KIAT
MENULIS OPINI
John Gardner berkata, “Gagasan seorang penulis adalah hal-hal yang
menjadi kepeduliannya.” Kekuatan tulisan telah terbukti menjadi
picu di tiap perubahan besar, termasuk di Indonesia. Sejarah Indonesia tak bisa
lepas dari peran tulisan-tulisan yang lahir dari gagasan-gagasan besar
para founding father. Dari
zaman pergerakan nasional hingga peristiwa reformasi, pasti ada peran-peran
tulisan sakti yang menggugah. Tulisan sendiri bermacam jenisnya sesuai dengan
fungsinya. Salah satu jenis tulisan yang memiliki kekuatan dalam mempelopori
sebuah perubahan adalah jenis artikel opini.
PENGERTIAN
ARTIKEL OPINI
Hasil
kegiatan menulis adalah suatu tulisan atau karya tulis. Tulisan terdiri dari
bentuk dan isi. Bentuk adalah paparan, uraian, penyampaian gagasan melalui
susunan kata dan kalimat. Sedangkan isi adalah gagasan, pendapat, keiinginan,
usul, saran, yang kita kemukakan lewat tulisan tersebut. Dilihat dari bentuk
dan isinya, tulisan terdiri dari dua jenis (Romli, 2008), yakni fiksi dan
nonfiksi. Fiksi adalah tulisan berdasarkan imajinasi, khayalan, namun tetap
berpijak kepada gagasan nyata. Tulisan fiksi disampaikan dalam rangkaian kata
dan kalimat yang penuh gaya bahasa, metafora, personifikasi, hiperbola,
bombastisme, dan sebagainya yang dikategorikan bahasa “sastra”. Tulisan fiksi
meliputi prosa (serita pendek, novel, roman), dan puisi (sajak, lirik,
nyanyian). Sedang tulisan nonfiksi yakni tulisan berdasarkan data dan fakta.
Tulisan disampaikan dalam bahasa lugas. Tulisan nonfiksi diantaranya adalah
reportase, esai, artikel opini, dan kolom. Semua tulisan yang dimuat di surat
kabar, majalah, atau media cetak lainnya, selain dari tulisan berita disebut
dengan artikel. Dari sekian jenis tulisan nonfiksi di media massa esai, kolom, tajuk
rencana (editorial), resensi buku, dan artikel opini adalah artikel yang
sifatnya subyektif – lahir dari buah pandangan penulisnya. Itu berbeda dengan
jenis laporan atau berita yang wajib berdasarkan fakta bahkan haram jika diisi
dengan pendapat sang penulis.
Meski
sama-sama bersifat subyektif, esai, kolom, tajuk rencana, resensi buku, dan
artikel opini memiliki karakter yang berbeda. Esai adalah sebuah komposisi
prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang seubjek tertentu. Isi
esai dapat berupa analisis, penafsiran dan uraian. Untuk gaya penulisan ada
yang berpendapat esai itu bebas dan ada yang mengatakn pula teratur. Beberapa
esai justru sangat terlihat “nyastra” dengan gaya bahasanya. Sebuah esai
mengutarakan keinginan, sikap terhadap soal yang dibicarakan bahkan terkadang
menjelaskan kehidupan secara global.
Kolom
adalah sebuah rubrik khusus di media massa cetak yang berisikan karangan atau
tulisan pendek dan berisi pendapat subjektif penulisnya tentang suatu masalah
(Samsul, 2003). Kolom hampir sama dengan artikel esai dan opini hanya saja
kolom lebih pendek. Panjang sebuah kolom mungkin hanya separuh artikel opini
atau esai. Penulisan kolom tidak menggunakan struktur tertentu. Kolom langsung
berisi tubuh tulisan yakni berupa pengungkapan pokok bahasan dan pendapat
penulisanya tentang masalah tersebut. Komaidi (2007) juga mengatakan bahwa
judul kolom biasanya singkat, bahkan bisa hanya satu kata saja.
Tajuk
rencana adalah artikel utama dalam surat kabar yang berisi pandangan atau
pendapat redaksi terhadap peristiwa /isu yang sedang hangat dibicarakan. Dalam
tajuk rencana biasanya diungkapkan adanya masalah aktual, penegasan pentingnya
masalah, opini redaksi tentang masalah tersebut, kritik, dan saran atas
permasalahan, serta harapan redaksi akan peran serta pembaca (Ariwibowo, 2009).
Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus
mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan. Karena tajuk
rencana merupakan opini sebuah media maka biasanya tidak dicantumkan nama
penulis.
