PEUGAH YANG NA,. PEUBUET LAGEI NA,. PEUTROEK ATA NA,. BEKNA HABA PEUSUNA,. BEUNA TAINGAT WATEI NA,.

Minggu, 22 Desember 2013


ADAB KEHIDUPAN DUNIA DAN AGAMA

Karangan:
 Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Basri al-Mawardi 450 H










Edisi revisi


Penyunting : Maktab al-Buhuts wa ad-Diraasat



Darul Fikri
























BAB II
ADAB ILMU PENGETAHUAN

Ketahuilah olehmu bahwa ilmu adalah kemuliaan yang diinginkan oleh setiap orang, ilmu adalah sesuatu pencarian yang paling utama, dan memacu para penuntut ilmu untuk terus bersungguh-sungguh, ilmu adalah sesuatu yang paling berguna, dan yang diharapkan oleh para pencari keutamaan. Hal tersebut karena ilmu memberikan buah manis bagi pemiliknya. Keutamaan ilmu senantiasa tumbuh dan berkembang pada diri orang yang menuntutnya, Allah berfirman:
“katakanlah wahai Muhammad! Apakah sama antara orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan?”. Allah menolak adanya persamaan antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Terlebih lagi, kedudukan spesial orang yang berilmu dan keutamaan ilmu itu sendiri. Allah swt berfirman:
“Tidak seorangpun yang dapat memahaminya, kecuali orang yang memiliki ilmu pengetahuan”
Dengan demikian, tertolaklah orang yang tidak memiliki pengetahuan untuk memahami perkara tersebut kenapa diperintahkan , ataupun kenapa sesuatu tersebut tidak disukai.
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda:
“Allah mewahyukan kepada Ibrahim as: sesungguhnya aku adalah yang Maha Tahu, oleh Karena itu Aku menyukai orang-orang yang memiliki pengetahuan..”
Diriwayatkan dari Abu Umamah, ia berkata: “Rasulullah saw ditanyakan tentang dua orang laki-laki; salah seorang dari keduanya adalah orang alim  sedangkan yang satunya lagi adalah orang abid (ahli ibadah). Lalu Rasulullah saw menyatakan:
“Keutamaan seorang yang memiliki ilmu pengetahuan bila dibandingkan dengan ahli ibadah (abid), adalah seperti keutamaan diriku dengan orang yang paling rendah kedudukannya di antara kalian”.
Ali bin Abi Thalib RA berkata:
” Manusia dianggap sebagai manusia apabila mereka adalah orang-orang yang baik”
 Mush’ab bin Zubair berkata kepada anaknya:
“Belajarlah ilmu pengetahuan, jika kamu memiliki harta, maka hal tersebut malah lebih baik, tapi jika kamu tidak memiliki harta, kamu tetap memiliki  harta tersebut”
Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anaknya:
“Wahai anakku belajarlah kamu tetntang ilmu pengetahuan, karena apabila kamu menjadi penghulu, kalian medapat kedudukan istimewa, apabila derajatmu ada di pertengahan, kalian akan dihaormati, dan apabila kalian berada pada derajat terendah, kalian tetap bisa hidup”.
Sebagian ahli hikmah menyatakan:
 “Ilmu adalah suatu kemuliaan yang tidak ada bandingannya. Sedangkan adab adalah harta yang tidak perlu dirisaukan”
 Sebagian sastrawan berkata:
“Ilmu adalah keutamaan orang-orang termodern, berbuat dengan bekal pengetahuan yang cukup adalah menyempurnakan kemuliaan.”
 Sebagian ahli balaghah menyatakan:
 “Tuntutlah ilmu, karena dengan adanya ilmu pengetahuan, ia akan menopang kehidupanmu, dan akan mendukungmu, jika engkau di kalangan bawah. Mengunggulkanmu jika engkau menjadi orang besar, memperbaiki kekeliruan dan kesalahanmu, membuat segan musuh-musuhmu dan orang yang dengki kepadamu, ilmu bisa meluruskan kebengkokanmu, meluruskan tujuan dan harapanmu”.
 Ali RA menyatakan:
“ Nilai seseorang itu adalah tergantung dari kebaikan yang ia perbuat”
Lalu kata hikmah tersebut digubah oleh al-Khalil menjadi sebuah syair, ia menyatakan:
“Sesuatu yang bernilai tinggi itu tidaklah sama dengan sesuatu yang bernilai rendah, Tidak juga sama orang yang memiliki intelektualitas itu sama dengan orang bingung,
Nilai seseorang itu adalah kebaikan yang ada pada diri seseorang itu sendiri, seperti yang dinyatakan oleh Imam Ali RA.
“Yang tidak memahami keutamaan ilmu hanyalah orang bodoh”.
Karena keutamaan ilmu hanyalah diketahui dengan ilmu, itulah keutamaan ilmu yang tertinggi, karena keutamaan ilmu tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu itu sendiri, maka manakala orang bodoh tidak mengetahui ilmu sehingga ia tidak sampai pada keutamaan ilmu itu, niscaya itu tidak mengetahui keutamaannya. Sehingga ia mencela orang ahli ilmu, sehngga mereka menganggapa bahwa kecenderingidn diri mereka terhadap harta yang dapat memusakan mereka dan kehiduan ang disenangi oleh hawa nafsunya.yang demikian itu lebih baik dari pada mereka menerma harta tersebut,  sedangkan sebagian yang lain sibuk mengurusi harta itu. Ibnu Mu’tazz berkata dalam buku MaNtsur al-Hikam:
Orang yang alim mengetahui orang bodoh sedangkan orang bodoh tidak mengetahui orang alim, karena ia tidak mengetahui.
Hal ini adalah benar, oleh karena kebodohannya tentang ilmu dan ahli ilmu, mereka berpaling dari orang-orang zahid, menghindarkan diri dari mereka selayaknya penghindaran diri para pembangkang, karena apabila seseorang tidak mengetahui tentang sesuatu hal, niscaya ia akan memusuhinya.
Ibnu Lankak berdendang kepada Abu Bakar bin Furaid
Engkau bodoh sehingga engkau membenci ilmu pengetahuan dan orang-orang yang berkecimpung di dalam ilmu tersebut.
Demikian juga dengan orang yang tidak mengetahui ilmu, ia pasti memusuhinya
Barang siapa yang berkeinginan untuk berkiprah, niscaya ia benci untuk mengucapkan :saya tidak tahu” yang dianggapnya sebagai hal yang membunuh kereatifitasnya.
Buzurjamhir pernah diingatkan :
Apakah ilmu lebih utama dengan harta?. Ia berkata: lebih utama ilmu. Tapi kenapa kita banyak melihat para ulama lebih dekat ke rumah orang-orang yang kaya?” sedangkan orang-orang kaya kita lihat jarang yang dekat ke rumah orang berilmu?.
Ia menjawab:
“Hal tersebut terjadi karena ia mengetahui manfaat dari ilmu, sedangkan orang bodoh tidak mengetahui kelebihan ilmu”
. Sebagian ahli hikmah dikatakan:
Apakah tidak bisa bersatu antara ilmu dan harta?”
Lalu ia menjawab: lebih mulia bila terjadi kesempurnaan. Banyak nasyid yang dilagukan pada masa sekarang ini diantaranya:

Kebodohan itu adalah kematian yang datang sebelum orang bodoh itu mati
Sedangkan tubuhnya tersebut adalah laksana kuburan sebelum kubur yang sebenarnya.
Orang yang tidak hidup dengan ilmu, ia adalah mati, jadi tak ada kesempatan bagi dia untuk bangkit, kecuali pada hari kebangkitan.

Banyak ahli ilmu yang berdiri di depan pintu orang alim dan berseru:
“Sedekahkanlah kepada kami dengan sesuatu yang tidak membuat tubuh-tubuh kami lelah dan tidak membuat kami sakit. Lalu diberikan kepada mereka makanan dan nafkah”
. Lalu ia menjawab:
“ Berilah fatwa kepadaku dari pembicaraan kalian yang mana hal tersebut lebih kubutuhkan dari pada makanan yang kalian berikan. Aku adalah seorang pencari petunjuk, bukan peminta-minta”
Kemudian lelaki itu diizinkan untuk masuk, kemudian ia bertanya jawab, diskusi dengan lorang alim, lalu setelah itu ia keluar dengan wajah berseri dan bangga dan ia berkata:
“Ilmu lebih jelas dari pada pakaian, lebih baik dari harta dalam memberikan kepuasan bagi seseorang.
Ketahuilah olehmu bahwa setiap ilmu itu mulia, setiap ilmu memiliki keutamaan. Menguasai seluruh ilmu adalah hal yang mustahil, para ahli hikmah menyatakan: siapakah yang mengetahui seluruh ilmu pengetahuan?, lalu seseorang menjawab. Setiap manusia. Diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda:
“ Barang siapa bahwa ilmu memiliki batas kesudahan, ia telah menzalimi haknya, ia telah meletakkan ilmu tersebut tidak pada kedudukannya”.
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah tentang kedudukannya. Allah berfirman :
“Dan tidaklah diberikan kepada kalia ilmu pengetahuan, kecuali hanya sedikit saja.”
Sebagian ulama menyatakan:
“Seandainya kami menuntutu ilmu sungguh kami akan sampai pada ujungnya, tetai kami memulai pengetahuan itu dar isesuatu yang kurang. Dan setlah kami tuntutu ilmu itu, tapi semakin merasa kurang kami setiap harinya dari kebodohan, dan ilmu kami semakin bertambah-tambah setiap harinya”

Sebagian ulama menyatakan:
Orang yang memperdalam pengetahuannya bagaikan buih di lautan, engkau tidak melihat adanya tanah, teapi engkau tidak mengetahui luas dan lebarnya. Ditanyakan kepada Hamad ar-Rawiyah:
“Apakah engkau tidak kenyang dengan ilmu-ilmu yang kau pelajari?”
Ia menjawab:
“Kami belum selesai dengan usaha-usaha kami, sehingga kami belum menemui batasnya.
Pendapat kami seperti yang dikemukakan di dalam sebuah syair:
Apabila kami berhenti pada satu ilmu, maka ilmu tersebut akan memiliki nama tersendiri.
Ar-Rasyid menyanyikan senandung yang digubah oleh al-Mahdi sebanyak dua bait , ia mengatakan, sepertinya kedua bait ini berasal darinya:
Wahai jiwa, berenanglah dalam lautan ilmu dan selamilah… karena manusia itu ada yang awam dan ada yang khusus.

Tidak ada satupun di dunia ini yang menguasainya … kecuali penguasaan oleh sesuatu yang kurang terdapat sesuatu yang kurang juga.

Dan apabila tidak ada jalan untuk mengetahui seluruh ilmu pengetahuan, wajiblah melakukan ikhtiar untuk mengetahui bagian ilmu yang paling penting saja lalu melakukan segala usaha terbaik untuk memperolehnya. Ilmu yang utama dan paling utama adalah ilmu agama, karena dengan ilmu agamalah orang-orang dapat mendapat petunjuk, sedangkan orang yang tidak memilikinya adalah orang-orang yang sesat. Karena tidak sah menunaikan perintah agama bila orang tidak tahu tatacara pengerjaannya, tidak mengetahui syarat-syarat dan ketentuan pelaksanaannya. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda:  keutamaan ilmu lebih baik dari pada keutamaan ibadah, karena hal tersebut memang demikian adanya, karena ilmu diturunkan untuk mengerjakan ibadah. Sedangkan ibadah yang dilakukan dengan tidak adanya ilmu orang yang mengerjakannya, kadang-kadang hal tersebut tidak bisa disebut dengan ibadah, oleh karena itu, ilmu agama harus dimiliki oleh setiap orang yang mukallaf. Oleh karena hal itu Rasulullah saw bersabda:
“Menuntut ilmu diwajibkan bagi setiap muslim”.
 Dari hadits di atas terdapat dua tafsiran, yaitu:
Ilmu yang harus dikettahui dalam menjalankan ibadah, sedangkan yang kedua adalah  sederet ilmu pengetahuan yang tidak harus dituntut adalah fardhu kifayah, sedangkan ilmu pengetahuan agama adalah ilmu yang telah diwajibkan oleh Allah untuk dituntut terhadap semua bagian yang termasuk dari ilmu tersebut, namun hal tersebut tidak wajib atas fardhu kifayah. Allah berfirman :

“Maka hendaklah ada satu orang di antara satu golongan dari mereka yang memikirikan masalah agama, agar mereka memberikan peringatan kepada mereka, apabila mereka kembali kepada kaumnya itu, mudah-mudahan mereka berhati-hati..”
Diriwayatkan Abdullah bin Umar RA bahwasanya Rasulullah saw masuk ke dapa mesjid, lalu beliau melihat dua buah majlis, salah satunya adalah mejilis yang mana mereka mengingat Allah ta’ala dan sedangkan yang kedua mereka sedang belajar ilmu agama. Kemudian Rasulullah saw berkata, kedua majlis ini adalah baik. Dan salah satunya satunya sangat kusenangi dari pada yang lainnya. Adapun orang yang mengingat Allah dan meminta kepada Allah, apabila Allah berkehendak, niscaya Allah mengabulkannya, dan apabila Allah berkehendak, niscaya Allah menangguhkannya. Adapun majlis salah satunya, mereka belajar fiqh, mereka mengajarkan orang yang tidak mengerti, dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru, lalu Rasulullah duduk di kalangan para pembahas fiqh tersebut. diriwayatkan dari Marwan bin Janah dari Yunus bin Maisarah yang berasal dari Rasulullah saw, bahwa ia bersabda:
“Kebaikan adalah sebuah tradisi, sedangkan keburukan adalah suatu fitnah dan barang siapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan, niscaya Allah memberikan pemahaman agama kepada orang itu”
Diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa ia bersabda:
“Yang paling terpilih dan utama dari ummatku adalah para ahli ilmu (ulama), sedangkan ulama yang paling terpilih adalah para ahli fiqih (fuqaha).
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Rifa’ah dari Ibrahim bin Abdurrahman al-Adawi, ia berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Yang menanggung pengetahuan ini adalah setiap generasi oleh para penyeimbangnya, yang mencegah adanya pengubahan oleh orang-orang yang ekstrem, dan perubahan oleh orang-orang yang batil, dan penafsiran melenceng oleh orang-orang bodoh”
Diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya Nabi bersabda:
“Ali adalah salah seorang khalifahku”
, lalu mereka bertanya-tanya kepada Rasulullah:
“Siapakah para khalifahmu yang Rasulullah?”
Rasulullah menjawab:
“Khalifahku adalah orang-orang yang menyukai sunnahku, yang mengajarkan para hamba Allah”
Diriwayatkan dari Hamid dari Anas bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:
 “Memiliki pengetahuan(pemahaman) dalam beragama adalah suatu kewajiban muslim, oleh karena itu, hendaknya kalian belajar, atau mengajar, lalu kalian memahami pemahaman agama, dan janganlah kalian meninggal dalam keadaan bodoh…”.
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar dari Abu  Hurairah bahwa Nabi saw bersabda:
 “Allah tidaklah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari pada adanya pengetahuan dalam agama, dan seorang yang paham tentang ilmu agama lebih berat bagi syaitan dari pada seribu hamba lainnya, dan bagi setiap segala sesuatu itu memiliki tonggak, dan tonggak agama adalah ilmu agama.
Barangkali karena hal tersebutlah banyak orang yang cenderung mengaitkan ilmu agama dengan ilmu-ilmu logika. Mereka beranggapan bahwa ilmu logika tersebut lebih utama dari segi keutamaan yang dikandungnya, lebih diutamakan, sebagai pemberat dari apa yang diperintahkan agama, dapat mengantisipasi terhadap agama dari penyembahan semata-mata. Pembicaraan mengenai hal ini pertama kali tidaklah luas, melainkan hanya satu bagian saja. Hal tersebut tidak terjadi pada orang yang hatinya bersih, jiwanya sempurna karena akal/logis mencegah manusia dari sesuatu yang membingungkan, mereka mampu berpegang teguh pada pendapatnya yang beragam, mereka dapat memimpin hawa nafsu, saat perbuatan yang dilakukan oleh mereka terdapat perbedaan dan pertentangan, dengan adanya akal tersebut, kondisi mereka dapat dijernihkan dengan adanya penjelasan. Mereka tidak menerima begitu saja apa yang datang dalam agama mereka, melainkan mereka mempelajarinya. Kemudian mereka mewajibkan adanya akal dalam beragama, mengikuti akal tersebut, dengan kata lain dari penjelasan di atas, bahwa agama sangat memiliki ketergantungan dengan akal. Dan akal adaah asal bagi agama, akal dapat memutuskan semua kekurangan, mengokohkan kebenaran, dan barang siapa yang menyia-nyiakan akal ia akan sesat dan menyesatkan.
Dalam agama terdapat beberapa displin ilmu. Hal tersebut telahdijelaskan oleh Imam Syafi’i ra tentang faidah dari setiap ilmu tersebut, ia berfatwa:
“Barang siapa yang belajar al-Qur’an, niscaya bertambah besarlah nilainya, dan barang siapa yang berlajr fiqh semakin mantap posisinya, barang siapa yang menuliskan hadits semakin kuatlah argumentasinya dan barang siapa yang belajar ilmu hitung, niscaya semakin luaslah pengamatannya, dan barang siapa yang belajar bahasa semakin baguslah tabiatnya, dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya, maka tidaklah bermanfaat ilmu yang dimilikinya.
“Saya bersumpah, menjaga diri adalah asal segala keutamaan, karena barang siapa yang tidak menyia-nyiakan penjagaan terhadap dirinya, menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan ilmu pengetahuan kepada dirinya, dan hal tersebut akan mempengaruhi apa yang dikatakan oleh orang lain kepada dirinya, niscaya ilmu yang dimilikinya akan dianggap negative, orang-orang akan melekatkan kejelekan kepada diri seseorang itu, dan tidak mencukupi atas anugerah ilmu yang diberikan kepadanya, karena keburukan lebih cepat menyebar dari pada tingkah laku yang baik, keburukan lebih cepat beredar dari pada keutamaan. Karena manusia memang seperti itu tabiatnya, suka melakukan hal-hal yang buruk, seperti dengki, hasut dan berdebat. Mata mereka berpaling dari kebaikan kepada hal-hal yang buruk, mereka tidak lagi disebut sebagai orang baik,  pendeknya keburukan orang yang menjaga diri lebih cepat dikenal orang dan lebih memiliki efek dari kebaikan yang dilakukannya.
 Disebutkan dalam Mantsur al-Hakim kiasan keburukan orang alim sama halnya seperti kapal yang karam, bersama kapal tersebut banyak yang karam. Ditanyakan kepada nabi Isa bin Maryam:
“Siapakah manusia yang paling rentan mendapatkan fitnah?
 Lalu Isa menjawab:
“Orang alim yang melakukan keburukan. Dengan keburukan tersebut, banyak sekali orang alim yang tergelincir, ini merupakan satu sisi kejelekannya. Adapun dari sisi lain, bila dibandingkan dengan orang bodoh, karena keburukannya lebih tampak dan nyata. Orang jahil menentang setiap kritikan yang dilontarkan kepadanya, terlebih lagi orang bodoh itu melihat ilmu dari sisi negative saja, sama halnya orang berilmu melihat orang bodoh  dengan keburukan. Rabi’ asy-Syafi’i menjelaskan keadaan ini dengan menggubah syair sebagai berikut:
Kedudukan orang bodoh itu bila dibandingkan dengan kedudukan orang berilmu sama seperti kedudukan orang berilmu bila dibandingkan dengan orang bodoh.

Salah satu dari keduanya lebih bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya, sedangkan satu lagi lebih sungguh-sungguh lagi di dalam pekerjaannya.

Apabila kesusahan menimpa orang yang bodoh, niscaya selesailah penentangannya terhadap orang yang berilmu.

Yahya bin Khalid menyatakan kepada anaknya: Engkau harus menguasai setiap ilmu pengetahan, maka ambillah dari pengatahuan itu, karena sesungguhnya yang menjadi musuh seseorang itu adalah kejahilan dirinya sendiri, dan aku sangat membenci segala sesuatu yang menjadi musuh ilmu pengetahuan. Lalu ia menyanyikan:

Tuntutlah ilmu dan ambillah semua ilmu yang kau temui, karena ketinggian martabat seseorang itu adalah apabila ia memiliki ilmu pengetahuan

Engkau adalah musuh bagi sesuatu yang engkau tidak tahu terhadap sesuatu itu, dan apabila engkau menguasai ilmu tersebut engkau akan selamat.

Apabila seseorang yang berilmu itu menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya, niscaya ia hanya akan mengerjakan perbuatan yang seharusnya dikerjakan saja, ia akan banyak teman penolong, dan sedikit musuh-musuhnya, serta terkumpullah pada dirinya keutamaan ilmu dengan penjagaan diri yang baik. Dan akhirnya ia berhak mendapatkan derajat yang tinggi dan utama. Diriwayatkan dari Abu Darda’ bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“Ulama adalah pewaris para nabi…, karena Nabi tidak mewarisi harta kekayaan, berupa dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu pengetahuan….. “
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: keutamaan Nabi dengan para ulama itu hanya terpaut dua derajat. Sedangkan derajat ulama dengan para syuhada hanya terpaut satu derajat saja. Sebagian ahli balaghah menyatakan:
“Sesungguhnya bagian dari syariat itu adalah mulianya pelaksana syariat itu sendiri, sedangkan bagi para pengkarya itu kemuliaannya adalah dengan karya terbaiknya, dengan demikian, seharusnyalah seseorang yang dengan kecerdasannya mengutamakan segala keutamaan, menjauhi segala kejelekan, menghindarkan dirinya dari buruknya kebodohan dan menghiasi dirinya dengan keutamaan ilmu pengetahuan, dan kelalaian, terus berusaha untuk menghidupkan semangatnya, selalu berminat terhadap ilmu pengetahuan dengan memperoleh hak keutamaannya, selalu teguh memegang manfaatnya, ia tidak dilalaikan terhadap keinginannya yang berlebihan terhadap harta, ia tidak mengharapkan kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan manusia. Karena orang yang kedudukannya tinggi itu hanya berhak dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan saja”.
 Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya hikmah menambahkan kemuliaan bagi orang-orang yang memiliki kemuliaan, dan mampu meninggikan derajat hamba sahaya, sehingga ia berhak mendapatkan posisi dan kedudukan setingkat dengan raja-raja dan penguasa”
 Sebagian sastrawan menyatakan: setiap kekuasaan yang tidak berlandaskan ilmu pengetahuan adalah tercela. Setiap ilmu yang tidak dikuatkan oleh akal/logis adalah sesat. Sebagian dari ulama klasik/salaf menyatakan: Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada manusia, Allah menjadikan pengetahuan pada kekuasaan mereka dan kekuasaan tersebut berada pada para ahli ilmunya.
Sebagian ahli balaghah menyatakan:
“Ilmu adalah pusaka kekuasaan/kerajaan, karena ilmu mencegah terjadinya kegelapan, ilmu selalu menyebabkan kekuasaan tersebut optimis, mampu memakmurkan negeri dan rakyatnya, dapat berlaku adil dengan memberikan hak kepada yang berhak, sedangkan harta benda akan hilang, banyaknya harta tidak berarti memiliki keutamaan, seandainya dalam harta tersebut banyak keutamaan, tentunya Allah mengkhususkan harta kepada para pembawa risalah-Nya dan pemangku kenabian. Kebanyakan para nabi Allah diberikan kekeramatan, dan kemuliaan lebih di atas sekalian makhluk-Nya. Para nabi kebanyakan adalah orang-orang miskin yang tidak memiliki kelebihan harta dan tidak sanggup untuk mendapatkan sesuatu hartapun sehingga mereka menjadi orang miskin, sebagaimana disebutkan dalam suatu syair:

Fakir sebagaimana fakirnya para nabi, juga halnya keterasingan mereka, tidaklah menjadi bencana bagi mereka
Meskipun tidak ada kelebihan harta, namun Allah menganugerahkan harta kepada orang kafir, dan mengharamkannya kepada kaum mu’min sebagaimana disebutkan di dalam syair:
Betapa banyak orang kafir dan ingkar kepada Allah disebabkan karena harta yang dimilikinya, bahkan harta itu menambah kekufurannya
Namun orang mu’min tidak memiliki harta bahkan bertambah keimanan mereka meskipun kondisi mereka tetap miskin.
Wahai orang yang mencela masa dan ondisi yang menyertainya, yang selalu menyalahkan masa
Sedangkan masa selalu melangkah seperti yang diamanatkan kepadanya, dan hal tersebut akan selalu seperti itu sampai kapanpun…

Ali bin Abi Thalib menyatakan tentang keutamaan antara harta dan ilmu. Bahwa ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjaga dirimu, sedangkan harta engkau menjaganya. Ilmu sebagai hakim, sedangkan harta sebagai terdakwa. Para penyimpan harta akan binasa, sedangkan para penyimpan ilmu akan tetap kekal. Mata selalu memandang tinggi mereka, kepribadian mereka selalu teringat di dalam hati. Sebagian ulama ditanya tentang ilmu dan harta, yang manakah yang paling utama? Ilmu ataukah harta?, mereka menjawab:
“ Jawaban dari pertanyaan ini adalah, dimanakah yang paling utama, harta ataukah akal?...
 Shalih bin Abdul Quddus berkata:
Tidaklah ada kebaikan kepada orang yang baik pujiannya
Terhadap manusia perkataan mereka adalah dermawan

Sebagian orang kadangkala tidak mau menuntut ilmu karena umurnya sudah lanjut, ia merasa malu dengan kekurangannya pada saat ia masih kecil yang mempengaruhi belajarnya pada waktu tuanya. Kemudian ia rela dalam keadaan bodoh. Inilah yang menjadi tipuan kebodohan, kemalasan. Karena jika seandainya pengetahuan adalah sebuah keutamaan, maka ketertarikan orang-orang yang lebih berumur sebenarnya lebih utama, karena melakukan keutamaan adalah perbuatan yang utama, meskipun harus menjadi pelajar dalam umur yang telah lanjut itu lebih utama dari pada menjadi seorang tua yang bodoh.
Diceritakan bahwa sebagian ahli hikmah menyatakan bahwa seorang tua sebenarnya ingin sekali menuntut ilmu namun ia merasa malu, lalu dikatakan kepada dirinya: Wahai pak tua, apakah engkau merasa malu karena umurmu telah lanjut padahal hal itu lebih baik dari pada engkau tetap begitu..”. diriwayatkan bahwa Ibrahim bi al-Mahdi pada suatu hari menemui al-Ma’mun, pada saat tersebut banyak jamaah yang sedang mendiskusikan masalah fiqih, lalu ia berkata:
“wahai pamanku…apa perlunya engkau mendengarkan apa yang mereka diskusikan…??”
lalu al-Ma’mun berkata:
“wahai Amirul mu’minin..kami dulu sibuk pada masa kecil, oleh karena itu kami menyibukkan diri pada masa tua, lalu Ibrahim bertanya lagi: tidakkah engkau tidak mempelajarinya lagi suatu hari nanti?”
lalu ia menjawab:
“Apakah baik bagiku sama dengan orang yang menuntut ilmu?”
jawabannya:
“ Ya..demi Allah, karena mati dalam keadaan menuntut ilmu lebih baik dari pada hidup penuh dengan kebodohan”
. Lalu ia bertanya lagi:
“Sampai kapan seharusnya aku aku menuntu ilmu?
 Lalu dijawab lagi,
 selama engkau masih hidup, karena pada masa muda hal tersebut lebih susah, jika selalu dalam kebodohan akan lebih membawa kesusahan, karena masa untuk bersenang-senang itu tidak lama, dan tidak seharusnya hari-hari tersebut diteruskan”
 Disebutkan dalam buku Mantsur al-Hakim:
Kebodohan pada waktu muda itu sesuatu uzur yang wajar dipahami, sedangkan ilmu yang didapat juga tidak banyak. Sedangkan pada waktu tua, kebodohan yang melekat pada diri seseorang itu lebih jelek, kekurangan ilmu saat tua adalah suatu keteledoran yang sangat, karena ketinggian seorang tua adalah saat ia memeiliki keutamaan, pada masa tersebut, ilmu tidak lagi berguna bagi dirinya, masa-masa kebodohannya telah berlalu, sedangkan ia tidak memiliki kemuliaan. Dengan demikian, waktu kecil lebih baik baginya, Karena harapan pada waktu kecil tersebut lebih banyak, harapan lebih luas.
Hal tersebut disebutkan dalam bait-bait  pujangga:
Jika seandainya masa lalu tersebut tidak disebutkan tentang keutamaannya pada manusia, maka hal tersebut disebut dengan masa kanak-kanak.
Hal tersebut tidak berguna bagi orang awam apabila dikaji ulang, tidak memberikan kemanfaatan sebagai ilmu ataupun keutamaan
Aku melihat masa yang buruk terus berganti diantara para orang boodh, seakan-akan mereka tidak mengetahui masa yang terus berlalu dan berganti itu..

Ada juga yang beralasan bahwa mereka susah menuntut ilmu karena susahnya materi pelajaran. Dan usaha yang dilakukannya mencegahnya untuk menuntut ilmu, meskipun demikian, apabila ia merasa halangan tersebut lebih besar dari yang lainnya, namun apapun alasan yang dibuatnya, sebenarnya hal tersebut adalah sesuatu kekurangan dan mengikuti keinginan yang keliru. Seharusnya ia meluangkan sedikit waktunya untuk belajar, karena tidaklah seluruh waktu dipergunakan untuk berusaha, berusaha juga membutuhkan waktu untuk istirahat, hari-hari libur. Barang siapa yang terus berusaha tanpa meluangkan waktu untuk beristirahat, sesungguhnya ia adalah hamba dunia dan tawanan dari keinginannya. Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:
Setiap segala sesuatu, memiliki batas waktu luang, namun barangsiapa yang meluangkan waktu untuk menuntut ilmu, itulah orang yang sukses.
Diriwayatkan juga dari nabi saw, bahwa beliau bersabda:
“Jadilah ulama yang saleh, namun apabila keinginan menjadi ulama saleh tidak tercapai, bergaullah dengan ulama, dengarkanlah pengetahuan yang disampaikannya, niscaya engkau akan mendapat petunjuk dan mencegah keburukan terhadap dirimu…”.
Sebagian ulama menyatakan: 
“Barang siapa yang mencintai ilmu pengetahuan, niscaya keutamaan ilmu dan fadilahnya akan terus menyertai dirinya
. Sebagian ahli hikmah menyatakan: “
“Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, niscaya ia menjadi baik, dan barang siapa yang berteman dengan orang bodoh, niscaya bertambah kebodohannya, karena hal itulah yang menyebabkan dirinya menganggap bahwa menuntut ilmu itu sulit. Anggapan ini adalah anggapan yang keliru, dan merupakan alasan orang yang memiliki kelemahan, karena memberitahu tentang sesuatu sebelum dimulai ujian adalah hal yang bodoh, sama halnya bahwa takut sebelum bertanding adalah suatu kelemahan.
 Penyair berkata:
Janganlah kamu takut terhadap suatu urusan karena kepengecutanlah yang menyebabkan dirimu takut..

Ada seseorang yang bertanya kepada Abu Hurairah:
“Aku ingin belajar suatu ilmu, tetapi aku takut aku akan menghilangkan ilmu itu… “
lalu Abu Hurairah menjawab:
sebenarnya membiarkan tidak menuntut ilmu itu adalah sama dengan menghilangkan ilmu tersebut”
. hal tersebut tidak mungkin terjadi, kecuali kemampuan berpikir rendah ataupun kecerdasan intelektual terbatas. Seharusnya orang yang seperti itu, tidak memiliki keinginan yang terbatas, selagi ia masih di atas batas kebodohan, ke arah yang lebih tinggi sedikit. Karena walau bagaimanapun air yang lembut, mampu menembus batu karang yang keras, maka bagaimanakah ilmu tidak memberi pengaruh terhadap orang cerdas, dan yang memiliki kemauan yang kuat. Orang yang menuntut ilmu itu senantiasa mendapat pertolongan, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu, karena mereka ridha terhadap apa yang mereka tuntut…”.
Namun, ada juga alasan kenapa orang enggan menuntut ilmu, ia takut akan jauh dari keluarganya, dan menghilangkan kesempatan untuk beraktifitas yang lain dengan adanya kesibukan menuntut ilmu, sehingga ia mundur, tak mau menuntut ilmu lagi, apabila ia melihat tulisan ilmu, ia akan lari, jika ia melihat buku, ia tidak mau dekat-dekat dan sebagainya…fenomena ini banyak terjadi pada orang-orang yang memiliki posisi dan kedudukan yang tinggi, namun hal tersebut sangatlah mengkhawatirkan, padahal mereka adalah orang-orang yang berpotensi untuk menuntut ilmu, mereka dapat melintas batas, namun mereka menganggap segala sesuatu itu menjadi tak tercapai dan gejala-gejala negative terbayang di bayangan mereka.
Oleh karena itu dikatakan oleh Buzurjamhir:
“Kebodohan itu berada di dalam hati, sama halnya seperti gulma pada bumi, yang merusak sekelilingnya.
Namun hal tersebut dapat dikaitkan dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Asyats dari Abu Utsman dari Tsauban bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Bergaullah dengan manusia dengan akhlak, dan telitilah perbuatan mereka…”.
Oleh sebab itu dikatakan oleh sebagian ahli balaghah:
Hanya sedikit kebodohan yang kujumpai memiliki pengetahuan, dan ia tidak mengetahui tentang harapan. Inilah tingkatan yang tidak mungkin diharapkan dapat memperbaiki keadaan, dan jika pun ada harapan, tidak akan tercapai, karena barang siapa yang menganggap bahwa ilmu itu tidak berguna, dan meninggalkan ilmu itu adalah sesuatu yang sepatutnya, dan kebodohan haruslah diterima dengan lapang dada, dan ilmu pengetahuan harus dijauhi sejauh-jauhnya, jelaslah bahwa ia benar-benar telah tersesat, susah untuk diperbaiki, yang pasti akan celaka.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib: jadilah menjadi orang alim, ataupun terpelajar, atau orang pendengar ataupun pencinta ilmu pengetahuan, dan janganlah jadi orang yang kelima, niscaya kamu akan celaka. Cerita diriwayatkan dari Khalid al-Hiza’ dari Abdurrahman bin Abi Bakar bahwasanya Rasulullah saw, sebagai sumber sandaran sandanya. Namun, bukan berarti orang yang berada di tengah-tengah posisi yang disebutkan di atas, adalah posisi yang bagus dan bermanfaat, sebagaimana yang dikatakan oleh BuzurJamhir:
“Kenapa kalian masih mentolerir orang-orang bodoh?”
Lalu ia menjawab: karena kami tidak akan membebankan kepada orang-orang buta, apabila ia mampu melihat, dan tidak juga kepada orang-orang bisu, kecuali apabila ia mampu berbicara.
Golongan kelima yang disebutkan tadi adalah golongan yang tidak mementingkan ilmu pengetahuan, mereka menganggap akal sebagai sumber kegoyahan, dengan demikian, apakah mereka akan memperoleh kebaikan dari sikap seperti ini?
Sebagian ahli balaghah menyatakan bahwa orang yang paling jelek adalah orang yang sama di antara kejelekan dan kebaikan. Karena orang seperti ini mereka tidak konsisten dengan kebaikan, orang seperti ini beranggapan bahwa kebaikan dan akal-lah yang menyebabkan kurangnya rejeki mereka, mereka lebih banyak berpaling kepada harta yang tidak halal, dan cenderung kepada orang-orang yang bodoh, dan orang seperti ini amatlah banyak, sedangkan orang yang memiliki akal pikiran dan pengetahuan adalah sedikit. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya orang bodoh dan seterusnya. Lalu mereka melihat keadaan orang berilmu adalah orang-orang yang tidak memiliki harta, sehingga mereka menganggap bahwa menjadi orang bodoh adalah karunia, dan anggapan paling buruk mereka adalah bahwa kemiskinan dan kesusahan hidup adalah khusus bagi orang yang memiliki akal, bukan untuk orang bodoh. Demikian seterusnya dalam anggapan mereka, sampai-sampai BuzurJamhir menyatakan:
“Apakah sesuatu yang paling aneh atau ajaib?” lalu ia menjawab sendiri pertanyaannya, yang paling aneh dan ajaib adalah kesuksesan orang-orang bodoh dan kesialan yang dialami oleh orang yang berakal”
Namun walau bagaimanapun memang rejeki didapat dengan usaha dan sungguh-sungguh, bukan dengan ilmu dan akal. Namun hikmah dari firman Allah swt menunjukkan bahwa hal tersebut adalah bukti kekuasaannya, jika seandainya yang bisa hidup itu adalah orang berilmu dan berakal, niscaya tidak akan hidup binatang dan hewan, hal tersebut seperti dijelaskan oleh Abu Tamam at-Thayyi sebagai berikut:
Seorang pemuda dapat menggapai apa yang diinginkan meskipun ia orang bodoh
Seorang pemuda lagi ia gagal mendapatkan apa yang diinginkannya meskipun ia tahu
Sungguhpun demikian, jika seandainya rejeki diberikan kepada orang yang berakal saja, niscaya hewan ternak tidak akan ada yang hidup.

Seperti diungkapkan oleh Ka’ab bin Zuheir bin Abi Sulma sebagai berikut:

Jika ada satu hal yang membuatku heran, maka hal inilah yang membuatku benar-benar heran, seorang pemuda dapat menggapai apa yang diinginkan padahal kemampuannya terbatas.
Seorang pemuda melakukan usaha karena perkara yang tidak mampu ia memikirkannya, namun jiwa adalah satu sedangkan minat dan keinginan berbeda-beda.
Meskipun ilmu dan akal adalah kebahagiaan dan satu anugerah, meskipun dengan adanya ilmu dan akal, harta akan sedikit, dan juga kesusahan. Sedangkan kebodohan adalah suatu bencana dan keterbelakangan, meskipun harta banyak, dan banyak hal yang bisa dipenuhi dengan adanya harta tersebut, karena kebahagiaan tidak diperoleh dengan banyaknya harta, namun berapa banyak orang yang memiliki harta banyak namun ia menderita dalam kehidupannya? Bagaimana mungkin seorang yang kaya tersebut dapat bahagia jika seandainya ia hidup dalam kebodohan? Lalu bagaimana pula halnya kita katakan bahwa orang yang berilmu itu hidupnya susah, padahal pengetahuan yang dimilikinya mengangkat tinggi derajatnya?
Dalam buku Mantsur al-Hakim disebutkan:
“Kenikmatan yang dialami oleh orang bodoh itu seperti taman yang dibawahnya terdapat kotoran binatang…”.
Sebagian ahli hikmat menyatakan:

“Semakin baik nikmat yang didapat oleh orang bodoh, niscaya semakin bertambah jelek keadaannya”.
Sebagian ulama menyatakan kepada anak-anaknya:
“wahai anakku, tuntutlah ilmu, meskipun engkau tidak mendapatkan bagian dari kehidupan dunia.., meski zaman mencelamu… aku lebih suka seandainya masa membuatmu menderita.
Sebagian sastrawan menyatakan :
Dengki adalah penyakit hati yang menyembunyikan kepedihannya
Hal tersebut mengorbankan jiwa saat duka
Engkau dicerca karena memiliki ilmu pengetahuan, banyak cerita yang menggambarkan perlakuan yang demikian.
Oleh karena itu, ketahuilah ucapan-ucapan yang baik, dan camkanlah baik-baik
Mereka menganggap bahwa dengan menuntut ilmu, harta tidak bisa didapat
Lebih baik menjadi orang bodoh dalam hati mereka..
Wahai bangsaku, biarkanlah aku hidup dengan harga diri yang tinggi
Karena yang membuat diri orang itu berharga adalah sejauhmana ia dapat berlaku baik kepada semua orang…

Oleh karena itu, aku berlindung kepada Allah dari kebodohan yang menyesatkan, aku mengharapkan kebahagiaan dengan anugerah akal pikiran yang dapat meluruskan setiap kebengkokan dan cela, dengan anugerah akal dapat mengetahui mana yang terpetunjuk dan mana yang sesat. Sebagaimana diriwayatkan hadits Rasulullah saw yang berbunyi: apabila Allah membuat seseorang menjadi hina, Dia akan mencabut ilmu orang tersebut.
Oleh karena itu seharusnyalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan harus memiliki minat yang tinggi dalam ilmu, harus dituntut, meskipun menuntut ilmu butuh banyak pengorbanan, lebih banyak dari apa yang dilakukan, dan janganlah mencari-cari alasan untuk meninggalkan menuntut ilmu pengetahuan, dan janganlah mencari-cari penyebab dan biang kerok jika ilmu kita kurang.
Dalam syair disebutkan:
Janganlah engkau mencari-cari kesalahan jika terjadi keburukan kepada orang-orang, karena sesungguhnya orang-orang yang salahlah yang berhak mendapat kesalahan tersebut. Kemudian hendaklah seseorang itu tidak memperdaya dirinya dengan janji-janji bohong, dan menjanjikan dirinya dengan kesibukan yang terus menerus dengan hal itu, karena setiap waktu adalah kesibukan yang lain, dan setiap masa memiliki kekurangan.Kita terus berlarian untuk memenuhi kebutuhan kita, namun kehidupan tidak pernah berhenti. Seseorang akan mati begitu pula dengan kebutuhannya, yang tersisa hanyalah kebutuhan yang masih tersisa.

Yang dimaksud dengan menuntut ilmu adalah menuntut ilmu yang dituntut dengan kemudahan dari Allah, mengharapkan ridha-Nya, niat tulus, penuh dengan kejujuran. Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda:
“Barangsiapa yang belajar ilmu pengetahuan dengan tidak berniat demi mengharapkan ridha Allah, atau menginginkannya dengan tidak mengharapkan keridhaan-Nya, sepantasnya ia mencari tempat di neraka saja..”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi Muhammad saw beliau bersabda:
“Belajarlah ilmu pengetahuan sebelum ilmu tersebut diangkat….”.
Diangkatnya ilmu berarti hilangnya para ahlinya, karena tak seorangpun diantara kita yang mengetahui kapankah kita membutuhkan ilmu tersebut ataupun kapan dibutuhkan dan untuk apa dibutuhkannya. Oleh karan itu, seseorang yang menuntut ilmu harus dijauhkan dari keinginan karena riya. Karena riya adalah pekerjaan tercela dan tidak bermanfaat, sedangkan perbuatan riya itu sangatlah menyedihkan dan tidak diangkat derajatnya.
Diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:
“Janganlah kamu menuntut ilmu karena bermaksud riya dengan pengetahuan tersebut kepada orang-orang bodoh, dan janganlah kamu menuntut ilmu karena ingin berdebat dengan para ulama, barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka neraka adalah tempat kembalinya.
Bukanlah berarti dengan melakukan riya adalah sebagai dilihat oleh orang lain, untuk mengharapkan upah, tetapi maksud yang melatarbelakangi niat itulah yang mempengaruhi rusak atau baiknya niat seseorang itu. Oleh karena itu dalam sunnah disebutkan dari Rasulullah saw, beliau bersabda:
“tidak adalah perdebatan dilakukan, kecuali oleh orang yang munafik”.
Imam Azra’i menyatakan:
“Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, niscaya Allah memberikan kepada mereka sifat untuk selalu berdebat dan mereka tidak mau bekerja atau beramal..”.
Ar-Riyasyi mendendangkan sebuah lagu kepada Mush’ab bin Abdullah sebagai berikut:
Aku berdebat dengan orang yang menentang dengan keyakinan yang tidak mantap. Maka aku menjadikan bagi maksud pengetahuan agamanya sebagaimana pengetahuan diri saya.Aku meninggalkan apa yang telah kuketahui karena adanya pendapat orang lain  Namun, pikiran tidaklah sama dengan ilmu yang didapatkan dengan yakin. Aku dan kebencian adalah suatu hal, yang selalu berada di kiri dan di kanan. Adapun yang kuketahui telah cukup bagiku, namun apapun yang tidak kuketahui, maka hendaklah dijauhkan dari diriku.

Hal tersebut telah dijelaskan oleh para ulama, yang mengatakan bagi rekan-rekan mereka:
“Janganlah kamu tertekan dengan adanya riya orang yang ingin agar dirinya dilihat baik, karena perilaku riya adalah yang tidak diinginkan oleh seorangpun untuk dipelajari, dan tidak diharapkan dipelajari dari seseorang…”.

Ketahuilah olehmu, bahwa setiap segala sesuatu yang dituntut itu ada yang memotivasinya, dan yang memotivasi terhadap sesuatu yang dituntut itu terbagi dua, yang pertama karena adanya keinginan yang tulus (minat)  atau yang kedua adalah karena adanya ketakutan dan kehati-hatian. Oleh karena itu, hendaklah para penuntut ilmu memiliki minat dan semangat seperti ini dalam menuntut ilmu. Karena keinginan yang seperti ini mendapat pahala dari Allah swt karena hanya mengharapkan ridha dari Allah swt. Adapun motivasi yang karena takut akan mendapat azab dari Allah swt, karena meninggalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya, mengabaikan apa yang dicela-Nya. Apabila terhimpun dalam jiwa seseorang itu niat adanya keinginan yang tulus dan ketakutan murka Allah swt akan terhimpun di jiwa seseorang itu kebenaran ilmu pengetahuan dan hakikat zuhud. Karena keinginan terhadap ilmu pengetahuan adalah motivasi yang lebih kuat terjadi pada seseorang itu, sedangkankan adanya rasa takut kepada Allah akan menyebabkan pada zuhud seseorang. Para ahli hikmah menyatakan:
“Asal pengetahuan adalah adanya keinginan, dan buah darinya adalah kebahagiaan, sedangkan adanya sifat zuhud disebabkan karena adanya rasa takut kepada Allah, dan buah pengetahuan tersebut adalah ibadah. Apabila kezuhudan dan ilmu terhimpun dalam diri seseorang, maka sesungguhnya kebahagiaan tertinggi telah didapatkannya, dan terpancarlah keutamaan, namun apabila keduanya terpisah, maka akan memberi mudharat bagi seseorang itu dan akan buruk akibatnya.
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda:
“Barang siapa yang bertambah ilmu pengetahuannya, namun tidak bertambah rasa zuhudnya, niscaya tidak akan ditambahkan oleh Allah berkah pada ilmu yang dimilikinya, kecuali semakin menjauhi dari diri-Nya.
Malik bin Dinar menyatakan:
“Barangsiapa yang tidak dianugerahkan ilmu pengetahuan kepadanya dan da tidak memberi manfaat bagi dirinya, dan orang yang dianugerahi ilmu pengetahuan namun ia tidak mampu menggunakannya dengan baik. Sebagian ahli hikmah: orang yang ahli fiqh namun ia tidak wara’ sama halnya dengan pelita: ia mampu menerangi rumah, namun ia membakar dirinya sendiri”.








Tidak ada komentar:

Read more: http://www.bloggerafif.com/2011/03/membuat-recent-comment-pada-blog.html#ixzz1M3tmAphZ