PEUGAH YANG NA,. PEUBUET LAGEI NA,. PEUTROEK ATA NA,. BEKNA HABA PEUSUNA,. BEUNA TAINGAT WATEI NA,.

Minggu, 22 Desember 2013

MULTIKULTUR


KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
DALAM MERESPON TANTANGAN GLOBALISASI
Analisis Pemikiran H.A.R Tilaar


USULAN PENELITIAN

PENELITI
Muhammad Thoif Maulana
NPM: 03 01 0 3477


http://dc344.4shared.com/doc/n50YuGTe/preview_html_5635728a.gif













INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDY PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
MARET 2007

KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
DALAM MERESPON TANTANGAN GLOBALISASI
Analisis Pemikiran H.A.R Tilaar
1.      Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah salah satu Negara yang multikultural terbesar di dunia, kebenaran dari peryataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Dengan jumlah yang ada di wilayah NKRI sekitar kurang lebih 13.000 pulau besar dan kecil, dan jumlah penduduk kurang lebih 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti islam, katholik, Kristen protestan, hindu, budha, konghucu, serta berbagai macam kepercayaan.
Keragaman ini diakui atau tidak, akan dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti yang sekarang di hadapi bangsa ini. Seperti korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghormati hak-hak orang lain, adalah bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme itu. Contoh konkrit terjadinya tragedi pembunuhan besar-besaran terhadap pengikut partai PKI pada tahun 1965 kekerasan etnis china di Jakarta pada bulan mei 1998 dan perang antara islam dan Kristen di maluku utara pada tahun 1999-2003.
Berdasarkan permasalhan seperti diatas maka pendidikan multikulturalisme menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat. Khususnya yang ada pada siswa seperti: keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan umur dan ras. Walaupun pendidikan multikultural merupakan fenomena yang relatif baru di dalam dunia pendidikan.
Sebelum perang dunia II boleh dikatakan pendidikan multikultural belum di kenal. Malahan pendidikan dijadikan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan yang memonopoli sistem pendidikan untuk kelompok atau golongan tertentu. Dengan kata lain pendidikan nultikultural merupakan gejala baru di dalam pergaulan umat manusia yang mendambakan persamaan hak, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama untuk semua orang. Dalam penerapan strategi dan konsep pendidikan multikultural yang terpenting dalam strategi pendidikan ini tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang di pelajari, akan tetapi juga akan meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berprilaku humanis, pluralis, dan demokratis. Begitu juga dengan seorang guru yang tidak
hanya dituntut untuk menguasai materi secara professional tetapi harus juga mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme. dan Pluralisme.
Wacana pendidikan multikultural sebagai salah satu isu yang mencuat kepermukaan di era globalisasi seperti saat ini mengandaikan, bahwa pendidikan sebagai ruang transformasi budaya hendaknya selalu mengedepankan wawasan multikultural, bukan monokultural. Untuk memperbaiki kekurangan dan kegagalan, serta membongkar praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan.sebagaimana yang masih kita ketahui peranginya dalam dunia pendidikan nasional kita, bahkan hingga saat ini.
Dalam konteks in, pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif, pendekatan ini sejalan dengan prinsif penyelenggaraan pendidikan yang termaktub dalam undang-undang dan sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) tahun 2003 pasal 4 ayat 1, yang berbunyi bahwa pendidikan nasional diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), nilai keagamaan, nilai kultur, dan kemajemukan bangsa.
Pendidikan multikultural juga didasarkan pada keadilan sosial dan persamaan hak dalam pendidikan. Dalam doktrin islam, ada ajaran bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan etnis, ras, dan lain sebagainnya. Manusia sama, yang membedakaanya adalah ketaqwaan mereka kepada Allah SWT. Dalam kaitannya dengan pendidikan multikultural, hal ini mencerminkan bagaimana tingginnya penghargaan islam terhadap ilmu pengetahuan, dalam islam tidak ada pembedaan dan atau pembatasan diantara manusia dalam haknya untuk menuntut atau memperoleh ilmu pengetahuan.
Wajah monokulturalisme di dunia pendidikan kita masih kentara sekali bila kita tilik dari berbagai dimensi pendidikan. Mulai dari kurikulum, materi pelajaran, hingga metode pengajaran yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar (PBM) di ruang kelas.hinga penggalan-penggalan terakhir dari abad ke-20 sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia masih di domonasi oleh pendekatan keseragaman (Etatisme) lengkap dengan kekuasaan birokrasi yang ketat, bahkan otoriter. Dalam kondisi seperti itu, tuntunan dari dalam dan luar negri akan pendekatan yang semakin beragam dan demokratis terus mendesak dan perlu di implementasikan.
Dalam wacan pendidikan multikultural banyak dilakukan berbagai macam cara diantaranya di adakan loka karya, seminar-seminar di sekolah-sekolah, maupun di masyarakat luas, untuk meningkatkan kepekaan sosial, toleransi, dan mengurangi prasangka antar kelompok.
Untuk mewujudkan model-model tersebut, maka pendidikan multikultural di Indonesia perlu mempertimbangkan kombinasi model yang ada, agar seperti yang diajukan Groski, pendidikan multikultural dapat mencakup tiga hal jenis transformasi yaitu, transformasi diri, transformasi sekolah dan proses belajar mengajar serta transformasi masyarakat.
Dengan menggunakan berbagai macam cara dan strategi pendidikan serta mengimplementasikannya yang mempunyai visi misi yang selalu menegakan dan menghargai pluralisme, demokrasi, dan humanisme. di harapkan para genersi penerus menjadi “ Generasi Multikultural” yang menghargai perbedaan, selalu menegakan nilai-nilai demokrasi, keadilan dan kemanusian yang akan dating.

2.      Rumusan Masalah

Setiap masalah merupakan suatu problem yang memerlukan pemecahaan agar arah dan tujuan penelitian dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini senada dengan dengan pendapat Suharsini Arikunto bahwa masalah merupakan bagian “kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan, orang lain mengadakan penelitian, karena ia mendapatkan jawaban yang dihadapinnya.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil suatu pengertian, bahwa masalah adalah sesuatu yang menjadi sasaran penelitian yang perlu dipecahkan melalui proses penelitian.
Berpangkal pada latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat merumuskan penelitian ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep pendidikan multikulturalisme di Indonesia
2.      Seberapa jauh signifikansi konsep pendidikan multikulturalisme dalam problematika pendidikan

3.      Tujuan Penelitian

1.      Ingin mengetahui seberapa jauh konsep pendidikan multikultural yang diterapkan di Indonesia.
2.      Ingin mengetahui seberapa jauh signifikansi konsep pendidikan multikultural dalam problematika pendidikan.

4.      Kegunaan Penelitian

Dari kerangka pemikiran diatas, ada beberapa kegunaan yang penulis harapkan dalam penelitian.
1.      Untuk melengkapi tugas-tugas dan persyaratan dalam menempuh gelar sarjana PAI pada fakultas tarbiyah IAIT Kediri.
2.      Untuk mendapat landasan dan pijakan yang konkrit dalam rangka merumuskan tujuan penelitian.
3.      Sbagai khasanah disiplin ilmu pendidikan bagi fakultas tarbiyah dalam melangsungkan kegiatan penndidikan.


5.      Metode Penelitian dan Sumber data

Data- data yang diperlukan dalam sebuah penelitian ini adalah hal-hal yag berkaitan dengan sebuah pemikiran tentang pendidikan kemudian dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian Library Reseach (Riset Kepustakaan) sebagai metode pengumpulan data dengan membaca dan menelaah literatur-literatur yang berhubungan dengan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan di atas. Untuk sumber primer penulis menggunakan buku Multikulturalisme tantangan-tantangan global masa depan dalam transformasi pendidikan nasional, yang di tulis oleh: H.A.R. Tilaar. Sedangkan sebagai sumber sekunder penulis menggunakan berbagai literatur dari buku, najalah, internet dan media-media lain yang berhubungan dengan rumusan masalah tersebut diatas. Bahan-bahan itu penulis jadikan sebagai bahan yang melengkapi, agar penulis ini lebih dalam dan obyektif.

6.      Definisi Istilah

Sesuai dengan judul penulis ajukan, agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami judul skripsi ini maka penulis jelaskan beberapa istilah untuk menyamakan pemahaman dalam judul skripsi ini yaitu: “Konsep Pendidikan Multikulturalisme dalam merespon tantangan globalisasi”

1. Konsep Pendidikan : Suatu ide atau gagasan proses perubahan sikap dan tata laku seseorang kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upanya pengajaran dan pelatihan.
2. Multikultura : Keanekaragaman kebudayaan dalam suatu komunitas atau bangsa.















7.      Sistematika Pembahasan

Untuk mencapai pembahasan yang sistematis dalam penelitian ini, maka perlu diberi gambaran secara singkat tentang sistematika pembahasan judul skripsi ini. Adapun sistematika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari: Latar belakang Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Metode Penelitian dan Sumber data, Sistematika Penulisan.
BAB II : Epistemologi multikulturalisme.
: Multikulturalisme dan tantangan-tantangan global masa depan.
BAB III : Menakar Konsep Pendidikan Multikultural di Indonesi
: Transformasi Pendidikan Multikultural dalam Pendidikan Nasional.
BAB IV : Berisi uraian masalah secara rinci, alternatif pemecahan masalah, dan pemecahan masalahnya.
BAB V : Penutup yang terdiri dari : Kesimpulan dan Saran-Saran.
























DAFTAR PUSTAKA

o    Mahfud Choerul, Pendidikan Multikultural, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2006.
o    Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural, Yogyakarta : Pilar Media, 2005.
o    H.A.R.Tilaar, Multikulturalisme tantangan-tantangan global masa depan dalam transformasi pendidikan nasional, Jakarta : Grasindo, 2004.
o    Suharto, Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta : Ar-ruz Media, 2006.
o    Arifin Thoha, Zaenal, Kenyelenehan Gusdur, Gama Media, 2005.
o    A. Partanto, Pius dan Al Bari, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Arloka, 2001.
o    Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta ; Balai Pustaka, 1996.
o    Saala Saiful, H, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung, Alfa Beta, 2006.
o    Idris, Jamaluddin, Kompilasi Pemikiran Pendidikan, Yogyakarta: Taufiqiyah Sa’adah, 2005.
o    Fadjar Malik, Holistika Pendidikan.
o    Yunus Firdaus, M, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, Yogyakarta, Logung Pustaka, 2005.


Tidak ada komentar:

Read more: http://www.bloggerafif.com/2011/03/membuat-recent-comment-pada-blog.html#ixzz1M3tmAphZ