PEUGAH YANG NA,. PEUBUET LAGEI NA,. PEUTROEK ATA NA,. BEKNA HABA PEUSUNA,. BEUNA TAINGAT WATEI NA,.

Selasa, 18 Desember 2012

ORANG TUA




 PERAN ORANGTUA
Untuk menjalankan pelayanan anak dalam keluarga, orang tua tentu saja harus berperan penuh untuk memberikan pengaruh yang baik bagi anak-anaknya. Ketika Anda memikirkan peran-peran berikut, coba pertimbangkan peran apa yang paling menolong ketika dulu Anda sendiri bertumbuh.
  1. Pengajar/Pembimbing
    Menjadi pengajar/pembimbing bagi anak berarti membantu anak-anak mengembangkan keahlian baru sambil meningkatkan kemampuan yang telah ia miliki. Orang tua diminta untuk banyak memberi bantuan saat dibutuhkan dan memberi kesempatan pada anak untuk belajar melakukannya sendiri. Tidak perlu menjadi seperti pelatih olahraga yang berteriak dengan keras. Seperti sedang membantu orang melahirkan, Anda sedang membantu proses berlangsungnya sesuatu yang hanya terjadi secara alami. Temukanlah hal-hal yang ingin dipelajari anak. Ketika Anda berhubungan dengan mereka, perhatikan hal-hal yang telah ia ketahui dan yang ingin ia ketahui. Mintalah anak memperlihatkan hal yang telah ia ketahui, tanyakan apa yang ingin atau perlu mereka ketahui, tunjukkanlah pada mereka, beri mereka kesempatan untuk belajar melalui kesalahan, dan sambutlah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak Anda.
  2. Pemimpin/Penuntun
    Di sini Anda diminta membantu anak-anak melakukan sesuatu yang tidak dapat mereka lakukan sendiri. Dengan dukungan Anda ia akan dapat menyelesaikan tugas ini. Dalam memimpin mereka, jangan lalai memberi pujian dan sanjungan positif di saat anak Anda mengalami kemajuan. Tanyakan apa saja yang ia pelajari dan arti hal-hal tersebut bagi dirinya.
  3. Penasihat
    Orang tua bertindak sebagai penasihat ketika mencoba mencari jalan untuk membantu anak Anda memahami apa yang sebetulnya ia alami. Kebanyakan orang tua ingin segera menolong anak-anak ketika mereka sedang berjuang atau seolah-olah tidak dapat melalui suatu masalah. Kadang-kadang kita justru mengungkapkan perasaan frustrasi dan kejengkelan kita. Jika ini terjadi, anak Anda malah menjadi malas untuk belajar dari pengalamannya. Aturan yang berlaku di sini ialah kendalikan diri! Biarkan anak Anda belajar menjadi cakap. Anda mungkin berkeinginan untuk segera membetulkannya dan memaksa mereka memercayai apa yang menurut Anda lebih baik. Namun, jangan lakukan itu! Cara ini tidak akan berhasil. Peran Anda adalah membantu anak Anda mencari tahu sesuatu dengan bertanya. Bantulah ia menemukan kebenaran.
  4. Teman/Pendamping
    Teman/pendamping adalah peran yang akan berkembang secara perlahan seiring tumbuhnya kedewasaan anak Anda. Dengan peran ini, Anda dapat menikmati hal-hal yang Anda lakukan bersama-sama. Sebenarnya, sejak masa kanak-kanak pun aktivitas bersama ini dapat mulai dikembangkan. Kita perlu menikmati tiap kesempatan yang ada bersama anak-anak. Dalam hal ini, Anda dapat memunculkan kembali sisi kanak-kanak Anda. Anak Anda mungkin ingin Anda memainkan peran ini lebih lama dari yang Anda inginkan atau pikirkan. Ya, Anda perlu menjalankan peran ini.
  5. Konselor/Sahabat Karib
    Terkadang Anda perlu memainkan peran yang sangat berpengaruh. Orang tua dipercaya karena setia mendengar dan juga memegang rahasia. Di sini Anda tak perlu memberi nasihat. Namun, Anda dapat mengulang pernyataan anak Anda sesuai dengan cara Anda mendengar atau menerimanya. Anda tak perlu selalu memberikan tanggapan ketika ia menceritakan kesedihannya. Biarkan anak mengungkapkan kesedihannya saat ia memerlukannya.
  6. Pelindung/Pembela
    Orang tua adalah pelindung anaknya, terutama di masa sukar. Menjadi pembela berarti Anda percaya pada anak dan hal-hal yang akan dilakukannya. Anda dapat menunjukkan bahwa keraguan juga sekali waktu diperlukan dengan membiarkannya mengalami akibat dari tindakannya. Jangan lindungi mereka ketika berbuat salah atau salah menilai. Sebaliknya, bantulah mereka untuk belajar dari kesalahan tersebut dan percayalah bahwa mereka tidak akan melakukannya lagi. Anda harus melindungi mereka dari rasa bersalah yang terus menghantui mereka dan dari orang-orang yang tidak mau memberi kesempatan pada mereka.
  7. Pemberi Nafkah/Pendukung
    Orang tua merupakan pemberi nafkah utama yang harus memenuhi semua kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, rumah, dan perawatan kesehatan. Dalam beberapa hal, orang tua memang selalu menjadi pemberi nafkah. Namun sebagai pendukung, Anda harus mempersiapkan anak untuk tidak selalu bergantung pada Anda. Anda harus melakukannya saat anak Anda berusaha menumbuhkan kepercayaan diri. Percayalah pada kemampuannya sehingga ketika ia memasuki masa muda, Anda telah membantunya untuk siap memasuki masa dewasa.
MENJADI TELADAN BAGI ANAK
Pelayanan anak dalam keluarga tidak dapat berhasil jika orang tua tidak dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Bagaimana kita dapat menjadi teladan bagi mereka?
  1. Ada Saat Dibutuhkan
    Untuk mengasuh anak secara sehat, kita perlu selalu ada saat mereka membutuhkan. Bila anak pulang dan mendapati rumah dalam keadaan kosong, ia akan mengalami sesuatu yang sangat buruk, merasa diabaikan atau mengalami kesulitan besar karena kurangnya pengarahan. Bahkan di tengah kesibukan kerja, orang tua harus meluangkan waktu yang cukup untuk anak-anaknya.
  2. Melindungi
    Orang tua perlu melindungi anak-anak dari bahaya yang biasa terjadi, juga terhadap informasi serta pengalaman yang belum dapat dipahami anak. Kebebasan media perlu dicermati, dibatasi, dan diawasi.
  3. Pertimbangkan Keunikan Anak
    Orang tua yang bijak dapat menentukan tingkat perkembangan anak sehingga anak tidak dituntut terlalu banyak atau terlalu sedikit. Mereka dapat memahami dan menerima perilaku yang sesuai dengan usia anak dan mampu mengenali serta mengoreksi hal-hal yang tidak pantas. Pemberian hak atau tanggung jawab dalam proses pendidikan anak harus dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat usia dan perkembangannya.
    Amsal 22:6 mendesak agar orang tua "mendidik orang muda menurut jalan yang patut baginya [sesuai karunia atau bakat pribadinya], maka pada masa tuanya pun ia tidak akan meyimpang daripada jalan itu". Kitab Suci tidak menyarankan tindakan pilih kasih.
  4. Perlihatkan Kasih Sayang
    Kasih sayang yang diperlihatkan, baik secara fisik maupun dengan kata-kata, merupakan ungkapan rasa cinta dan penerimaan. Apa pun latar belakang dan pengalaman mereka, orang tua yang baik akan berusaha memberi teladan melalui hubungan pernikahan yang sehat dan mengasihi anak-anaknya tanpa pamrih. Anak-anak sangat senang jika melihat orang tuanya saling mengungkapkan kasih melalui tindakan, seperti ciuman ataupun pelukan yang hangat. Juga bila anak-anak melihat orang tuanya saling berbaikan kembali setelah terjadi silang pendapat yang tak terhindarkan. Melalui hal-hal itu mereka akan mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai hidup.
  5. Tetapkan Panduan
    Orang tua yang baik akan menetapkan aturan dan panduan bagi anak-anak mereka, sekaligus mengajar mereka bagaimana menerapkannya ketika orang tua tidak ada. Untuk menjalankan aturan-aturan ini, kemampuan dan kepribadian setiap anak perlu dipertimbangkan.
  6. Pupuk Kemandirian
    Dalam keluarga yang sehat, yang dikembangkan ialah kemandirian, bukan ketergantungan. Secara bertahap orang tua harus melepas kekuasaan dan perannya sebagai pengambil keputusan. Dengan begitu, anak akan mengubah sikap ketergantungan menjadi sikap kemandirian. Artinya, kita harus menerima kenyataan bahwa anak kita akan bertumbuh dan berubah. Demi terwujudnya tujuan tersebut, anak menuntut kita untuk menjadi teladan.
BERUBAH DAN BERTUMBUH
  1. Bangunlah Tanggung Jawab Dua Arah
    Dunia menjalin hubungan dengan membentuk serangkaian sistem tanggung jawab satu arah yang berisi satu garis komando. Di bagian bawah ada orang yang bertanggung jawab terhadap atasannya. Atasan ini selanjutnya akan bertanggung jawab kepada atasannya lagi, demikian seterusnya. Rangkaian ini membentuk tangga hingga ke tingkat paling atas. Kebanyakan keluarga juga menggunakan sistem tanggung jawab satu arah. Anak-anak mutlak bertanggung jawab kepada orang yang lebih dewasa, terutama orang tua, tetapi tidak sebaliknya.
Dalam tanggung jawab dua arah, seorang ayah akan berkata kepada anaknya, "Nak, Ayah sedang berusaha untuk tidak khawatir dan memercayakan segala sesuatu kepada Allah dalam doa. Ayah ingin memberitahumu setiap sore kemajuan yang Ayah capai. Ayah ingin kamu sesekali menanyakan perkembangannya. Ayah juga ingin kamu memberi saran agar Ayah dapat belajar lebih cepat. Setiap kali kamu mulai mengkhawatirkan sesuatu, tolong ingatkan Ayah untuk memercayakannya kepada Tuhan saat itu juga. Setuju?"
Ketika orang tua mulai menjalankan tanggung jawab dua arah ini, mereka mempersiapkan beberapa tahapan untuk terjadinya beberapa peristiwa: (a) anak akan mendapat teladan tentang perubahan sehingga perubahan dan pertumbuhan lebih mudah dilalui; (b) anak akan mendapat teladan tentang bertanggung jawab secara sukarela dan dapat meningkatkan disiplin diri anak; (c) komunikasi antara orang tua dan anak lebih mendekati komunikasi antarorang dewasa daripada komunikasi antara orang dewasa dan anak.
  1. Berikan Pertumbuhan Rohani
    Dimensi rohani dari kehidupan dapat diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan. Orang tua yang bijak senantiasa memberi petunjuk agar setiap anaknya bertumbuh secara rohani. Tuntunan rohani ini harus nyata dalam kehidupan, tujuh hari seminggu, bukan pada hari Minggu saja. Anak-anak akan lebih mudah belajar atau "mencerna" praktik kehidupan rohani melalui pengamatan terhadap apa yang terjadi dalam keseharian orang tua mereka. Dan orang tua yang paling bijaksana akan menuntun anaknya untuk menerima keselamatan dari Yesus Kristus.
  2. Bekerjalah Sebagai Satu Tim
    Untuk mengasuh anak secara sehat dibutuhkan kerja sama seperti layaknya sebuah tim. Orang tua harus saling mendukung dan mengatasi perbedaan mereka tidak di hadapan anak-anak. Orang tua sebaiknya tidak membangun kubu dengan anak-anak.
John White meringkasnya dengan mengatakan bahwa anak-anak butuh penerimaan. Mereka butuh pujian dan penghargaan. Mereka perlu belajar percaya bahwa orang tua mereka tidak akan berbohong atau melanggar janji. Mereka butuh sikap yang konsisten dan jujur. Mereka perlu diyakinkan bahwa setiap ketakutan, keinginan, perasaan, dorongan yang tak dapat dijelaskan, frustrasi, dan ketidakmampuan mereka dipahami oleh orang tua mereka. Mereka perlu mengetahui secara pasti batas-batas yang dilarang dan yang diperbolehkan. Mereka perlu mengetahui bahwa rumah adalah tempat yang aman yang menjadi perlindungan mereka. Mereka butuh diakui setelah melakukan suatu yang baik dan koreksi yang tegas saat berbuat salah. Mereka perlu belajar tentang keseimbangan. Mereka perlu mengetahui bahwa orang tua lebih kuat dari mereka sehingga mereka dapat mengatasi badai dan bahaya dalam dunia ini, juga dapat tetap berdiri tegak ketika menghadapi kemarahan atau keinginan yang tak masuk akal dari anak-anak mereka. Mereka perlu yakin bahwa orang tua menyukai mereka dan mau meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka. Mereka butuh tanggapan yang tepat akan semakin meningkatnya kebutuhan mereka akan kemandirian.
Bagaimana pengalaman Anda dalam melakukan pelayanan anak dalam keluarga Anda? Apakah anak Anda bertumbuh dalam keluarga yang mencerminkan paparan di atas? Dapatkah Anda melakukan suatu perubahan agar unsur-unsur pengasuhan dan pelayanan anak yang sehat ini dapat menjadi lebih nyata dalam keluarga Anda? Bagaimana hal-hal ini dapat membantu anak Anda untuk semakin serupa dengan Yesus?
Bahan diringkas oleh Evie Sumber:
·  Raising Kids to Love Jesus 2: Mengoptimalkan Pertumbuhan Karakter Anak Sesuai dengan Keunikan Pribadinya., H. Norman Wright dan Gary J. Oliver, , halaman 72 -- 82, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2003.



Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
9-5-2008 | Artikel
8-2-2008 | Artikel
18-1-2008 | Artikel
4-1-2008 | Artikel
30-11-2007 | Tips
30-11-2007 | Artikel
· 
| Artikel
22-11-2007 | Tips
22-11-2007 | Tips
15-11-2007 | Artikel
Pengaruh Poligami Terhadap Perkembangan Psikologi Anak
25 Desember 2009 — Abied
Perbincangan tentang poligami hampir tak menemukan alinea terakhir. Selalu saja menjadi berita hangat yang dipermasalahkan. Ada sekian orang yang anti setengah mati, adapula yang menyokong konsep ini secara totalitas. Mereka berargumen dengan kecenderungannya masing-masing. Baik itu berdasarkan disiplin ilmu yang dikuasai maupun berlandaskan perasaan dan pengalaman pribadi.
Namun, satu hal yang mereka sepakati bahwa mempraktekkan konsep ini merupakan suatu yang sah dalam kacamata syariah. Suami boleh menikahi dua orang wanita atau lebih asal sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang telah ditentukan. Misalnya, seperti yang disampaikan oleh seorang psikiater yaitu Kusmaidy, bahwa seorang suami yang berniat melakukan poligami harus memenuhi syarat fisik dan psikis, dalam dua kebutuhan itu, seorang laki-laki dituntut untuk berlaku adil.[1]
Persiapan psikis sangat penting, terutama jika di dalam di dalam pernikahan  suami sebelumnya terdapat anak-anak. Anak-anak dapat merasakan setelah pernikahan kedua terjadi, apakah ibunya dapat dengan besar hati menerima orang baru masuk ke dalam kehidupan mereka. Jangan sampai keputusan yang diambil menyimpan bara dalam sekam, ujungnya yang terjadi adalah ketidak bahagiaan bagi istri dan korban utama yang paling menderita adalah anak. Seorang ibu merupakan pengembang utama bagi pendidikan anak. Bagaimana mungkin seorang ibu yang tidak bahagia (unhappy mother ) bisa memberikan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Yang akhirnya hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi keutuhan perkembangan jiwa anak.[2]
Poligami yang tidak sesuai dengan hukum syar’i akan menciptakan hubungan yang tidak sehat dalam keluarga, hal tersebut akan menjadi faktor rusaknya lembaga perkawinan yang merupakan pukulan dan dapat menghancurkan mental anak yang tidak berdosa, sebab poligami akan merampas perlindungan dan ketentraman anak yang masih berjiwa bersih.
Dalam kehidupan rumah tangga, banyak hal yang akan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan keluarga, keluarga yang anggotanya mengalami konflik intra pribadi akan sulit untuk berkembang menjadi suatu keluarga yang harmonis dan bahagia. Dimana anggota keluarga yang berada dalam situasi konflik, akan berkembang menjadi pribadi yang mendapat gangguan psikologis sehingga berpengaruh pada perilakunya. Dalam keadaan lebih buruk, keadaan konflik dapat mengakibatkan kehancuran keluarga.s
Pengaruh yang paling besar adalah pengaruh terhadap perkembangan anak dan masa depannya. Dalam suasana yang tidak harmonis akan sulit terjadi proses pendidikan yang baik dan efektif, anak yang dibesarkan dalam suasana seperti itu tidak akan memperoleh pendidikan yang baik sehingga perkembangan kepribadian anak mengarah kepada wujud pribadi yang kurang baik. Akibat negatifnya sudah dapat diperkirakan yaitu anak tidak betah dirumah, hilangnya tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangnya sikap agresif dan permusuhan serta bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas lagi.
Alangkah bahagia dan indahnya apabila semua orang tua bisa mendidik anaknya dengan baik serta membentuknya menjadi pribadi yang shaleh, tentunya pertama kali yang mesti mereka terapkan adalah memperbaiki perilakunya sendiri dalam keluarganya. Jadi, jika seorang ayah tidak dapat menjamin akan dapat berlaku adil maka ia harus mengubur niatnya untuk berpoligami dan mulai memikirkan cara untuk memperbaiki keadaan keluarga dan perkembangan psikologi anak yang tak berdosa yang bisa menjadi korban dari kerusakan atau penyelewengan moral akibat tatanan keluarga yang tak utuh. Dimana keadaan keluarga sangat mempengaruhi perjalanan hidup dan masa depan anak karena lingkungan keluarga merupakan arena dimana anak-anak mendapatkan pendidikan pertama, baik rohani maupun jasmani.[3]
Dari uraian yang penulis kemukakan seperti di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa sudah menjadi keharusan bagi orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya, karena anak-anak yang tidak mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang wajar dari orang tuanya akan menimbulkan kelemahan pada diri anak dalam perkembangan dan pertumbuhan psikologisnya.
Kalau hal ini diasumsikan ke dalam keluarga yang berpoligami, maka sudah dapat dibayangkan bagaimana hubungan antara anak dengan ayahnya. Seorang ayah yang berpoligami berarti ia harus menghadapi lebih dari satu keluarga yang harus diurus dan dipimpinnya. Dengan memimpin dua rumah tangga atau lebih, berarti ayah tidak selamanya berada dan menetap pada satu rumah tangga isterinya. Akan tetapi senang tiasa berpindah-pindah dari rumah isteri yang satu ke rumah isteri yang lain dan seterusnya.
Dengan keadaan seperti demikian itu, maka kesempatan seorang ayah untuk bertemu dengan dan bergaul dengan anak-anaknya sangatlah terbatas. Hal itu berarti terbatas pula waktu untuk bertemu dan bergaul dengan anak-anaknya secara kontinyu, kondisi rumah tangga dalam bentuk demikianlah yang menyebabkan banyak di antara anakanak yang berpoligami itu terlantar pendidikannya. Dan selanjutnya  mempengaruhi perkembangannya, misalnya anak menjadi pemalas dan kehilangan semangat dan kemampuan belajarnya. Di samping itu tidak jarang menimbulkan terjadinya kenakalan-kenakalan dan traumatik bagi anak higga berkeluarga. Terjadinya tindakan-tindakan atau kasus-kasus tersebut merupakan akibat negatif dari keluarga yang berpoligami yang disebabkan karena hal-hal sebagai berikut:
1. Anak Merasa Kurang Disayang.
Salah  satu dampak terjadinya poligami adalah anak kurang mendapatkan perhatian dan pegangan hidup dari orang tuanya, dalam arti mereka tidak mempunyai tempat dan perhatian sebagaimana layaknya anak-anak yang lain yang orang tuanya selalu kompak. Adanya keadaan demikian disebabkan karena ayahnya yang berpoligami, sehingga kurangnya waktu untuk bertemu antara ayah dan anak, maka anak merasa kurang dekat dengan ayahnya dan kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Kurangnya kasih sayang ayah kepada anaknya, berarti anak akan menderita karena kebutuhan bathinnya yang tidak terpenuhi. Selain itu, kurangnya perhatian dan control dari ayah kepada anak-anaknya maka akan menyebabkan anak tumbuh dan berkembang dengan bebas. Dalam kebebasan ini anak tidak jarang mengalami kemorosotan moral, karena dalam pergaulannya dengan orang lain yang ter pengaruh kepada hal-hal yang kurang wajar.
Margaret Mead, seorang antropolog terkenal mengatakan bahwa cara-cara pengasuhan yang hanya mengandalkan ibu sebagai satu-satunya tokoh, akan menimbulkan banyak masalah pada anak.[4] Karena hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bagi anak untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya.
2. Tertanamnya Kebencian Pada Diri Anak.
Pada dasarnya tidak ada anak yang benci kepada orang tuanya, begitu pula orang tua terhadap anaknya. Akan tetapi perubahan sifat tersebut mulai muncul ketika anak merasa dirinya dan ibunya”dinodai” kecintaan kepada ayahnya yang berpoligami. Walaupun mereka sangat memahami bahwa poligami dibolehkan (sebagaimana dalam QS. An-Nisa :3) tapi mereka tidak mau menerima hal tersebut karena sangat menyakitkan. Apalagi ditambah dengan orang tua yang akhirnya tidak adil, maka lengkaplah kebencian anak kepada ayahnya.
Kekecewaan seorang anak karena merasa dikhianati akan cintanya dengan ibunya oleh sang ayah, akan menyebabkan anak tidak simpati, dan tidak menghormati ayah kandungnya. Sebagaimana kasus yang terjadi di Jakarta Timur, seorang anak dari keluarga poligami (Upik) yang memukul ayahnya sendiri hingga tak sadarkan diri, karena kebenciaan yang memuncak kapada ayahnya. Persoalannya bermula ketika sang ayah, pak Burhan 3 bulan tak pernah pulang dan tidak juga memberikan nafkah. Ia selalu berada di rumah isteri mudanya yang berjarak 3 kilometer dari rumah isteri tua. Sehingga setibanya di rumah, Upik yang sudah memendam kemarahan selama 3 bulan ini karena melihat ibu dan keluarganya ditelantarkan, maka dilampiaskannya dengan memukul ayahnya hingga pingsan.[5]
Menurut penulis, perlakuan Upik memukul ayahnya merupakan hal yang salah, sebab dengan berbuat demikian bukan menghilangkan masalah tapi justru menambah masalah baru.sehingga harus diakui bahwa poligami mempunyai efek yang dapat merubah seseorang dari sikap baik sampai kepada bersikap yang tidak baik. Olehnya itu, sebaiknya ada komunikasi terlebih dahulu mungkin sang ayah sakit atau ada halangan lain.
3. Tumbuhnya Ketidakpercayaan Pada Diri anak.
Persoalan yang kemudian muncul sebagai dampak dari poligami adalah adanya krisis kepercayaan dari keluarga, anak, dan isteri. Apalagi bila poligami tersebut dilakukan secara sembunyi dari keluarga yang ada, tentu ibarat memendam bom waktu, suatu saat lebih dahsyat reaksi yang ada.
Sesungguhnya poligami bukan sesuatu yang harus dirahasiakan, tapi sesuatu yang harus dirahasiakan, tapi sesuatu yang sejatinya harus didiskusikan, jadi jangan ada dusta di antara suami isteri.[6] Karena apabila seorang suami ingin melakukan poligami karena ada sesuatu dari perkawinannya, misalnya; Karena isteri tidak mampu melahirkan, isteri nusyuz, isteri sakit dan sebaginya. Tetapi jika hanya alasan seks semata, lebih jelasnya karena maniak seks, sedangkan seks terhadap isteri yang ada tidak ada masalah, tentu masuk kelompok orang-orang yang mengikuti hawa nafsu belaka. Atas tekad dan keinginan tersebut tidak bisa sembunyi dari pengawasan Allah SWT, meski mungkin di hadapan manusia berteriak dalih menolong dan sebagainya.
Allah SWT., berfirman dalam Q.S. Al-Ankabut (29) :  52:
قُلْ كَفَى بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Terjemahnya:
Katakanlah: cukupkanlah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.[7]
4. Timbulnya Traumatik Bagi Anak.
Dengan adanya tindakan poligami seorang ayah  maka akan memicu ketidak harmonisan dalam keluarga dan membuat keluarga berantakan, walaupun tidak sampai cerai. Tapi kemudian akan timbul efek negatif, yaitu anak-anak menjadi agak trauma terhadap perkawinan dengan pria.
Sebagaimana yang terjadi dalam keluarga sebut saja namanya Irfan, ia mendapat jodoh seorang wanita yang ayahnya penganut poligami, yang hubungannya sangat tidak baik antara keluarga isteri tua dan muda, bahkan akhirnya sangat tidak baik juga terhadap isteri yang tua. Yang dominan sebabnya karena kekecewaan dan ketidakpercayaan. Isteri Irfan, zulaikha adalah anak dari isteri pertama. Trauma seorang anak sangat dirasakan hingga anak berumah tangga. Irfan merasa isterinya mempunyai sifat yang emosi. Setiap bicara nadanya tidak sekali menunjukkan kelembutan. Terutama apabila ada persoalan kecil saja, ia seperti kelihatan ngotot dan curiganya terlalu besar, bukan sekadar hal wanita, sering kali juga masalah keluarga menjadi sangat sensitif. [8]
Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia. :mrgreen:
Salam …
========================================
Baca Postingan Terkait Lainnya, klik di Sini

[1] Dedi Kusmayadi, “Memilih Poligami Mempertimbangkan Anak, “ Fajar, 22 Maret 2002, h. 4.
[2] Ibid.,
[3] Siti Sundari, Kesehatan Mental dalam Kehidupan (Cet.I; Jakarta: PT. Mahasatya, t.th), h.8.
[4] Alex sobur, Komunikasi Orang tua dan Anak ( Bandung; Angkasa: 1991), h.23.
[5] Anshorie Fahmie, Siapa Bilang Poligami Itu Sunnah? ( Cet. I; Bandung: Pustaka IImaN, 2007), h.132.
[6] Dedi Kusmayady., op.  cit., h.5.
[7] Deartemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: PT. Tanjung Mas Inti, 1992), h. 636.
[8] Anshorie fahmie., op.  cit., h 138-139.

Tidak ada komentar:

Read more: http://www.bloggerafif.com/2011/03/membuat-recent-comment-pada-blog.html#ixzz1M3tmAphZ