Berikutnya,
resensi buku adalah ulasan mengenai sebuah buku. Resensi buku menjadi artikel
yang hampir ada di tiap media cetak. Sebuah resensi buku membahas gambaran umum
yang ingin disampaikan sebuah buku. Selain menjelaskan, sebuah resensi buku
yang baik mesti memberikan ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan sebuh buku.
Samsul (2003) berpendapat bahwa seorang reviewer buku mesti memahami dan menangkap maksud pengarang
dengan karya yang dibuatnya.
Jenis
artikel yang bertumpu pada gagasan penulis adalah artikel opini. Dalam kamus
Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 2002 pengertian opini
adalah pendapat, pikiran, pendirian. Artikel opini tidak lebih dari pendapat,
pikiran, pendirian yang dituliskan. Artikel opini adalah sebuah tulisan yang
menekankan pada pendapat seseorang penulis atas suatu data, fakta, dan kejadian
berdasarkan analisis subjektif penulis sendiri (Kuncoro, 2009). Opini
dilekatkan pada artikel ilmiah populer yang dimuat di media massa seperti
koran. Artikel opini ini diletakan di halaman tengah bersama tajuk rencana dan
surat pembaca. Artikel opini ini biasanya ditulis dengan gaya ilmiah populer
karena tulisan ini ditujukan bagi pembaca umum dari majalah/koran karena
ditujukan bagi pembaca umum dari majalah/koran.
Artikel
opini adalah tulisan lepas yang berisi opini seseorang yang mengupas tuntas
suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversi dengan tujuan
untuk memberitahu (informatif), memengaruhi dan meyakinakan atau juga bisa
menghibur bagi pembacanya (bersiafat recreatif). Selain itu, artikel opini tidak terkait dengan
berita atau laporan tertentu (Sa’ud, 2009). Artikel opini biasanya menekankan
pada pendapat pribadi penulis yang memperkuat argumen logis dan pemikiran
kritis terhadap suatu masalah aktual (Komaidi, 2007). Artikel opini diterbitkan
oleh koran atau majalah. Karena tempatnya terbatas, artikel jenis ini pada
umumnya tidak terlalu panjang, hanya sekitar 4-6 halaman kuarto spasi ganda.
Berbeda dengan jurnal yang ditulis dengan gaya ilmiah akademis, pembaca artikel
opini untuk koran/majalah adalah masyarakat umum, dengan berbagai usia dan
tingkat pendidikan.
GAYA
PENULISAN ARTIKEL OPINI
Gaya
penulisan adalah kecenderungan umum bagaimana sebuah tulisan ditulis. Terdapat
empat gaya utama dalam menulis sebuah artikel opini yaitu eksposisi, deskripsi,
argumentasi, dan narasi. Masing-masing mempunyai ciri tersendiri. Kuncoro
(2009) memberikan catatan penting bahwa gaya penulisan terbut tidaklah mengikat
karena banyak pula ditemui artikel opini yang menggunakan lebih dari satu jenis
gaya penulisan.
Eksposisi. Eksopoisis
adalah tulisan yang tujuan utamanya adalah mengklarifikasi, menjelaskan,
mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan. Dalam menulis bergaya eksposisi,
penulis mencoba untuk memberi informasi dan petunjuk atas suatu hal kepada
pembaca. Ekspoisis mengandalkan strategi pengembangan paragraf seperti dengan
memberikan contoh, proses, sebab-akibat, kalasifikasi, definisi, analisis,
komparasi, dan kontras. Eksposisi terkadang dilengkapi dengan grafik, gambar,
atau statistik untuk memperjelas uraian. Alwasilah (2007) mengatakan bahwa
eksposisi juga sering disebut sebagai paparan proses.
Deskripsi. Gaya
deskripsi lebih memberi gambaran verbal terhadap sesuatu yang akan ditulis,
baik itu manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Cara penulisan
ini menggambarkan sesuatu objek atau kejadian sedemikian rupa sehingga pembaca
dibuat seolah-olah melihat dan mengalami sendiri sebuah peristiwa. Karena
mengandalkan penekanan penggambaran, tulisan jenis ini sangat mengandalkan
pencitraan yang kongkrit dan mendetail. Tulisan bergaya deskripsi cenderung
impresif dan hidup sehingga dapat menggugah hati para pembacanya. Artikel opini
deskriptif biasanya muncul untuk menjelaskan sebuah permasalahan agar lebih
bisa diselami oleh publik dan kemudian memunculkan solusi atas persoalan
tersebut.
Narasi. Narasi
sendiri berasal dari kata to
narrate, yang berarti bercerita. Cerita adalah rangkaian peristiwa atau
kejadian secara kronologis, baik fakta maupun rekaan atau fiksi. Dalam artikel
opini, gaya narasi sering digunakan untuk menjelaskan sebuah permasalahan yang
tengah terjadi dari pendapat seroang penulis. Penulis ingin menceritakan titik
inti sebuah permasalahan yang masih awam dipahami oleh hal layak.
Argumentasi. Gaya
penulisan ini adalah sebuah karangan yang membuktikan kebenaran atau
ketidakbenaran sebuah pernyataan. Tulisan argumen secara tradisional terbagi
atas dua karegori yakni indukti dan deduktif. Dalam tulisan argumentatif
penulis menggunakan berbagai strategi dan retorika sebagai alat untuk
meyakinakan pembaca tentang suatu kebenaran atau ketidakbenaran tersebut.
Argumen tulisan mengandalkan berbagai jenis pertimbangan yang bertujuan untuk
menguatkan argumentasi tersebut. Data juga menjadi hal penting untuk menguatkan
argumen yang dibangun. Biasanya tulisan ini disampaikan oleh orang yang
benar-benar memahami atau pakar terhadap permasalahan yang dibahas.
Gaya
tersebut di atas bukan saja milik artikel opini. Gaya tersebut juga bukan norma
kaku yang mesti dipilih satu dan wajib ditaatinya. Pengetahuan ihwal gaya
penulisan menjadi penting agar penulis memiliki kepekaan untuk menulis sehingga
gagasan yang disampaikan mampu dipahami. Pemahaman permasalahan yang akan
dibahas menjadi lebih penting untuk kemudian ditanggapi dengan gaya penulisan
yang sesuai. Jika diibaratkan artikel opini adalah “barang dagangan”, penulis
sebagai penjual haris cerdas menjelaskan dagangannya secara menarik dan jelas
agar pembeli tertarik untuk menggunakan dagangan tersebut.
PROSES
MENULIS ARTIKEL OPINI
Menulis
opini apalagi di media masa memang membanggakan. Terkadang mereka yang sudah
mahir menembus media masa membahas pengetian opini menjadi begitu“wow”. Artikel opini juga sering
dianggap mecerminkan penulisnya yang dianggap cerdas. Penilaian tersebut
membuat banyak orang yang mulai menyukai menulis memandang artikel opini itu
sulit. Padahal, menulis opini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Agar menulis
opini menjadi mudah, seorang penulis sebaiknya mengetahui proses kreatif dalam
penulisan yakni:
Menggali Ide. Proses
menggali ide adalah hal yang sangat penting dalam penulisan artikel opini.
Artikel opini yang wajib bersifat aktual menuntut kepekaan seorang penulis
untuk merumuskan ide dari banyak fenomena yang tengah terjadi. Ada beberapa hal
yang bisa menjadi sumber mendapatkan ide seperti membaca. Membaca bisa memberi
peluang bagi pikiran untuk merumuskan masalah yang tengah terjadi. Peristiwa
juga bisa menjadi picu munculnya gagasan. Di keseharian, baik yang dialami
sendiri mapun diketahui dari media dan cerita orang bisa menjadi sumber ide
yang aktual. Selain membaca dan dari peristiwa, menggali ide bisa dilakukan
dengan menonton film, berdiskusi, dan merenung dengan jalan membuat peta pikiran
(mind map).
Ketika
ide sudah ada di kepala, ide tersebut mesti terus dirumuskan agar menjadi tema
yang kuat. Ide atau masalah tersebut harus dianalisis dan jika memungkinkan,
lakukan riset data. Diskusikan analisis tersebut dengan banyak orang agar analisis
terhadap tema menjadi tajam dan solusi yang ditawarkan kuat. Data yang
mendukung ide tersebut juga mesti dikumpulkan. Data tersebut kelak akan
digunakan saat menulis sebagai simbol akurasi.
Brainstorming. Brainstroming
adalah proses mengeluarakan semua ide untuk menjadi lebih teratur. Oshima dan
Hague (1997) mengatakan, “Brainstorming
is a prewriting activity in which you come up with a list of ideas about a
topic. You quickly write down a list of ideas that come to your mind as you are
making about general subject or specific topic.” Dalam proses ini,
seorang penulis membuat list tantang semua yang terkait dengan ide tema yang
akan ditulis. Setelah tertuang, ide yang tercecer itu mesti diurutkan dalam
sebuah kerangka (komposisi) agar menjadi sistematis dan utuh. Wardhana (2007)
menawarkan sebuah rumus dalam membuat komposisi tulisan yang bisa menjadi
pertimbangan: judul dan paragraf pertama (lead) 10%, isi atau tubuh tulisan 80%, dan kesimpulan atau
penutup 10%. Namun demikian pertimbangan seorang penulis sendiri lebih layak
dipertimbangkan menganai bagaiman komposisi sebuah tulisan. Itu tergantung dari
bagaimana intuisi penulis untuk menyajikan tulisan yang utuh.
Membuat Judul.
Judul adalah bagian pertama yang dilihat pembaca. Judul akan sangat menentukan
seorang pembaca untuk meneruskan membaca sebuah artikel atau tidak. Oleh karena
itu, judul mesti dibuat semenarik mungkin dengan tanpa mengabaikan isi. Pada
dasarnya judul memang harus dibuat sependek mungkin namun harus jelas maknanya.
Cara yang paling mungkin adalah dengan menemukan beberapa kata kunci dari
artikel lantas merangkainya dalam sebuah farasa atau klausa. Sebagian besar
judul dengan bentuk klausa dimulai dengan kata kerja untuk membuat kesan lugas.
Penggunaan kalimat sebagai judul cukup jarang ditemukan dan bahkan sebagian
besar ahli melarangnya.
Menulis Paragraf Pertama. Paragraf pertama menjadi teramat penting karena di sinilah
pembaca akan berfikir dan menebak tantang apa tulisan tersebut. Jika
disampaikan secara menarik, pambaca akan memutuskan untuk meneruskan membaca
dan sebaliknya jika penulis gagal untuk mencitrakan tulisannya di awal,
kemungkinan pembaca akan memilih membuka rubrik berikutnya. Paragraf yang
biasanya disebut lead berfungsi
untuk menyapa pembaca. Lead mesti mencerminkan fokus dari tulisan yang akan
dibahas. Kalimat dalam lead juga mesti dipoles sedemikan rupa hingga nampak
jelas dan menggugah nafsu membaca. Meski di bagian pertama, lead tidak harus
diselesaikan terlebih dahulu. Akan lebih sempurna jika lead dirangkai setelah
seluruh tulisan selesai. Ini agar penulis bisa leluasa untuk menentukan isi
lead. Jangan ragu juga untuk berkali-kali merubah paragraf pertama karena itu
memang bagian penting.
Menulis Tubuh Tuliasan. Kuncoro (2009) menyebut tubuh tulisan yang baik dengan
istilah “tubuh yang ramping dan penuh aksesori.” Istilah itu dimaksudkan agar
sebuah tulisan bisa dinikmati pembaca dengan tanpa “mengerutkan dahi” karena
ada kejanggalan di dalamnya. Masalah yang sering muncul dari penulis yang
tengah belajar adalah rangkaian kalimat dalam tulisannya tak elegan: antara
satu kalimat ke kalimat tidak mengalir dan ide dari paragraf satu ke berikutnya
tidak terlalu terkait.
Menulis
tubuh tulisan yang baik dimulai dengan pemilihan dan penempatan kalimat yang
tepat. Kalimat dalam artikel opini sebaiknya tidak terlalu panjang dan minim
kalimat majemuk. Penulis yang baik mesti memiliki praanggapan bahwa pembacanya
itu bodoh. Oleh karena itu, penulis mesti menjelaskan hal yang diamaksud denga
senyaman mungkin. Kosakata yang dipilih juga jangan sekelas dengan jurnal
ilmiah karena pembaca itu begitu heterogen.
Kalimat
terangkai dalam sebuah paragraf. Agar paragraf mudah dipahami, penulisannya
mesti teratur dan mengalir. Kalimat pertama mengemukakan apa yang akan
diceritakan. Kalimat berikutnya mesti menjelaskan satu sisi speseifik dari
kalimat pertama. Jika nampak tulisan belum jelas, kalimat sebelumnya mesti
dijelaskan kembali pada paragraf ketiga dan seterusnya hingga kalimat pertama
menjadi utuh penjelasannya. Dalam istilah, kalimat pertama adalah topic sententece (kalimat topik) dan
kalimat berikutnya dikenal sebagai supporting
sentence (kalimat pendukung). Kalimat-kalimat tersebut mesti
disusun sesesuai mungkin. Penempatan kalimat topik bisa di awal maupun di akhir
paragraf tergantung penulis memilih paragraf deduktif atau induktif. Deduktif
adalah paragraf dengan kalimat utama berada di awal. Sebaliknya, induktif
meletakan kalimat utamanya di bagian akhir. Kepaduan atau koherensi antar
kalimat bisa ditandai dengan adanya kata ganti, kata sambung/konjungsi, atau
pengulangan kata tertentu. Beberapa konjungsi yang bisa digunakan untuk
membangun koherensi adalah:
|
Makna
|
Kata
sambung
|
|
Kualifikasi
Eksplanasi
Kontras
Komparasi
Konsekuensi
Konsensi
Amplifikasi
Penyimpulan
|
sementara
itu, daripada itu
misalnya,
contoh, jadi
akan
tetapi, tetapi, namun, bila, kendati demikian
seperti
halnya, sebagai bandingan, demikian pula, demikian halnya
jadi,
akibatnya, sehingga, maka dari itu, itulah sebabnya
namun
demikian, asalkan, dengan catatan
lebih
dari itu, lebih jauh lagi, juga, selain dari itu, memang sudah barang tentu
akhirnya,
kesimpulannya, dengan demikian, pokoknya, jadi, masalahnya, sebagai simpulan
|
Kalimat
di dalam paragraf sebaiknya juga jangan terlalu banyak agar paragraf tidak
terlalu panjang. Ada yang mengatakan sebuah paragraf minimal terdiri dari tiga
kalimat. Paragraf yang terlalu panjang bisa membuat pembaca jenuh. Pergantian
dari satu paragraf juga mesti dibuat semengalir mungkin. Pembahasan sebuah bagian
sebaiknya tuntas dalam satu paragraf dilanjut dengan poin berikutnya pada
paragraf selanjutnya. Pergantian antar paragraf yang padu juga ditandai dengan
adanya kata sambung dan pengulangan kata kunci dari paragraf sebelumnya.
Beberapa penulis menyarankan pergantian antar paragraf menggunakan pengulangan
kata kunci agar terasa lebih soft dan
tak kaku. Jika penyusunan kalimat mengenal istilah deduksi dan induksi, dalam
penyusunan paragraf juga terdapat istilah deduksi, induksi, sebab-akibat,
akibat-sebab, bahkan pro-kontra.
Istilah
penuh aksesoris bermaksud bahwa tulisan mesti berwarna. Warna itu bisa muncul
dari kosa kata yang beragam. Pengulangan kata yang sama secara berlebihan akan
membuat tulisan membosankan. Akan lebih baik jiak dalam satu tulisan, penulis
menggunakan istilah yang semakna untuk menyebut hal yang sama. Warna pada
tulisan juga bisa dimunculkan dari data valid yang digunakan untuk memperkuat
bangunan opini yang penulis buat.
Menulis Penutup. Bagiamanpun,
artikel opini harus memberikan solusi atas masalah yang tengah dibahas.
Seringkali ajakan atau penekanan terhadap solusi yang ditawarkan terdapat pada
bagian akhir. Bagian ini menjadi penting karena mencerminkan dedikasi dan
antusiasme penulis untuk benar-benar membantu menyelesaikan masalah. Penutup
juga menjadi bagian bagi penulis untuk pamitan. Penutup bisa ditandai dengan
hadirnya kata kunci: demikian,
saatnya, jadi, inilah, oleh karena itu, maka, dan sebagainya.
Penulisan penutup mesti dibuat sedemikian rupa untuk menggugah bahkan membakar
semangat pembaca.
Melakukan Editing. Hampir semua penulis mengajak penulis untuk tidak takut
salah dalam menulis. Saat menulis, seorang penulis yang baik tidak boleh
terjerembab dalam penyesalan dari tiap kesalahan dalam tiap tahap. Teruslah
menulis dengan mengalir tanpa harus merisaukan apapun. Kesalahan yang mungkin
terjadi dalam menulis memiliki waktu tersendiri untuk diperbaiki yakni saat
pengeditan. Jugaguru (2006)
membedakan pengditan atau penyuntungan menjadi penyuntingan secara redaksional
dan penyuntingan secara substansial. Secara redaksional, artikel opini yang
telah ada mesti dipastikan agar tak memiliki kesalahan kebahasaan seperti tanda
baca hingga kesalahan pengetikan. Ingat, artikel opini akan dipublikasikan pada
hal layak sehingga kesalahan kecil saja bisa membuat pembaca “mengerutkan
dahi”. Pengeditan substansial meyangkut pemeriksaan isi. Pengeditan ini sangat
penting dilakukan agar kekuatan tulusan bisa terjaga. Hal yang mesti diperiksa
adalah koherensi atau kepaduan dari artikel. Setiap kalimat dan paragraf mesti
padu, jika dirasa kurang, segeralah memperbaikinya. Akan sia-sia jiak ide besar
yang dibawa menjadi tak berarti hanya karena kesalahan yang tak disunting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar