ADAB KEHIDUPAN DUNIA DAN AGAMA
Karangan:
Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Basri
al-Mawardi 450 H
Edisi revisi
Penyunting : Maktab al-Buhuts wa
ad-Diraasat
Darul Fikri
BAB II
ADAB ILMU PENGETAHUAN
Ketahuilah olehmu
bahwa ilmu adalah kemuliaan yang diinginkan oleh setiap orang, ilmu adalah
sesuatu pencarian yang paling utama, dan memacu para penuntut ilmu untuk terus
bersungguh-sungguh, ilmu adalah sesuatu yang paling berguna, dan yang
diharapkan oleh para pencari keutamaan. Hal tersebut karena ilmu memberikan
buah manis bagi pemiliknya. Keutamaan ilmu senantiasa tumbuh dan berkembang
pada diri orang yang menuntutnya, Allah berfirman:
“katakanlah wahai Muhammad! Apakah sama
antara orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan orang yang tidak memiliki ilmu
pengetahuan?”. Allah menolak adanya persamaan antara orang yang berilmu
dan yang tidak berilmu. Terlebih lagi, kedudukan spesial orang yang berilmu dan
keutamaan ilmu itu sendiri. Allah swt berfirman:
“Tidak seorangpun
yang dapat memahaminya, kecuali orang yang memiliki ilmu pengetahuan”
Dengan
demikian, tertolaklah orang yang tidak memiliki pengetahuan untuk memahami
perkara tersebut kenapa diperintahkan , ataupun kenapa sesuatu tersebut tidak
disukai.
Diriwayatkan
dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda:
“Allah mewahyukan
kepada Ibrahim as: sesungguhnya aku adalah yang Maha Tahu, oleh Karena itu Aku
menyukai orang-orang yang memiliki pengetahuan..”
Diriwayatkan
dari Abu Umamah, ia berkata: “Rasulullah saw ditanyakan tentang dua orang
laki-laki; salah seorang dari keduanya adalah orang alim sedangkan yang satunya lagi adalah orang abid
(ahli ibadah). Lalu Rasulullah saw menyatakan:
“Keutamaan seorang yang memiliki ilmu pengetahuan bila dibandingkan dengan
ahli ibadah (abid), adalah seperti keutamaan diriku dengan orang yang paling
rendah kedudukannya di antara kalian”.
Ali bin Abi
Thalib RA berkata:
” Manusia dianggap sebagai manusia apabila mereka adalah orang-orang yang
baik”
Mush’ab bin Zubair berkata kepada anaknya:
“Belajarlah ilmu pengetahuan, jika kamu memiliki harta, maka hal tersebut
malah lebih baik, tapi jika kamu tidak memiliki harta, kamu tetap memiliki harta tersebut”
Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anaknya:
“Wahai anakku belajarlah kamu tetntang ilmu pengetahuan, karena apabila kamu menjadi penghulu, kalian medapat kedudukan istimewa, apabila derajatmu ada di pertengahan, kalian akan dihaormati, dan apabila kalian berada pada derajat terendah, kalian tetap bisa hidup”.
“Wahai anakku belajarlah kamu tetntang ilmu pengetahuan, karena apabila kamu menjadi penghulu, kalian medapat kedudukan istimewa, apabila derajatmu ada di pertengahan, kalian akan dihaormati, dan apabila kalian berada pada derajat terendah, kalian tetap bisa hidup”.
Sebagian
ahli hikmah menyatakan:
“Ilmu adalah suatu kemuliaan yang
tidak ada bandingannya. Sedangkan adab adalah harta yang tidak perlu
dirisaukan”
Sebagian sastrawan berkata:
“Ilmu adalah keutamaan orang-orang termodern, berbuat dengan bekal
pengetahuan yang cukup adalah menyempurnakan kemuliaan.”
Sebagian ahli balaghah menyatakan:
“Tuntutlah ilmu, karena dengan
adanya ilmu pengetahuan, ia akan menopang kehidupanmu, dan akan mendukungmu,
jika engkau di kalangan bawah. Mengunggulkanmu jika engkau menjadi orang besar,
memperbaiki kekeliruan dan kesalahanmu, membuat segan musuh-musuhmu dan orang
yang dengki kepadamu, ilmu bisa meluruskan kebengkokanmu, meluruskan tujuan dan
harapanmu”.
Ali RA menyatakan:
“ Nilai seseorang itu adalah tergantung dari kebaikan yang ia perbuat”
Lalu kata hikmah
tersebut digubah oleh al-Khalil menjadi sebuah syair, ia menyatakan:
“Sesuatu yang bernilai tinggi itu tidaklah sama dengan sesuatu yang
bernilai rendah, Tidak juga sama orang yang memiliki intelektualitas itu sama
dengan orang bingung,
Nilai seseorang
itu adalah kebaikan yang ada pada diri seseorang itu sendiri, seperti yang
dinyatakan oleh Imam Ali RA.
“Yang tidak memahami keutamaan ilmu hanyalah orang bodoh”.
Karena
keutamaan ilmu hanyalah diketahui dengan ilmu, itulah keutamaan ilmu yang
tertinggi, karena keutamaan ilmu tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu itu
sendiri, maka manakala orang bodoh tidak mengetahui ilmu sehingga ia tidak
sampai pada keutamaan ilmu itu, niscaya itu tidak mengetahui keutamaannya.
Sehingga ia mencela orang ahli ilmu, sehngga mereka menganggapa bahwa
kecenderingidn diri mereka terhadap harta yang dapat memusakan mereka dan
kehiduan ang disenangi oleh hawa nafsunya.yang demikian itu lebih baik dari
pada mereka menerma harta tersebut,
sedangkan sebagian yang lain sibuk mengurusi harta itu. Ibnu Mu’tazz
berkata dalam buku MaNtsur al-Hikam:
Orang yang alim mengetahui orang bodoh sedangkan orang bodoh tidak
mengetahui orang alim, karena ia tidak mengetahui.
Hal ini
adalah benar, oleh karena kebodohannya tentang ilmu dan ahli ilmu, mereka
berpaling dari orang-orang zahid, menghindarkan diri dari mereka selayaknya
penghindaran diri para pembangkang, karena apabila seseorang tidak mengetahui
tentang sesuatu hal, niscaya ia akan memusuhinya.
Ibnu Lankak
berdendang kepada Abu Bakar bin Furaid
Engkau bodoh
sehingga engkau membenci ilmu pengetahuan dan orang-orang yang berkecimpung di
dalam ilmu tersebut.
Demikian juga
dengan orang yang tidak mengetahui ilmu, ia pasti memusuhinya
Barang siapa yang
berkeinginan untuk berkiprah, niscaya ia benci untuk mengucapkan :saya tidak
tahu” yang dianggapnya sebagai hal yang membunuh kereatifitasnya.
Buzurjamhir
pernah diingatkan :
“Apakah
ilmu lebih utama dengan harta?. Ia berkata: lebih utama ilmu. Tapi kenapa kita
banyak melihat para ulama lebih dekat ke rumah orang-orang yang kaya?”
sedangkan orang-orang kaya kita lihat jarang yang dekat ke rumah orang
berilmu?.
Ia menjawab:
“Hal tersebut terjadi karena ia mengetahui manfaat dari ilmu, sedangkan
orang bodoh tidak mengetahui kelebihan ilmu”
. Sebagian
ahli hikmah dikatakan:
“Apakah
tidak bisa bersatu antara ilmu dan harta?”
Lalu ia
menjawab: lebih mulia bila terjadi kesempurnaan. Banyak nasyid yang dilagukan
pada masa sekarang ini diantaranya:
Kebodohan itu
adalah kematian yang datang sebelum orang bodoh itu mati
Sedangkan tubuhnya
tersebut adalah laksana kuburan sebelum kubur yang sebenarnya.
Orang yang tidak
hidup dengan ilmu, ia adalah mati, jadi tak ada kesempatan bagi dia untuk
bangkit, kecuali pada hari kebangkitan.
Banyak ahli
ilmu yang berdiri di depan pintu orang alim dan berseru:
“Sedekahkanlah kepada kami dengan sesuatu yang tidak membuat tubuh-tubuh
kami lelah dan tidak membuat kami sakit. Lalu diberikan kepada mereka makanan dan nafkah”
. Lalu ia
menjawab:
“ Berilah fatwa kepadaku dari pembicaraan kalian yang mana hal tersebut
lebih kubutuhkan dari pada makanan yang kalian berikan. Aku adalah seorang
pencari petunjuk, bukan peminta-minta”
Kemudian
lelaki itu diizinkan untuk masuk, kemudian ia bertanya jawab, diskusi dengan
lorang alim, lalu setelah itu ia keluar dengan wajah berseri dan bangga dan ia
berkata:
“Ilmu lebih jelas dari pada pakaian, lebih baik dari harta dalam memberikan
kepuasan bagi seseorang.
Ketahuilah
olehmu bahwa setiap ilmu itu mulia, setiap ilmu memiliki keutamaan. Menguasai
seluruh ilmu adalah hal yang mustahil, para ahli hikmah menyatakan: siapakah
yang mengetahui seluruh ilmu pengetahuan?, lalu seseorang menjawab. Setiap
manusia. Diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda:
“ Barang siapa bahwa ilmu memiliki batas kesudahan, ia telah menzalimi
haknya, ia telah meletakkan ilmu tersebut tidak pada kedudukannya”.
Sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Allah tentang kedudukannya. Allah berfirman :
“Dan tidaklah diberikan kepada kalia ilmu pengetahuan, kecuali hanya
sedikit saja.”
Sebagian
ulama menyatakan:
“Seandainya kami menuntutu ilmu sungguh kami akan sampai pada ujungnya,
tetai kami memulai pengetahuan itu dar isesuatu yang kurang. Dan setlah kami
tuntutu ilmu itu, tapi semakin merasa kurang kami setiap harinya dari
kebodohan, dan ilmu kami semakin bertambah-tambah setiap harinya”
Sebagian
ulama menyatakan:
Orang yang
memperdalam pengetahuannya bagaikan buih di lautan, engkau tidak melihat adanya
tanah, teapi engkau tidak mengetahui luas dan lebarnya. Ditanyakan kepada Hamad
ar-Rawiyah:
“Apakah engkau tidak kenyang dengan ilmu-ilmu yang kau pelajari?”
Ia menjawab:
“Kami belum selesai dengan usaha-usaha kami, sehingga kami belum menemui
batasnya.
Pendapat
kami seperti yang dikemukakan di dalam sebuah syair:
Apabila kami berhenti pada satu ilmu, maka ilmu tersebut akan memiliki nama
tersendiri.
Ar-Rasyid
menyanyikan senandung yang digubah oleh al-Mahdi sebanyak dua bait , ia
mengatakan, sepertinya kedua bait ini berasal darinya:
Wahai jiwa,
berenanglah dalam lautan ilmu dan selamilah… karena manusia itu ada yang awam
dan ada yang khusus.
Tidak ada satupun
di dunia ini yang menguasainya … kecuali penguasaan oleh sesuatu yang kurang
terdapat sesuatu yang kurang juga.
Dan apabila
tidak ada jalan untuk mengetahui seluruh ilmu pengetahuan, wajiblah melakukan
ikhtiar untuk mengetahui bagian ilmu yang paling penting saja lalu melakukan
segala usaha terbaik untuk memperolehnya. Ilmu yang utama dan paling utama
adalah ilmu agama, karena dengan ilmu agamalah orang-orang dapat mendapat
petunjuk, sedangkan orang yang tidak memilikinya adalah orang-orang yang sesat.
Karena tidak sah menunaikan perintah agama bila orang tidak tahu tatacara
pengerjaannya, tidak mengetahui syarat-syarat dan ketentuan pelaksanaannya. Oleh
karena itu, Rasulullah saw bersabda:
keutamaan ilmu lebih baik dari pada keutamaan ibadah, karena hal
tersebut memang demikian adanya, karena ilmu diturunkan untuk mengerjakan
ibadah. Sedangkan ibadah yang dilakukan dengan tidak adanya ilmu orang yang mengerjakannya,
kadang-kadang hal tersebut tidak bisa disebut dengan ibadah, oleh karena itu,
ilmu agama harus dimiliki oleh setiap orang yang mukallaf. Oleh karena hal itu
Rasulullah saw bersabda:
“Menuntut ilmu diwajibkan bagi setiap muslim”.
Dari hadits di atas
terdapat dua tafsiran, yaitu:
Ilmu yang
harus dikettahui dalam menjalankan ibadah, sedangkan yang kedua adalah sederet ilmu pengetahuan yang tidak harus
dituntut adalah fardhu kifayah, sedangkan ilmu pengetahuan agama adalah ilmu
yang telah diwajibkan oleh Allah untuk dituntut terhadap semua bagian yang
termasuk dari ilmu tersebut, namun hal tersebut tidak wajib atas fardhu
kifayah. Allah berfirman :
“Maka hendaklah ada
satu orang di antara satu golongan dari mereka yang memikirikan masalah agama,
agar mereka memberikan peringatan kepada mereka, apabila mereka kembali kepada
kaumnya itu, mudah-mudahan mereka berhati-hati..”
Diriwayatkan
Abdullah bin Umar RA bahwasanya Rasulullah saw masuk ke dapa mesjid, lalu
beliau melihat dua buah majlis, salah satunya adalah mejilis yang mana mereka
mengingat Allah ta’ala dan sedangkan yang kedua mereka sedang belajar ilmu
agama. Kemudian Rasulullah saw berkata, kedua majlis ini adalah baik. Dan salah
satunya satunya sangat kusenangi dari pada yang lainnya. Adapun orang yang
mengingat Allah dan meminta kepada Allah, apabila Allah berkehendak, niscaya
Allah mengabulkannya, dan apabila Allah berkehendak, niscaya Allah
menangguhkannya. Adapun majlis salah satunya, mereka belajar fiqh, mereka
mengajarkan orang yang tidak mengerti, dan sesungguhnya aku diutus sebagai
seorang guru, lalu Rasulullah duduk di kalangan para pembahas fiqh tersebut.
diriwayatkan dari Marwan bin Janah dari Yunus bin Maisarah yang berasal dari
Rasulullah saw, bahwa ia bersabda:
“Kebaikan adalah sebuah tradisi, sedangkan keburukan adalah suatu fitnah
dan barang siapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan, niscaya Allah
memberikan pemahaman agama kepada orang itu”
Diriwayatkan
dari Nabi saw, bahwa ia bersabda:
“Yang paling terpilih dan utama dari ummatku adalah para ahli ilmu (ulama),
sedangkan ulama yang paling terpilih adalah para ahli fiqih (fuqaha).
Diriwayatkan
dari Mu’adz bin Rifa’ah dari Ibrahim bin Abdurrahman al-Adawi, ia berkata,
bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Yang menanggung pengetahuan ini adalah setiap generasi oleh para
penyeimbangnya, yang mencegah adanya pengubahan oleh orang-orang yang ekstrem,
dan perubahan oleh orang-orang yang batil, dan penafsiran melenceng oleh
orang-orang bodoh”
Diriwayatkan
dari Nabi saw bahwasanya Nabi bersabda:
“Ali adalah salah seorang khalifahku”
, lalu
mereka bertanya-tanya kepada Rasulullah:
“Siapakah para khalifahmu yang Rasulullah?”
Rasulullah
menjawab:
“Khalifahku adalah orang-orang yang menyukai sunnahku, yang mengajarkan
para hamba Allah”
Diriwayatkan
dari Hamid dari Anas bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:
“Memiliki pengetahuan(pemahaman)
dalam beragama adalah suatu kewajiban muslim, oleh karena itu, hendaknya kalian
belajar, atau mengajar, lalu kalian memahami pemahaman agama, dan janganlah
kalian meninggal dalam keadaan bodoh…”.
Diriwayatkan
dari Sulaiman bin Yasar dari Abu
Hurairah bahwa Nabi saw bersabda:
“Allah tidaklah disembah dengan
sesuatu yang lebih utama dari pada adanya pengetahuan dalam agama, dan seorang
yang paham tentang ilmu agama lebih berat bagi syaitan dari pada seribu hamba
lainnya, dan bagi setiap segala sesuatu itu memiliki tonggak, dan tonggak agama
adalah ilmu agama.
Barangkali
karena hal tersebutlah banyak orang yang cenderung mengaitkan ilmu agama dengan
ilmu-ilmu logika. Mereka beranggapan bahwa ilmu logika tersebut lebih utama
dari segi keutamaan yang dikandungnya, lebih diutamakan, sebagai pemberat dari
apa yang diperintahkan agama, dapat mengantisipasi terhadap agama dari
penyembahan semata-mata. Pembicaraan mengenai hal ini pertama kali tidaklah
luas, melainkan hanya satu bagian saja. Hal tersebut tidak terjadi pada orang
yang hatinya bersih, jiwanya sempurna karena akal/logis mencegah manusia dari
sesuatu yang membingungkan, mereka mampu berpegang teguh pada pendapatnya yang
beragam, mereka dapat memimpin hawa nafsu, saat perbuatan yang dilakukan oleh
mereka terdapat perbedaan dan pertentangan, dengan adanya akal tersebut,
kondisi mereka dapat dijernihkan dengan adanya penjelasan. Mereka tidak menerima begitu saja apa yang datang dalam
agama mereka, melainkan mereka mempelajarinya. Kemudian mereka mewajibkan
adanya akal dalam beragama, mengikuti akal tersebut, dengan kata lain dari
penjelasan di atas, bahwa agama sangat memiliki ketergantungan dengan akal. Dan
akal adaah asal bagi agama, akal dapat memutuskan semua kekurangan, mengokohkan
kebenaran, dan barang siapa yang menyia-nyiakan akal ia akan sesat dan
menyesatkan.
Dalam agama terdapat beberapa displin ilmu. Hal tersebut telahdijelaskan
oleh Imam Syafi’i ra tentang faidah dari setiap ilmu tersebut, ia berfatwa:
“Barang siapa yang belajar al-Qur’an, niscaya bertambah besarlah
nilainya, dan barang siapa yang berlajr fiqh semakin mantap posisinya, barang
siapa yang menuliskan hadits semakin kuatlah argumentasinya dan barang siapa
yang belajar ilmu hitung, niscaya semakin luaslah pengamatannya, dan barang
siapa yang belajar bahasa semakin baguslah tabiatnya, dan barang siapa yang
tidak menjaga dirinya, maka tidaklah bermanfaat ilmu yang dimilikinya.
“Saya bersumpah, menjaga diri adalah asal segala keutamaan, karena
barang siapa yang tidak menyia-nyiakan penjagaan terhadap dirinya,
menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan ilmu pengetahuan kepada
dirinya, dan hal tersebut akan mempengaruhi apa yang dikatakan oleh orang lain
kepada dirinya, niscaya ilmu yang dimilikinya akan dianggap negative,
orang-orang akan melekatkan kejelekan kepada diri seseorang itu, dan tidak
mencukupi atas anugerah ilmu yang diberikan kepadanya, karena keburukan lebih
cepat menyebar dari pada tingkah laku yang baik, keburukan lebih cepat beredar
dari pada keutamaan. Karena manusia
memang seperti itu tabiatnya, suka melakukan hal-hal yang buruk, seperti
dengki, hasut dan berdebat. Mata mereka berpaling dari kebaikan kepada hal-hal
yang buruk, mereka tidak lagi disebut sebagai orang baik, pendeknya keburukan orang yang menjaga diri
lebih cepat dikenal orang dan lebih memiliki efek dari kebaikan yang
dilakukannya.
Disebutkan dalam Mantsur al-Hakim kiasan
keburukan orang alim sama halnya seperti kapal yang karam, bersama kapal
tersebut banyak yang karam. Ditanyakan kepada nabi Isa bin Maryam:
“Siapakah manusia yang paling rentan mendapatkan fitnah?
Lalu Isa menjawab:
“Orang alim
yang melakukan keburukan. Dengan keburukan tersebut, banyak sekali orang alim
yang tergelincir, ini merupakan satu sisi kejelekannya. Adapun dari sisi lain,
bila dibandingkan dengan orang bodoh, karena keburukannya lebih tampak dan
nyata. Orang jahil menentang setiap kritikan yang dilontarkan kepadanya, terlebih
lagi orang bodoh itu melihat ilmu dari sisi negative saja, sama halnya orang
berilmu melihat orang bodoh dengan
keburukan. Rabi’ asy-Syafi’i menjelaskan keadaan ini dengan menggubah syair
sebagai berikut:
Kedudukan orang
bodoh itu bila dibandingkan dengan kedudukan orang berilmu sama seperti
kedudukan orang berilmu bila dibandingkan dengan orang bodoh.
Salah satu dari
keduanya lebih bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya, sedangkan satu lagi lebih
sungguh-sungguh lagi di dalam pekerjaannya.
Apabila kesusahan
menimpa orang yang bodoh, niscaya selesailah penentangannya terhadap orang yang
berilmu.
Yahya bin
Khalid menyatakan kepada anaknya: Engkau harus menguasai setiap ilmu
pengetahan, maka ambillah dari pengatahuan itu, karena sesungguhnya yang menjadi
musuh seseorang itu adalah kejahilan dirinya sendiri, dan aku sangat membenci
segala sesuatu yang menjadi musuh ilmu pengetahuan. Lalu ia menyanyikan:
Tuntutlah ilmu dan
ambillah semua ilmu yang kau temui, karena ketinggian martabat seseorang itu
adalah apabila ia memiliki ilmu pengetahuan
Engkau adalah musuh
bagi sesuatu yang engkau tidak tahu terhadap sesuatu itu, dan apabila engkau
menguasai ilmu tersebut engkau akan selamat.
Apabila
seseorang yang berilmu itu menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya, niscaya ia
hanya akan mengerjakan perbuatan yang seharusnya dikerjakan saja, ia akan
banyak teman penolong, dan sedikit musuh-musuhnya, serta terkumpullah pada
dirinya keutamaan ilmu dengan penjagaan diri yang baik. Dan akhirnya ia berhak
mendapatkan derajat yang tinggi dan utama. Diriwayatkan dari Abu Darda’
bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“Ulama adalah pewaris para nabi…, karena Nabi tidak mewarisi harta
kekayaan, berupa dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu pengetahuan…..
“
Abu Hurairah
meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: keutamaan Nabi dengan para ulama
itu hanya terpaut dua derajat. Sedangkan derajat ulama dengan para syuhada
hanya terpaut satu derajat saja. Sebagian ahli balaghah menyatakan:
“Sesungguhnya
bagian dari syariat itu adalah mulianya pelaksana syariat itu sendiri,
sedangkan bagi para pengkarya itu kemuliaannya adalah dengan karya terbaiknya,
dengan demikian, seharusnyalah seseorang yang dengan kecerdasannya mengutamakan
segala keutamaan, menjauhi segala kejelekan, menghindarkan dirinya dari
buruknya kebodohan dan menghiasi dirinya dengan keutamaan ilmu pengetahuan, dan
kelalaian, terus berusaha untuk menghidupkan semangatnya, selalu berminat
terhadap ilmu pengetahuan dengan memperoleh hak keutamaannya, selalu teguh memegang
manfaatnya, ia tidak dilalaikan terhadap keinginannya yang berlebihan terhadap
harta, ia tidak mengharapkan kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan
manusia. Karena orang yang kedudukannya tinggi itu hanya berhak dimiliki oleh
orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan saja”.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya hikmah menambahkan kemuliaan bagi orang-orang yang memiliki
kemuliaan, dan mampu meninggikan derajat hamba sahaya, sehingga ia berhak
mendapatkan posisi dan kedudukan setingkat dengan raja-raja dan penguasa”
Sebagian sastrawan menyatakan: setiap
kekuasaan yang tidak berlandaskan ilmu pengetahuan adalah tercela. Setiap ilmu
yang tidak dikuatkan oleh akal/logis adalah sesat. Sebagian dari ulama
klasik/salaf menyatakan: Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada manusia,
Allah menjadikan pengetahuan pada kekuasaan mereka dan kekuasaan tersebut
berada pada para ahli ilmunya.
Sebagian
ahli balaghah menyatakan:
“Ilmu adalah
pusaka kekuasaan/kerajaan, karena ilmu mencegah terjadinya kegelapan, ilmu
selalu menyebabkan kekuasaan tersebut optimis, mampu memakmurkan negeri dan
rakyatnya, dapat berlaku adil dengan memberikan hak kepada yang berhak,
sedangkan harta benda akan hilang, banyaknya harta tidak berarti memiliki
keutamaan, seandainya dalam harta tersebut banyak keutamaan, tentunya Allah
mengkhususkan harta kepada para pembawa risalah-Nya dan pemangku kenabian.
Kebanyakan para nabi Allah diberikan kekeramatan, dan kemuliaan lebih di atas
sekalian makhluk-Nya. Para nabi kebanyakan adalah orang-orang miskin yang tidak
memiliki kelebihan harta dan tidak sanggup untuk mendapatkan sesuatu hartapun
sehingga mereka menjadi orang miskin, sebagaimana disebutkan dalam suatu syair:
Fakir sebagaimana
fakirnya para nabi, juga halnya keterasingan mereka, tidaklah menjadi bencana
bagi mereka
Meskipun tidak ada
kelebihan harta, namun Allah menganugerahkan harta kepada orang kafir, dan
mengharamkannya kepada kaum mu’min sebagaimana disebutkan di dalam syair:
Betapa banyak orang
kafir dan ingkar kepada Allah disebabkan karena harta yang dimilikinya, bahkan
harta itu menambah kekufurannya
Namun orang mu’min
tidak memiliki harta bahkan bertambah keimanan mereka meskipun kondisi mereka
tetap miskin.
Wahai orang yang
mencela masa dan ondisi yang menyertainya, yang selalu menyalahkan masa
Sedangkan masa
selalu melangkah seperti yang diamanatkan kepadanya, dan hal tersebut akan
selalu seperti itu sampai kapanpun…
Ali bin Abi
Thalib menyatakan tentang keutamaan antara harta dan ilmu. Bahwa ilmu lebih
baik dari pada harta. Ilmu menjaga dirimu, sedangkan harta engkau menjaganya.
Ilmu sebagai hakim, sedangkan harta sebagai terdakwa. Para penyimpan harta akan
binasa, sedangkan para penyimpan ilmu akan tetap kekal. Mata selalu memandang
tinggi mereka, kepribadian mereka selalu teringat di dalam hati. Sebagian ulama ditanya tentang ilmu dan harta, yang
manakah yang paling utama? Ilmu ataukah harta?, mereka menjawab:
“ Jawaban dari pertanyaan ini adalah, dimanakah yang paling utama, harta
ataukah akal?...
Shalih bin Abdul Quddus berkata:
Tidaklah ada
kebaikan kepada orang yang baik pujiannya
Terhadap manusia
perkataan mereka adalah dermawan
Sebagian
orang kadangkala tidak mau menuntut ilmu karena umurnya sudah lanjut, ia merasa
malu dengan kekurangannya pada saat ia masih kecil yang mempengaruhi belajarnya
pada waktu tuanya. Kemudian ia rela dalam keadaan bodoh. Inilah yang menjadi
tipuan kebodohan, kemalasan. Karena jika seandainya pengetahuan adalah sebuah
keutamaan, maka ketertarikan orang-orang yang lebih berumur sebenarnya lebih
utama, karena melakukan keutamaan adalah perbuatan yang utama, meskipun harus
menjadi pelajar dalam umur yang telah lanjut itu lebih utama dari pada menjadi
seorang tua yang bodoh.
Diceritakan
bahwa sebagian ahli hikmah menyatakan bahwa seorang tua sebenarnya ingin sekali
menuntut ilmu namun ia merasa malu, lalu dikatakan kepada dirinya: Wahai pak
tua, apakah engkau merasa malu karena umurmu telah lanjut padahal hal itu lebih
baik dari pada engkau tetap begitu..”. diriwayatkan bahwa Ibrahim bi al-Mahdi
pada suatu hari menemui al-Ma’mun, pada saat tersebut banyak jamaah yang sedang
mendiskusikan masalah fiqih, lalu ia berkata:
“wahai pamanku…apa perlunya engkau mendengarkan apa yang mereka
diskusikan…??”
lalu
al-Ma’mun berkata:
“wahai Amirul mu’minin..kami dulu sibuk pada masa kecil, oleh karena itu
kami menyibukkan diri pada masa tua, lalu Ibrahim bertanya lagi: tidakkah
engkau tidak mempelajarinya lagi suatu hari nanti?”
lalu ia
menjawab:
“Apakah baik bagiku sama dengan orang yang menuntut ilmu?”
jawabannya:
“ Ya..demi Allah, karena mati dalam keadaan menuntut ilmu lebih baik dari
pada hidup penuh dengan kebodohan”
. Lalu ia
bertanya lagi:
“Sampai kapan seharusnya aku aku menuntu ilmu?
Lalu dijawab lagi,
selama engkau masih hidup, karena
pada masa muda hal tersebut lebih susah, jika selalu dalam kebodohan akan lebih
membawa kesusahan, karena masa untuk bersenang-senang itu tidak lama, dan tidak
seharusnya hari-hari tersebut diteruskan”
Disebutkan dalam buku Mantsur al-Hakim:
Kebodohan
pada waktu muda itu sesuatu uzur yang wajar dipahami, sedangkan ilmu yang
didapat juga tidak banyak. Sedangkan pada waktu tua, kebodohan yang melekat
pada diri seseorang itu lebih jelek, kekurangan ilmu saat tua adalah suatu
keteledoran yang sangat, karena ketinggian seorang tua adalah saat ia memeiliki
keutamaan, pada masa tersebut, ilmu tidak lagi berguna bagi dirinya, masa-masa
kebodohannya telah berlalu, sedangkan ia tidak memiliki kemuliaan. Dengan
demikian, waktu kecil lebih baik baginya, Karena harapan pada waktu kecil
tersebut lebih banyak, harapan lebih luas.
Hal tersebut disebutkan dalam
bait-bait pujangga:
Jika seandainya masa lalu tersebut tidak disebutkan tentang keutamaannya
pada manusia, maka hal tersebut disebut dengan masa kanak-kanak.
Hal tersebut tidak
berguna bagi orang awam apabila dikaji ulang, tidak memberikan kemanfaatan
sebagai ilmu ataupun keutamaan
Aku melihat masa
yang buruk terus berganti diantara para orang boodh, seakan-akan mereka tidak mengetahui
masa yang terus berlalu dan berganti itu..
Ada juga
yang beralasan bahwa mereka susah menuntut ilmu karena susahnya materi
pelajaran. Dan usaha yang dilakukannya mencegahnya untuk menuntut ilmu,
meskipun demikian, apabila ia merasa halangan tersebut lebih besar dari yang
lainnya, namun apapun alasan yang dibuatnya, sebenarnya hal tersebut adalah
sesuatu kekurangan dan mengikuti keinginan yang keliru. Seharusnya ia
meluangkan sedikit waktunya untuk belajar, karena tidaklah seluruh waktu
dipergunakan untuk berusaha, berusaha juga membutuhkan waktu untuk istirahat,
hari-hari libur. Barang siapa yang terus berusaha tanpa meluangkan waktu untuk
beristirahat, sesungguhnya ia adalah hamba dunia dan tawanan dari keinginannya.
Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:
Setiap segala sesuatu, memiliki
batas waktu luang, namun barangsiapa yang meluangkan waktu untuk menuntut ilmu,
itulah orang yang sukses.
Diriwayatkan
juga dari nabi saw, bahwa beliau bersabda:
“Jadilah ulama yang saleh, namun apabila keinginan menjadi ulama saleh
tidak tercapai, bergaullah dengan ulama, dengarkanlah pengetahuan yang
disampaikannya, niscaya engkau akan mendapat petunjuk dan mencegah keburukan
terhadap dirimu…”.
Sebagian
ulama menyatakan:
“Barang siapa yang mencintai ilmu pengetahuan, niscaya keutamaan ilmu dan
fadilahnya akan terus menyertai dirinya
. Sebagian
ahli hikmah menyatakan: “
“Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, niscaya ia menjadi baik, dan barang
siapa yang berteman dengan orang bodoh, niscaya bertambah kebodohannya, karena
hal itulah yang menyebabkan dirinya menganggap bahwa menuntut ilmu itu sulit.
Anggapan ini adalah anggapan yang keliru, dan merupakan alasan orang yang
memiliki kelemahan, karena memberitahu tentang sesuatu sebelum dimulai ujian adalah
hal yang bodoh, sama halnya bahwa takut sebelum bertanding adalah suatu
kelemahan.
Penyair berkata:
Janganlah kamu
takut terhadap suatu urusan karena kepengecutanlah yang menyebabkan dirimu
takut..
Ada
seseorang yang bertanya kepada Abu Hurairah:
“Aku ingin belajar suatu ilmu, tetapi aku takut aku akan menghilangkan ilmu
itu… “
lalu Abu
Hurairah menjawab:
“sebenarnya
membiarkan tidak menuntut ilmu itu adalah sama dengan menghilangkan ilmu
tersebut”
. hal
tersebut tidak mungkin terjadi, kecuali kemampuan berpikir rendah ataupun
kecerdasan intelektual terbatas. Seharusnya orang yang seperti itu, tidak
memiliki keinginan yang terbatas, selagi ia masih di atas batas kebodohan, ke
arah yang lebih tinggi sedikit. Karena walau bagaimanapun air yang lembut, mampu
menembus batu karang yang keras, maka bagaimanakah ilmu tidak memberi pengaruh
terhadap orang cerdas, dan yang memiliki kemauan yang kuat. Orang yang menuntut
ilmu itu senantiasa mendapat pertolongan, sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah saw:
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu,
karena mereka ridha terhadap apa yang mereka tuntut…”.
Namun, ada
juga alasan kenapa orang enggan menuntut ilmu, ia takut akan jauh dari
keluarganya, dan menghilangkan kesempatan untuk beraktifitas yang lain dengan
adanya kesibukan menuntut ilmu, sehingga ia mundur, tak mau menuntut ilmu lagi,
apabila ia melihat tulisan ilmu, ia akan lari, jika ia melihat buku, ia tidak
mau dekat-dekat dan sebagainya…fenomena ini banyak terjadi pada orang-orang
yang memiliki posisi dan kedudukan yang tinggi, namun hal tersebut sangatlah
mengkhawatirkan, padahal mereka adalah orang-orang yang berpotensi untuk
menuntut ilmu, mereka dapat melintas batas, namun mereka menganggap segala
sesuatu itu menjadi tak tercapai dan gejala-gejala negative terbayang di
bayangan mereka.
Oleh karena
itu dikatakan oleh Buzurjamhir:
“Kebodohan itu berada di dalam hati, sama halnya seperti gulma pada bumi,
yang merusak sekelilingnya.
Namun hal
tersebut dapat dikaitkan dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu
Asyats dari Abu Utsman dari Tsauban bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Bergaullah dengan manusia dengan akhlak, dan telitilah perbuatan mereka…”.
Oleh sebab
itu dikatakan oleh sebagian ahli balaghah:
Hanya sedikit
kebodohan yang kujumpai memiliki pengetahuan, dan ia tidak mengetahui tentang
harapan. Inilah tingkatan yang tidak mungkin diharapkan dapat memperbaiki
keadaan, dan jika pun ada harapan, tidak akan tercapai, karena barang siapa
yang menganggap bahwa ilmu itu tidak berguna, dan meninggalkan ilmu itu adalah
sesuatu yang sepatutnya, dan kebodohan haruslah diterima dengan lapang dada,
dan ilmu pengetahuan harus dijauhi sejauh-jauhnya, jelaslah bahwa ia
benar-benar telah tersesat, susah untuk diperbaiki, yang pasti akan celaka.
Sebagaimana
yang diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib: jadilah menjadi orang alim, ataupun
terpelajar, atau orang pendengar ataupun pencinta ilmu pengetahuan, dan
janganlah jadi orang yang kelima, niscaya kamu akan celaka. Cerita diriwayatkan
dari Khalid al-Hiza’ dari Abdurrahman bin Abi Bakar bahwasanya Rasulullah saw,
sebagai sumber sandaran sandanya. Namun, bukan berarti orang yang berada di
tengah-tengah posisi yang disebutkan di atas, adalah posisi yang bagus dan
bermanfaat, sebagaimana yang dikatakan oleh BuzurJamhir:
“Kenapa kalian masih mentolerir orang-orang bodoh?”
Lalu ia
menjawab: karena kami tidak akan membebankan kepada orang-orang buta, apabila
ia mampu melihat, dan tidak juga kepada orang-orang bisu, kecuali apabila ia
mampu berbicara.
Golongan
kelima yang disebutkan tadi adalah golongan yang tidak mementingkan ilmu
pengetahuan, mereka menganggap akal sebagai sumber kegoyahan, dengan demikian,
apakah mereka akan memperoleh kebaikan dari sikap seperti ini?
Sebagian ahli
balaghah menyatakan bahwa orang yang paling jelek adalah orang yang sama di
antara kejelekan dan kebaikan. Karena orang seperti ini mereka tidak konsisten
dengan kebaikan, orang seperti ini beranggapan bahwa kebaikan dan akal-lah yang
menyebabkan kurangnya rejeki mereka, mereka lebih banyak berpaling kepada harta
yang tidak halal, dan cenderung kepada orang-orang yang bodoh, dan orang
seperti ini amatlah banyak, sedangkan orang yang memiliki akal pikiran dan
pengetahuan adalah sedikit. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya orang
bodoh dan seterusnya. Lalu mereka melihat keadaan orang berilmu adalah
orang-orang yang tidak memiliki harta, sehingga mereka menganggap bahwa menjadi
orang bodoh adalah karunia, dan anggapan paling buruk mereka adalah bahwa kemiskinan
dan kesusahan hidup adalah khusus bagi orang yang memiliki akal, bukan untuk
orang bodoh. Demikian seterusnya dalam anggapan mereka, sampai-sampai
BuzurJamhir menyatakan:
“Apakah sesuatu yang paling aneh atau ajaib?” lalu ia menjawab sendiri pertanyaannya,
yang paling aneh dan ajaib adalah kesuksesan orang-orang bodoh dan kesialan
yang dialami oleh orang yang berakal”
Namun walau
bagaimanapun memang rejeki didapat dengan usaha dan sungguh-sungguh, bukan
dengan ilmu dan akal. Namun hikmah dari firman Allah swt menunjukkan bahwa hal
tersebut adalah bukti kekuasaannya, jika seandainya yang bisa hidup itu adalah
orang berilmu dan berakal, niscaya tidak akan hidup binatang dan hewan, hal
tersebut seperti dijelaskan oleh Abu Tamam at-Thayyi sebagai berikut:
Seorang pemuda dapat menggapai apa yang diinginkan meskipun ia orang bodoh
Seorang pemuda lagi ia gagal mendapatkan apa yang diinginkannya meskipun ia
tahu
Sungguhpun demikian, jika seandainya rejeki diberikan kepada orang yang
berakal saja, niscaya hewan ternak tidak akan ada yang hidup.
Seperti
diungkapkan oleh Ka’ab bin Zuheir bin Abi Sulma sebagai berikut:
Jika ada satu hal
yang membuatku heran, maka hal inilah yang membuatku benar-benar heran, seorang
pemuda dapat menggapai apa yang diinginkan padahal kemampuannya terbatas.
Seorang pemuda
melakukan usaha karena perkara yang tidak mampu ia memikirkannya, namun jiwa
adalah satu sedangkan minat dan keinginan berbeda-beda.
Meskipun
ilmu dan akal adalah kebahagiaan dan satu anugerah, meskipun dengan adanya ilmu
dan akal, harta akan sedikit, dan juga kesusahan. Sedangkan kebodohan adalah
suatu bencana dan keterbelakangan, meskipun harta banyak, dan banyak hal yang
bisa dipenuhi dengan adanya harta tersebut, karena kebahagiaan tidak diperoleh
dengan banyaknya harta, namun berapa banyak orang yang memiliki harta banyak
namun ia menderita dalam kehidupannya? Bagaimana mungkin seorang yang kaya
tersebut dapat bahagia jika seandainya ia hidup dalam kebodohan? Lalu bagaimana
pula halnya kita katakan bahwa orang yang berilmu itu hidupnya susah, padahal
pengetahuan yang dimilikinya mengangkat tinggi derajatnya?
Dalam buku
Mantsur al-Hakim disebutkan:
“Kenikmatan yang
dialami oleh orang bodoh itu seperti taman yang dibawahnya terdapat kotoran
binatang…”.
Sebagian
ahli hikmat menyatakan:
“Semakin baik nikmat yang didapat oleh orang bodoh, niscaya semakin
bertambah jelek keadaannya”.
Sebagian
ulama menyatakan kepada anak-anaknya:
“wahai anakku, tuntutlah ilmu, meskipun engkau tidak mendapatkan bagian
dari kehidupan dunia.., meski zaman mencelamu… aku lebih suka seandainya masa
membuatmu menderita.”
Sebagian
sastrawan menyatakan :
Dengki adalah penyakit hati yang menyembunyikan kepedihannya
Hal tersebut mengorbankan jiwa saat duka
Engkau dicerca karena memiliki ilmu pengetahuan, banyak cerita yang
menggambarkan perlakuan yang demikian.
Oleh karena itu, ketahuilah ucapan-ucapan yang baik, dan camkanlah
baik-baik
Mereka menganggap bahwa dengan menuntut ilmu, harta tidak bisa didapat
Lebih baik menjadi orang bodoh dalam hati mereka..
Wahai bangsaku,
biarkanlah aku hidup dengan harga diri yang tinggi
Karena yang membuat
diri orang itu berharga adalah sejauhmana ia dapat berlaku baik kepada semua
orang…
Oleh karena
itu, aku berlindung kepada Allah dari kebodohan yang menyesatkan, aku
mengharapkan kebahagiaan dengan anugerah akal pikiran yang dapat meluruskan
setiap kebengkokan dan cela, dengan anugerah akal dapat mengetahui mana yang
terpetunjuk dan mana yang sesat. Sebagaimana diriwayatkan hadits Rasulullah saw
yang berbunyi: apabila Allah membuat seseorang menjadi hina, Dia akan mencabut
ilmu orang tersebut.
Oleh karena itu
seharusnyalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan harus memiliki minat yang
tinggi dalam ilmu, harus dituntut, meskipun menuntut ilmu butuh banyak pengorbanan,
lebih banyak dari apa yang dilakukan, dan janganlah mencari-cari alasan untuk
meninggalkan menuntut ilmu pengetahuan, dan janganlah mencari-cari penyebab dan
biang kerok jika ilmu kita kurang.
Dalam syair disebutkan:
Janganlah engkau
mencari-cari kesalahan jika terjadi keburukan kepada orang-orang, karena
sesungguhnya orang-orang yang salahlah yang berhak mendapat kesalahan tersebut.
Kemudian hendaklah seseorang itu tidak memperdaya dirinya dengan janji-janji
bohong, dan menjanjikan dirinya dengan kesibukan yang terus menerus dengan hal
itu, karena setiap waktu adalah kesibukan yang lain, dan setiap masa memiliki
kekurangan.Kita terus berlarian untuk memenuhi kebutuhan kita, namun kehidupan
tidak pernah berhenti. Seseorang akan mati begitu pula dengan kebutuhannya,
yang tersisa hanyalah kebutuhan yang masih tersisa.
Yang
dimaksud dengan menuntut ilmu adalah menuntut ilmu yang dituntut dengan
kemudahan dari Allah, mengharapkan ridha-Nya, niat tulus, penuh dengan
kejujuran. Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda:
“Barangsiapa yang belajar ilmu pengetahuan dengan tidak berniat demi
mengharapkan ridha Allah, atau menginginkannya dengan tidak mengharapkan
keridhaan-Nya, sepantasnya ia mencari tempat di neraka saja..”
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi Muhammad saw beliau bersabda:
“Belajarlah ilmu pengetahuan sebelum ilmu tersebut diangkat….”.
Diangkatnya
ilmu berarti hilangnya para ahlinya, karena tak seorangpun diantara kita yang
mengetahui kapankah kita membutuhkan ilmu tersebut ataupun kapan dibutuhkan dan
untuk apa dibutuhkannya. Oleh karan itu, seseorang yang menuntut ilmu harus
dijauhkan dari keinginan karena riya. Karena riya adalah pekerjaan tercela dan
tidak bermanfaat, sedangkan perbuatan riya itu sangatlah menyedihkan dan tidak
diangkat derajatnya.
Diriwayatkan
dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:
“Janganlah kamu menuntut ilmu karena bermaksud riya dengan pengetahuan
tersebut kepada orang-orang bodoh, dan janganlah kamu menuntut ilmu karena
ingin berdebat dengan para ulama, barang siapa yang melakukan hal tersebut,
maka neraka adalah tempat kembalinya.
Bukanlah
berarti dengan melakukan riya adalah sebagai dilihat oleh orang lain, untuk
mengharapkan upah, tetapi maksud yang melatarbelakangi niat itulah yang mempengaruhi
rusak atau baiknya niat seseorang itu. Oleh karena itu dalam sunnah disebutkan
dari Rasulullah saw, beliau bersabda:
“tidak adalah perdebatan dilakukan, kecuali oleh orang yang munafik”.
Imam Azra’i
menyatakan:
“Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, niscaya Allah
memberikan kepada mereka sifat untuk selalu berdebat dan mereka tidak mau
bekerja atau beramal..”.
Ar-Riyasyi mendendangkan sebuah lagu
kepada Mush’ab bin Abdullah sebagai berikut:
Aku berdebat dengan orang yang menentang dengan keyakinan yang tidak mantap.
Maka aku menjadikan bagi maksud pengetahuan agamanya sebagaimana pengetahuan
diri saya.Aku meninggalkan apa yang telah kuketahui karena adanya pendapat
orang lain Namun, pikiran tidaklah sama
dengan ilmu yang didapatkan dengan yakin. Aku dan kebencian adalah suatu hal,
yang selalu berada di kiri dan di kanan. Adapun yang kuketahui telah cukup
bagiku, namun apapun yang tidak kuketahui, maka hendaklah dijauhkan dari
diriku.
Hal tersebut
telah dijelaskan oleh para ulama, yang mengatakan bagi rekan-rekan mereka:
“Janganlah kamu tertekan dengan adanya riya orang yang ingin agar dirinya
dilihat baik, karena perilaku riya adalah yang tidak diinginkan oleh seorangpun
untuk dipelajari, dan tidak diharapkan dipelajari dari seseorang…”.
Ketahuilah
olehmu, bahwa setiap segala sesuatu yang dituntut itu ada yang memotivasinya,
dan yang memotivasi terhadap sesuatu yang dituntut itu terbagi dua, yang
pertama karena adanya keinginan yang tulus (minat) atau yang kedua adalah karena adanya
ketakutan dan kehati-hatian. Oleh karena itu, hendaklah para penuntut ilmu
memiliki minat dan semangat seperti ini dalam menuntut ilmu. Karena keinginan
yang seperti ini mendapat pahala dari Allah swt karena hanya mengharapkan ridha
dari Allah swt. Adapun motivasi yang karena takut akan mendapat azab dari Allah
swt, karena meninggalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya, mengabaikan apa yang
dicela-Nya. Apabila terhimpun dalam jiwa seseorang itu niat adanya keinginan
yang tulus dan ketakutan murka Allah swt akan terhimpun di jiwa seseorang itu
kebenaran ilmu pengetahuan dan hakikat zuhud. Karena keinginan terhadap ilmu
pengetahuan adalah motivasi yang lebih kuat terjadi pada seseorang itu,
sedangkankan adanya rasa takut kepada Allah akan menyebabkan pada zuhud
seseorang. Para ahli hikmah menyatakan:
“Asal pengetahuan adalah adanya keinginan, dan buah darinya adalah
kebahagiaan, sedangkan adanya sifat zuhud disebabkan karena adanya rasa takut
kepada Allah, dan buah pengetahuan tersebut adalah ibadah. Apabila kezuhudan
dan ilmu terhimpun dalam diri seseorang, maka sesungguhnya kebahagiaan
tertinggi telah didapatkannya, dan terpancarlah keutamaan, namun apabila
keduanya terpisah, maka akan memberi mudharat bagi seseorang itu dan akan buruk
akibatnya.
Diriwayatkan
dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda:
“Barang siapa yang bertambah ilmu pengetahuannya, namun tidak bertambah
rasa zuhudnya, niscaya tidak akan ditambahkan oleh Allah berkah pada ilmu yang
dimilikinya, kecuali semakin menjauhi dari diri-Nya.
Malik bin Dinar
menyatakan:
“Barangsiapa
yang tidak dianugerahkan ilmu pengetahuan kepadanya dan da tidak memberi
manfaat bagi dirinya, dan orang yang dianugerahi ilmu pengetahuan namun ia
tidak mampu menggunakannya dengan baik. Sebagian ahli hikmah: orang yang ahli
fiqh namun ia tidak wara’ sama halnya dengan pelita: ia mampu menerangi rumah,
namun ia membakar dirinya sendiri”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar