- ISLAM DI BARAT
- Masuknya Islam di Eropa
Islam masuk ke Eropa melalui berbagai jalan. Pertama-tama Islam masuk dari arah selatan lewat Andalusia, ketika kaum muslimin menyeberangi selat Jabal Thariq menuju ke arah barat daya Eropa. Islam juga masuk kearah timur laut Eropa lewat bangsa tartar setelah Islamnya Kabilah Adz-Dzahabiyah dibawah pimpinan Uzbek Khan. Juga masuk dari arah timur Eropa melalui perantaraan orang-orang Turki Utsmani yang menaklukan sebagian besar wilayah Balkan. Kemudian mereka beranjak ke arah Eropa Tengah menaklukan Hungaria dan sampai ke timur Austria.[1]
Disamping itu melalui perang salib, pengenalan Islam melalui kontak langsung, yaitu kunjungan beberapa pastur Kristen Barat, datang ke Andalusia (spanyol) untuk belajar di sekolah-sekolah Islam yang ada di sana dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti bahasa Arab, Ilmu pasti, Ilmu falaq, Filsafat dan sebagainya.[2]
Negara Eropa lain seperti Amerika kajian-kajian sejarah menyebutkan kaum muslimin telah sampai ke Amerika sebelum datangnya orang-orang Eropa. Menurut satu catatan yang sifatnya tidak detail menyebutkan bahwa Islam telah datang dan berkembang di sana sekitar abad ke 17 M. berbeda dengan itu, Mukti Ali memperkirakan jauh sebelumnya, telah ada orang Islam di dunia baru ini sejak awal abad ke 16. Nasereddine, seorang Mesir telah menetap di Catsskills, New york pada tahun 1500-an. Begitu juga dengan Estevanico adalah seorang muslim yang telah berperan menjadi penunjuk jalan bagi penjelajah Fransiskan, Marcos de Niza di Arizona pada tahun 1539. Cristoper Columbus dalam pendaratannya ke pantai benua Amerika atas panduan navigator-navigator dan pembantu-pembantunya yang terdiri dari orang Islam yang berasal dari Andalusia dan Maroko dengan cara disewa tenaganya.[3]
Menurut Ahmad Al-Usairy Islam telah muncul di Amerika Utara pada fase-fase sebagai berikut:
Fase pertama, dimulai pada permulaan ditemukannya benua Amerika oleh Spanyol (perjalanan Cristopher Columbus) yang diantara orang-orang spanyol yang pertama terdapat sebagai kaum muslimin.
Fase kedua, tercermin pada saat sampainya kaum muslimin di Afrika. Orang-orang yang mendatangkan mereka adalah para pedagang budak dan Afrika Barat.
Fase ketiga, tercermin pada saat hijrah islam pada abad ke 19 Masehi dari Turki, Lebanon, Palestina, Suriah, dan sebagainya.[4]
Negara Eropa yang lain seperti Australia, Islam masuk ke Austarlia melalui para imigran pada tahun 1227 H / 1850 M. Penguasa mendatangkan sejumlah imigran untuk membuka daerah-daerah sahara di Austarlia, maka berdatanglah mereka dari Afganistan, Iran, dan Pakistan.mereka membangun mesjid-mesjid, dan melakukan perdagangan dengan amanah serta menyebarkan ajaran Islam. kedatangan mereka merupakan rombongan gelombang pertama. Gelombang kedua adalah hijrahnya kaum muslimin dari sejumlah Negara dalam fase yang berbeda-beda (dimulai dari tahun 1324 H / 1915 M).[5]
- Islam Dimata Orang Non Muslim Di barat
Keberadaan Islam dimata dunia khususnya dimata barat seringkali dipandang dalam berbagai macam pendapat baik itu yang bernada positif maupun negatif. Ada yang mengaggap Islam identik dengan kekerasan ataupun aksi teror terhadap agama lain dengan wadah Jihad. Apabila kita mau melihat Allah Swt, justru menurunkan Islam melalui Nabi Muhammad SAW adalah sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, memberikan keteduhan bagi umat lain bahwa islam dapat berbaur dengan yang lain dan memberikan contoh yang baik sehingga umat lain tidak merasa terganggu apalagi termusuhi oleh kita sebagai umat Islam.
w â/ä38yg÷Yt ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ã Îû ÈûïÏd9$# óOs9ur /ä.qã_Ìøä `ÏiB öNä.Ì»tÏ br& óOèdry9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍkös9Î) 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ $yJ¯RÎ) ãNä39pk÷]t ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNä.qè=tG»s% Îû ÈûïÏd9$# Oà2qã_t÷zr&ur `ÏiB öNä.Ì»tÏ (#rãyg»sßur #n?tã öNä3Å_#t÷zÎ) br& öNèdöq©9uqs? 4 `tBur öNçl°;uqtFt Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÒÈ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Mumtahanah: 8-9)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk menolong umat selain Islam, memberikan hikmah dan tauladan dan tidak melakukan penyebaran melalui pedang seperti yang dituduhkan barat dan Islam akan selalu menepati janji kecuali umat lain mengingkarinya terlebih dahulu. Dari uraian diatas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa Islam tidak pernah melakukan permusuhan dengan siapapun dan dengan dalih apapun terkecuali merasa didesak secara berlebihan oleh pihak lain.
Fundamentalisme Islam menjadi momok yang menghantui masyarakat barat, yang dianggap lebih menakutkat dari pada fundamentalisme dari agama lain yang sebenarnya sama-sama mengancam dan dipenuhi kekerasan. Ini mempengaruhi sikap bangsa barat terhadap orang muslim yang hidup di negara mereka. Lima sampai enam juta muslim bertempat tinggal di Eropa, dan tujuh sampai delapan juta di Amerika Serikat. Kini terdapat kira-kira seribu Mesjid di Jerman, seribu lagi di Perancis, dan lima ratus lagi di Britania raya. Setengah warga muslim di barat yang sekarang lahir disana berasal dari orang tua yang bermigrasi pada tahun 1950-an dan 1960-an. Mereka tidak mau seperti orang tua mereka, mereka mencari pendidikan lebih tinggi dan mereka berusaha diterima di Negara barat.[6]
Negara Eropa khususnya Amerika, Islam dianggap sebagai agama primitive yang membenarkan perbudakan, poligami, harem-harem, penindasan terhadap wanita, dan sebagainya.[7] Bagi mereka poligami merupakan polemik sampai saat ini, karena mereka memandang persoalan itu dengan kaca mata masa kini. Mereka berargumen bahwa poligami adalah cara alternative untuk melakukan perzinahan. Kelihatannya dibalik poligami demikian ada motifasi nafsu seksual yang tidak teratasi sehingga poligami menjadi saluran. Tidak hanya itu yang berpoligami juga banyak yang berzina kalau alasannya dorongan seksual yang berlebihan dan ini bukan alasan yang tepat bagi pembenaran poligami. Karena perzinahan itu adalah sesuatu perbuatan tercela dimata semua agama. Karena itu, menutupi perzinahan dengan poligami bukan cara yang bijak, sebab menikah siri tanpa memberi tahu istri pertama berarti sudah berzina.
Pandangan masyarakatpun pada umumnya keliru tentang Nabi Muhammad sering di tuduh sebagai orang yang kemasukan setan, kena halusinasi atau kena penyakit ayan yang telah berhasil mempersatukan dan membangun bangsa Arab dan fatwa-fatwanya dijadikan pedoman bangsa tersebut.[8]
Kalau mereka melihat poligami dengan kaca mata zaman hidupnya Nabi Muhammad Saw, tentu mereka memandang Islam telah menempuh langakah yang berani menuju ke arah monogami. Al-Qur’an mengharamkan poligami lebih dari empat orang Istri, pada hal sebelum Islam poligami tidak dilarang, tidak terbatas jumlahnya. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat keadilan dan kemampuan.[9] sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz wr& (#qäÜÅ¡ø)è? Îû 4uK»tGuø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/âur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz wr& (#qä9Ï÷ès? ¸oyÏnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷r& 4 y7Ï9ºs #oT÷r& wr& (#qä9qãès? ÇÌÈ
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa:3).
Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni istri seperti pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain yang bersifat lahiriyah. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat Ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad S.A.W. Ayat Ini membatasi poligami sampai empat orang saja.
- Islam Dimata Orang Muslim Di Barat
Situasi kaum muslim di Barat pada mulanya tampak sangat berbeda dengan kaum lainnya yang meskipun etnisnya beragam, namun memiliki juga kultur yahudi Kristen. Kaum muslim, seperti kaum yahudi di masa lalu, menyadari bahwa diri mereka adalah dalam konteks cultural Barat, dimana mereka sering dianggap “Orang lain”. Ini disebabkan bukan saja karena tidak tahu Islam, atau karena Islam disamakan dengan ekstremisme dan terorisme, namun juga karena tidak dapat mengapresiasi. Betapa Islam merupakan bagian dari tradisi yahudi Kristen.[10]
Berbeda dengan kalangan Non Muslim, kaum Muslimin di Eropa sangat mendambakan kesatuan umat Islam Eropa, tersebarnya Islam, lalu tegaknya masyarakat yang bersyariat Islam. Sehingga orang-orang Eropa dan sekitarnya yang belum tahu tentang Islam, dapat melihat Islam dengan benar tanpa Opini dari yang lainnya. Dengan demikian, dimungkinkan mereka akan menangkap kesan Islam dengan baik, menerima Islam dengan lapang dan bahkan pada akhirnya bisa diharapkan memeluk Islam.[11]
Besarnya pengetahuan umat Islam dalam pengetahuan mereka terhadap teks-teks keagamaaannya khususnya Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Umat Islam sering menggunakan dalil dari sumber-sumber ini ketika sedang menjelaskan akidah dan ritual-ritual mereka. Bahkan, dalam pembicaraan-pembicaraan mereka umat Islam menggunakan dalil-dalil dari teks-teks suci, jauh lebih banyak dari para pemeluk agama lain.[12]
Islam tidak melarang para pemeluknya mencapai kemajuan dan mengambil beberapa segi terbaik dari peradaban modern. Prinsip-prinsip (rukun) Islam adalah lima, yaitu syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah. Syahadat untuk mengangkat kemuliaan martabat manusia. Menegakkan shalat, jelas membersihkan diri dan mensucikan hati. Menunaikan zakat, mendekatkan hubungan antara si kaya dan si miskin. Puasa dibulan Ramadhan, menanamkan pengertian bahwa betapa pedeihnya orang yang hidup sengsara. Menunaikan ibadah haji, merupakan mu’tamar tahunan bagi kaum muslimin dan memberi kesempatan kepada para pemimpinnya untuk bertukar-fikir mengenai kesukaran-kesukaran yang dihadapi dan bagaimana jalan pemecahannya.
Islam memerintahkan manusia supaya memandang sesuatu dengan akal pikiran dan meyerasikan akal dengan naql. Sedangkan agama Nasrani jauh sekali dari kesemuanya itu. Dasar-dasar kepercayaan mereka adalah “Mengimami Mu’jizat (Miracle)”. Semua kitab Injil dalam membenarkan Al-masih bersandar pada berbagai kejadian yang menyimpan dari hukum kebiasaan orang buta, penderita kusta, dan lain sebagaianya. Dalam agama Nasrani menjauhkan diri dari keduniaan dan menghindari kenikmatan duniawi, orang yang paling jauh meninggalkan kenikmatan duniawi dialah yang paling dekat dengan Tuhan. Jadi, menurut pengertian seperti itu peradaban modern bukan peradaban Nasrani, malah bertentangan dengan agama Nasrani. Islam tidak demikian, Islam menyuruh supaya manusia memperhatikan agama dan sekaligus pula memperhatikan kehidupan dunia. [13]
Umat Nasrani menuduh Islam sebagai agama yang fanatik dan tidak kenal toleransi. Pada hal menurut kenyataannya Islam lebih toleran dari pada agama lain. Islam sama sekali tidak pernah mengenal adanya mahkamah yang mengontrol pikiran manusia, dan lain sebagainya. Adapun pandangan Islam terhadap para penganut agama yang lain, Islam cukup toleran. Islam menamakan orang-orang Nasrani dan Yahudi “Ahlul Kitab”. Mereka disebut pula dengan nama “Ahludzimmah” (orang-orang yang berbeda dikalangan kaum muslimin).
Orang-orang Eropa mempelajari Islam dari sumber-sumber yang keliru seperti: buku-buku, artikel-artikel, esei-esei dan jurnal-jurnal yang ditulis oleh para orientalis dan orang-orang amatiran yang dungu tentang Islam atau sengaja ingin memojokkan Islam. Mereka mengatakan bahwa Qur’an hanyalah suatu pedoman bagi orang-orang Arab yang merindukan suatu agama mereka sendiri yang dapat mengatur kehidupan mereka yang memang pada saat itu tengah dilanda kekacauan dan ketidakpuasan. Sering para orientalis menyebutkan bahwa Qur’an adalah ciptaan Nabi Muhammad diilhami iblis dalam mengemukakan ayat-ayat Qur’an. Oleh karena itu memang tidak ada manusia yang dapat menghasilkan Qur’an, maka pastilah Qur’an berasal dari iblis. Demikian pandangan mereka, semua itu tentu saja keliru. Kita tahu dan yakin bahwa Qur’an adalah wahyu Allah yang berbahasa sastra dan puitis, tetapi ia bukanlah karya sastra atau puisi manusia.
[1]Ahmad Al-Usyairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2008), hal. 553.
[2] Misri A. Muchsin, Studi Islam Kawasan, (Banda Aceh: Ar-Ranirry Press, 2004), hal. 145.
[3] Ibid, hal. 149-150.
[4] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam …, hal. 555-556.
[5] Ibid, hal. 556.
[6] Keren Amstrong, Islam: A Short History (Sepintas Sejarah Islam), (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2003), hal. 207.
[7] Dedy Mulyana, Islam di Amerika Suka Duka menegakkan Agama, (Bandung: Pustaka, 1988), hal. 66.
[8] Ibid, hal. 66.
[9] Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, (Bandung: Rosda Karya, 1991), hal. 211-212.
[10] John. L. Esposito, Ancaman Islam Mitos atau Realitas?, (Bandung: Mizan, 1996), hal. 212.
[11] Qadari Ahdal, Studi Wawancara dengan 10 Orang Tokoh Orientalis, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1996), hal. xvii.
[12] Jefry Lang, Islam di Mata Profesor Matematika, (Jakarta: Restu Ilahi, 2004), hal. 395.
[13] Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa …, hal. 235-236.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar