitas berkata: "Science without religion is lame, Religion without science is bellied" Ilmu tanpa agama akan lumpuh dan menyesatkan, agama tanpa ilmu adalah lemah dan lamban. Hal ini sesuai dengan konsep IMTAK DAN IPTEK yang telah saya uraikan diatas. MIFTAHUL JANNAH Saya MIFTAHUL JANNAH setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

Tidak ada komentar:

Read more: http://www.bloggerafif.com/2011/03/membuat-recent-comment-pada-blog.html#ixzz1M3tmAphZ