KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
DALAM MERESPON TANTANGAN GLOBALISASI
Analisis Pemikiran H.A.R Tilaar
USULAN PENELITIAN
PENELITI
Muhammad Thoif Maulana
NPM: 03 01 0 3477

INSTITUT AGAMA
ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS
TARBIYAH
PROGRAM STUDY PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
MARET 2007
KONSEP PENDIDIKAN
MULTIKULTURAL
DALAM MERESPON TANTANGAN GLOBALISASI
Analisis Pemikiran H.A.R Tilaar
1.
Latar Belakang Masalah
Indonesia
adalah salah satu Negara yang multikultural terbesar di dunia, kebenaran dari
peryataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio kultural maupun geografis yang
begitu beragam dan luas. Dengan jumlah yang ada di wilayah NKRI sekitar kurang
lebih 13.000 pulau besar dan kecil, dan jumlah penduduk kurang lebih 200 juta
jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda.
Selain itu juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti islam,
katholik, Kristen protestan, hindu, budha, konghucu, serta berbagai macam
kepercayaan.
Keragaman
ini diakui atau tidak, akan dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti yang
sekarang di hadapi bangsa ini. Seperti korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme,
perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan,
dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghormati hak-hak orang lain,
adalah bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme itu. Contoh konkrit
terjadinya tragedi pembunuhan besar-besaran terhadap pengikut partai PKI pada
tahun 1965 kekerasan etnis china di Jakarta pada bulan mei 1998 dan perang
antara islam dan Kristen di maluku utara pada tahun 1999-2003.
Berdasarkan
permasalhan seperti diatas maka pendidikan multikulturalisme menawarkan satu
alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis
pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat. Khususnya yang ada pada siswa
seperti: keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender,
kemampuan umur dan ras. Walaupun pendidikan multikultural merupakan fenomena
yang relatif baru di dalam dunia pendidikan.
Sebelum
perang dunia II boleh dikatakan pendidikan multikultural belum di kenal.
Malahan pendidikan dijadikan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan
yang memonopoli sistem pendidikan untuk kelompok atau golongan tertentu. Dengan
kata lain pendidikan nultikultural merupakan gejala baru di dalam pergaulan
umat manusia yang mendambakan persamaan hak, termasuk hak untuk mendapatkan
pendidikan yang sama untuk semua orang. Dalam penerapan strategi dan konsep
pendidikan multikultural yang terpenting dalam strategi pendidikan ini tidak
hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang di pelajari,
akan tetapi juga akan meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berprilaku
humanis, pluralis, dan demokratis. Begitu juga dengan seorang guru yang tidak
hanya dituntut untuk menguasai materi secara
professional tetapi harus juga mampu menanamkan nilai-nilai inti dari
pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme. dan Pluralisme.
Wacana
pendidikan multikultural sebagai salah satu isu yang mencuat kepermukaan di era
globalisasi seperti saat ini mengandaikan, bahwa pendidikan sebagai ruang
transformasi budaya hendaknya selalu mengedepankan wawasan multikultural, bukan
monokultural. Untuk memperbaiki kekurangan dan kegagalan, serta membongkar praktik-praktik
diskriminatif dalam proses pendidikan.sebagaimana yang masih kita ketahui
peranginya dalam dunia pendidikan nasional kita, bahkan hingga saat ini.
Dalam
konteks in, pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif, pendekatan
ini sejalan dengan prinsif penyelenggaraan pendidikan yang termaktub dalam
undang-undang dan sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) tahun 2003 pasal 4
ayat 1, yang berbunyi bahwa pendidikan nasional diselenggarakan secara
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi
hak asasi manusia (HAM), nilai keagamaan, nilai kultur, dan kemajemukan bangsa.
Pendidikan
multikultural juga didasarkan pada keadilan sosial dan persamaan hak dalam
pendidikan. Dalam doktrin islam, ada ajaran bahwa kita tidak boleh
membeda-bedakan etnis, ras, dan lain sebagainnya. Manusia sama, yang
membedakaanya adalah ketaqwaan mereka kepada Allah SWT. Dalam kaitannya dengan
pendidikan multikultural, hal ini mencerminkan bagaimana tingginnya penghargaan
islam terhadap ilmu pengetahuan, dalam islam tidak ada pembedaan dan atau
pembatasan diantara manusia dalam haknya untuk menuntut atau memperoleh ilmu
pengetahuan.
Wajah
monokulturalisme di dunia pendidikan kita masih kentara sekali bila kita tilik
dari berbagai dimensi pendidikan. Mulai dari kurikulum, materi pelajaran,
hingga metode pengajaran yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar
mengajar (PBM) di ruang kelas.hinga penggalan-penggalan terakhir dari abad
ke-20 sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia masih di domonasi oleh
pendekatan keseragaman (Etatisme) lengkap dengan kekuasaan birokrasi yang
ketat, bahkan otoriter. Dalam kondisi seperti itu, tuntunan dari dalam dan luar
negri akan pendekatan yang semakin beragam dan demokratis terus mendesak dan
perlu di implementasikan.
Dalam
wacan pendidikan multikultural banyak dilakukan berbagai macam cara diantaranya
di adakan loka karya, seminar-seminar di sekolah-sekolah, maupun di masyarakat
luas, untuk meningkatkan kepekaan sosial, toleransi, dan mengurangi prasangka
antar kelompok.
Untuk
mewujudkan model-model tersebut, maka pendidikan multikultural di Indonesia
perlu mempertimbangkan kombinasi model yang ada, agar seperti yang diajukan
Groski, pendidikan multikultural dapat mencakup tiga hal jenis transformasi
yaitu, transformasi diri, transformasi sekolah dan proses belajar mengajar
serta transformasi masyarakat.
Dengan
menggunakan berbagai macam cara dan strategi pendidikan serta
mengimplementasikannya yang mempunyai visi misi yang selalu menegakan dan
menghargai pluralisme, demokrasi, dan humanisme. di harapkan para genersi
penerus menjadi “ Generasi Multikultural” yang menghargai perbedaan, selalu
menegakan nilai-nilai demokrasi, keadilan dan kemanusian yang akan dating.
2.
Rumusan Masalah
Setiap
masalah merupakan suatu problem yang memerlukan pemecahaan agar arah dan tujuan
penelitian dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini senada dengan
dengan pendapat Suharsini Arikunto bahwa masalah merupakan bagian “kebutuhan”
seseorang untuk dipecahkan, orang lain mengadakan penelitian, karena ia
mendapatkan jawaban yang dihadapinnya.
Berdasarkan
pendapat diatas dapat diambil suatu pengertian, bahwa masalah adalah sesuatu
yang menjadi sasaran penelitian yang perlu dipecahkan melalui proses
penelitian.
Berpangkal
pada latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat merumuskan penelitian
ini sebagai berikut:
1.
Bagaimana konsep pendidikan
multikulturalisme di Indonesia
2.
Seberapa jauh signifikansi
konsep pendidikan multikulturalisme dalam problematika pendidikan
3.
Tujuan Penelitian
1.
Ingin mengetahui seberapa jauh
konsep pendidikan multikultural yang diterapkan di Indonesia.
2.
Ingin mengetahui seberapa jauh
signifikansi konsep pendidikan multikultural dalam problematika pendidikan.
4.
Kegunaan Penelitian
Dari
kerangka pemikiran diatas, ada beberapa kegunaan yang penulis harapkan dalam
penelitian.
1.
Untuk melengkapi tugas-tugas
dan persyaratan dalam menempuh gelar sarjana PAI pada fakultas tarbiyah IAIT
Kediri.
2.
Untuk mendapat landasan dan
pijakan yang konkrit dalam rangka merumuskan tujuan penelitian.
3.
Sbagai khasanah disiplin ilmu
pendidikan bagi fakultas tarbiyah dalam melangsungkan kegiatan penndidikan.
5.
Metode Penelitian dan Sumber
data
Data-
data yang diperlukan dalam sebuah penelitian ini adalah hal-hal yag berkaitan
dengan sebuah pemikiran tentang pendidikan kemudian dalam penelitian ini
penulis menggunakan metode penelitian Library Reseach (Riset Kepustakaan)
sebagai metode pengumpulan data dengan membaca dan menelaah literatur-literatur
yang berhubungan dengan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan di
atas. Untuk sumber primer penulis menggunakan buku Multikulturalisme
tantangan-tantangan global masa depan dalam transformasi pendidikan nasional,
yang di tulis oleh: H.A.R. Tilaar. Sedangkan sebagai sumber sekunder penulis
menggunakan berbagai literatur dari buku, najalah, internet dan media-media
lain yang berhubungan dengan rumusan masalah tersebut diatas. Bahan-bahan itu
penulis jadikan sebagai bahan yang melengkapi, agar penulis ini lebih dalam dan
obyektif.
6.
Definisi Istilah
Sesuai
dengan judul penulis ajukan, agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami
judul skripsi ini maka penulis jelaskan beberapa istilah untuk menyamakan
pemahaman dalam judul skripsi ini yaitu: “Konsep Pendidikan
Multikulturalisme dalam merespon tantangan globalisasi”
1. Konsep Pendidikan : Suatu ide atau gagasan proses perubahan sikap
dan tata laku seseorang kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upanya pengajaran dan pelatihan.
2. Multikultura : Keanekaragaman kebudayaan dalam suatu komunitas
atau bangsa.
7.
Sistematika Pembahasan
Untuk
mencapai pembahasan yang sistematis dalam penelitian ini, maka perlu diberi
gambaran secara singkat tentang sistematika pembahasan judul skripsi ini.
Adapun sistematika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari: Latar belakang Masalah,
Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Metode Penelitian dan Sumber data,
Sistematika Penulisan.
BAB II : Epistemologi multikulturalisme.
: Multikulturalisme dan tantangan-tantangan global masa depan.
BAB III : Menakar Konsep Pendidikan Multikultural di Indonesi
: Transformasi Pendidikan Multikultural dalam Pendidikan Nasional.
BAB IV : Berisi uraian masalah secara rinci, alternatif pemecahan
masalah, dan pemecahan masalahnya.
BAB V : Penutup yang terdiri dari : Kesimpulan dan Saran-Saran.
DAFTAR PUSTAKA
o
Mahfud Choerul, Pendidikan
Multikultural, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2006.
o
Ainul Yaqin, Pendidikan
Multikultural, Yogyakarta : Pilar Media, 2005.
o
H.A.R.Tilaar, Multikulturalisme
tantangan-tantangan global masa depan dalam transformasi pendidikan nasional,
Jakarta : Grasindo, 2004.
o
Suharto, Toto, Filsafat
Pendidikan Islam, Yogyakarta : Ar-ruz Media, 2006.
o
Arifin Thoha, Zaenal, Kenyelenehan
Gusdur, Gama Media, 2005.
o
A. Partanto, Pius dan Al Bari,
M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Arloka, 2001.
o
Depertemen Pendidikan Dan
Kebudayaan, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jakarta ; Balai Pustaka,
1996.
o
Saala Saiful, H, Administrasi
Pendidikan Kontemporer, Bandung, Alfa Beta, 2006.
o
Idris, Jamaluddin, Kompilasi
Pemikiran Pendidikan, Yogyakarta: Taufiqiyah Sa’adah, 2005.
o
Fadjar Malik, Holistika
Pendidikan.
o
Yunus Firdaus, M, Pendidikan
Berbasis Realitas Sosial, Yogyakarta, Logung Pustaka, 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar